M. Yusuf Sholikhoddin al Khattath Digelari Mujaz-mujiz

LENSAPENA – Khat merupakan tulisan Arab indah yang memiliki qoidah yang benar. Khot ataupun yang sering disebut seni kaligrafi Islam dapat dipelajari setiap anak Adam dan Hawa. Bisa menulis khat bukan bawaan dari lahir, karena sejak lahir manusia tidak membawa apa-apa kecuali jasad dan ruh. Tidak ada bayi lahir membawa buku ilmu pengetahuan, pena/spidol. Kemampuan menulis khat tidak hanya diperuntukan bagi yang memiliki talenta, tetapi siapapun bisa mempelajarinya asal tekun dan sungguh-sungguh.

Bagi Muhammad Yusuf Sholikhoddin bakat dan talenta tidak menjadi ukuran seseorang menguasai salah satu bidang tertentu. Menurut ustaz pengajar khat di Ponpes Manahijussadat Lebak Banten ini, asal ada kemauan dan kesungguhan siapapun bisa mengasah kemampuan. Yusuf, begitu sapaan akrab pria kelahiran Lamongan Jawa Timur, mulai tertarik menulis khot sejak duduk di kelas 3 extention KMI Ponpes Darusalam Gontor. Kendati pernah merasa minder lantaran tulisan khot-nya tidak bagus, tetapi tak mematahkan semangat dan ketekunannya belajar kaligrafi Islam.

“Saat itu tulisan arab saya jelek sekali, susah dibaca sekalipun oleh jin Arab,” katanya sambil bercanda.

Menyadari tulisan Arabnya tidak bagus, Yusuf akhirnya bertekad mencari guru khat. Pada 11 Agustus 2015 menjelang petang alumni Gontor lulusan 2018 ini melangkahkan kakinya ke rumah sang guru ustaz Muhammad Nur Lc MA al-Khattath.

“Selama 2 bulan 30 hari saya belajar khat riq’ah bersama ustaz Mummad Nur Al-Khattath,” tuturnya.

Saat itu Yusuf termasuk murid paling tercepat dalam menyelesaikan khat riq’ah. Dari ilmu yang timbanya itu dia menulis karya dan ijazah. Namun lagi-lagi pria kelahiran 5 Juni 1999 mulai putus asa karena ternyata menulis ijazah tidak semudah membalikkan tangan. Menurut Yusuf, menulis ijazah itu harus teliti. Jika salah penempatan titik harus menggulang tulisannya. Yusuf juga pernah menulis lebih dari 15 kali ukuran setengah karton dengan ukuran pena 2 hingga 3 mili dan ditulis di kertas muqohar, kertas khusus buatan India seharga Rp 200 ribu 1 lembarnya.

Kegigihannya belajar menulis khat, membuat Yusuf takhenti berkarya. Semangat dan ketekunanya bergelut di dunia kaligrafi akhirnya menuai berkah. Syaikh Prof. Belaid Hamidi dari Maroko Juri Internasional kaligrafi Research Centre for Islamic History Art and Culture (IRCICA) penulis 8 kali Alquran, meresmikan dan memberi ijazah kepada Yusuf yang disaksiksan langsung oleh 2000 santri di Ponpes Darusalam Gontor.

Setelah mengantongi ijazah, Yusuf kemudian resmi menyandang gelar Al-Khattah. Dengan gelar yang disematkan di belakang namanya itu, ada adab yang harus ditaati bagi yang sudah menerima ijazah yaitu menjaga nama baik gurunya dan mengamalkan ilmunya.

Seiring perjalanan waktu tanpa disadari, kini Yusuf kebanjiran murid yang hendak berguru kepadanya. Bahkan pada 9 Agustus 2015 pria bertubuh tidak tinggi ini sudah memberikan ijazah khat riq’ah kepada muridnya dari lombok yang disahkan di Surabaya oleh Prof Belaid Hamidi yang dihadiri Ketua Asosiasi Kaligrafi Arab Saudi Syaikh Abdullah Abdu Futhini al Khattath. Atas dedikasinya mengamalkan ilmu khat, Muhammad Sholikhoddin al Khattath dianugerahi gelar Mujas-Mujis (mendapatkan ijazah dan memberi ijazah).

Metode sanad
Yusuf juga membeberkan tentang metode pembelajaran ilmu khat yaitu menggunakan metode sanad. Menurut, dia, metode sanad merupakan pembelajaran dengan cara talaqqi atau belajar dengan cara face to face, yaitu santri langsung datang kepada guru dan menimbah ilmu darinya.

“Contoh sanad khot itu begini, Abas bin Amir al khattath (pendiri markas khot di Pacitan Jawa Timur) murid saya. Saya murid dari Muhammad Nur Lc.MA al khattath (juri Asean kaligrafi, pendiri markas khot Darussalam Gontor) murid dari syaikh Prof Belaid Hamidi (juri Internasianal ircica Istanbul Turki penulis 8 mushaf Alquran pencetus metode Manhaj Hamidi (Maroko) murid dari Syaikh Yusuf Dzannun (Turki),” terang Yusuf saat ditanya metode sanad.

Di zaman globalisasi ini Yusuf berharap agar dipertahankan ilmu khat klasik yang mulai punah terkikis oleh perkembangan teknologi. Ilmu Islam dengan cara sanad harus diperjuangkan dan dipertahankan. Dangan cara itu guru bertanggung jawab penuh dengan ilmu yang diajarkanya dan diberikan ijazah kepada muridnya apabila telah mengguasai ilmu yang diberikan oleh sang guru dan berhak menggajarkan ilmunya kepada orang lain.

“Ada tiga kunci mendapatkan ijazah. Kunci yang pertama sabar, kedua, istiqomah dan ketiga, guru yang ahli khat klasik dan memiliki sanad khat serta berhak memberi ijazah,” ungkap pria penyuka olah raga badminton.

Gito Waluyo

Penulis: 
    author