oleh

Esai: Semarak DKT di Festival Cisadane 2019 Meredup

LENSAPENA“Cisadane merupakan sungai yang membelah Kota Tangerang, yang memiliki fungsi multidimensi bagi kehidupan masyarakat, sehingga harus dijaga kelestariannya. Pada sisi lain, penyelenggaraan Festival Cisadane ini dimaksudkan untuk menggali dan kemudian memberdayakan secara optimal potensi-potensi ekonomi, sosial, budaya, dan kesenian yang ada di Kota Tangerang.”

Itulah selarik sambutan Wali Kota Tangerang, Wahidin Halim, dalam acara pembukaan Festival Cisadane, Sabtu 11 Juni 2005, di Bantaran Kali Cisadane, Jalan Benteng Jaya, Kota Tangerang. Sambutan Wali Kota yang sekarang menjabat sebagai Gubernur Banten ini, terangkum dalam dokumen Jurnal Kesenian Cisadane Nomor 1 Juni 2005, pada halaman kedua setelah daftar isi.

Dalam Jurnal Kesenian Cisadane ini, menulis judul “Festival Cisadane 2005: Menata Relasi Kesenian dan Pariwisata”. Jurnal yang dimotori oleh Dinas Perindustrian, Pedagangan, Koperasi dan Pariwisata (Disperindagkopar) Kota Tangerang dengan Dewan Kesenian Tangerang (DKT) kala itu, adalah wujud harmonisasi Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang dengan para praktisi dan pelaku seni, yang dalam hal ini Seniman DKT.

Pada tahun 2019 ini, kegiatan tahunan Festival Cisadane akan kembali digelar mulai 27 Juli 2019 mendatang. Dengan digelarnya peristiwa budaya di Kota Tangerang Juli 2019 ini, berarti, genap sudah 19 tahun perhelatan budaya tahunan yang disebut Festival Cisadane itu tak lagi melibatkan Dewan Kesenian Kota Tangerang. Dan, dalam kurun waktu 19 tahun itu pula, harmonisasi Pemkot Tangerang dengan DKT dalam menghelat Festival Cisadane mulai redup, samar, bahkan tak terlihat lagi.

Amleng, tak nampak lagi (DKT) dalam bingkai Pemerintahan Kota Tangerang di ajang Festival Cisadane itu. Padahal, oleh Wahidin Halim kala itu, seniman dan budayawan (DKT) diharapkan bisa menggali, serta meningkatkan potensi dalam karya nyata. Kini, entah tersandera oleh siapa, dan entah disembunyikan dimana?

Dalam dokumen Jurnal Kesenian Cisadane Nomor 1 Juni 2005 ini juga memaparkan, sebelum Festival Cisadane digelar, disambut dengan riuh kegiatan yang dimotori oleh DKT dan Pemkot Tangerang: mulai dari Semiloka “Potensi Budaya dan Pariwisata Kota Tangerang”, Festival Teater Remaja, dan Sayembara Menulis Puisi tentang Sungai.

Bagaimana dengan event Festival Cisadane 2019?

Ehem, Dewan Kesenian Tangerang (DKT) sebagai salah satu sentral berkumpulnya para seniman di Kota Tangerang ini, sepi. Omong-punya omong, katanya tak ada basa-basi dari Pemkot Tangerang untuk mengajaknya ambil bagian dalam ajang ini.

Apakah ada unsur ‘sentimen, antara pemangku kebijakan dengan para pelaku seni dan pengelola dewan kesenian? Atau ada cara lain yang akan dilakukan oleh Pemkot Tangerang dalam menghidupkan dan meramaikan kembali seniman-seniman yang ada di dewan kesenian? Atau, memang karena berbagai kesibukan membenahi Kota Tangerang menjadi Kota Cerdas dengan seribu taman di setiap sudut kota, sehingga DKT tidak tersentuh?

Semua kita kembalikan kepada sikap bijak para pemangku kebijakan: bagaimana agar Dewan Kesenian Tangerang (DKT) kembali seperti di tahun 2005, dimana sinergitas dan ‘kekuguyaban’ DKT dengan Pemkot Tangerang kembali rukun dalam membangun seni dan budaya, dan terimplementasi kembali dalam Festival Cisadane.

Widi Hatmoko
Pemerhati Budaya di Tangerang

Banner IDwebhost
Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE