Teknologi Digital Sarana Atasi Kemiskinan di Pedesaan

LENSAPENA – Kemajuan teknologi harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat, termasuk mayoritas rakyat yang hidup di perdesaan. Hal tersebut, sejalan dengan kemauan politik Pemerintahan Presiden Joko Widodo, yaitu untuk mengembangkan kawasan perdesaan demi kesejahteraan masyarakat desa.

Tekad tersebut harus sejalan dengan harapan, bahwa RAPBN 2020 harus dapat mengurangi kemiskinan. Dalam hubungan tersebut, dana desa dan bantuan modal untuk pengusaha mikro, kecil, dan menengah harus tepat sasaran. Akses permodalan untuk penduduk miskin harus terbuka lebar.

Disparitas kemiskinan yang tinggi antara perkotaan dan perdesaan harus dikurangi, sebab mayoritas penduduk miskin ada di desa dan sebagian daripadanya di sektor pertanian. Setidaknya seperti itulah rangkuman diskusi yang berlangsung di Saung Ilmu yang diselenggarakan oleh Forum Kebhinnekaan belum lama ini.

Pengamat Masalah Sosial Ekonomi Gusti Arkananda menuturkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, kemiskinan di Indonesia per Maret 2019 sebesar 9,41 persen atau sebanyak 25,14 juta orang. Tingkat kemiskinan di perdesaan sebesar 12,85 persen nyaris dua kali lipat dari perkotaan yang 6,69 persen.

”Ketimpangan di perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di perdesaan, karena kesenjangan terhadap akses permodalan yang dalam. Hal ini dapat diatasi dengan penguatan pemanfaatan teknologi digital yang membuka akses permodalan bagi siapa saja. Teknologi digital juga dapat mengatasi ketimpangan dan kemiskinan di perdesaan,” katanya.

Dana desa dan teknologi digital, menurut dia, bisa dioptimalkan untuk mengatasi ketimpangan dan kemiskinan, karena dapat membuka akses permodalan dan kesempatan kerja yang berdampak pada penduduk miskin.

”Peningkatan kuantitas dan kualitas lapangan kerja lebih bisa mempertahankan kesejahteraan dibandingkan pendekatan subsidi atau bantuan. Hal itu, antara lain pemanfaatan dana desa untuk program padat karya, seperti pembangunan jalan desa dan irigasi pertanian. Program itu sangat bermanfaat, terutama di luar masa tanam dan panen pertanian atau perkebunan,” tuturnya.

Ia menambahkan, selain untuk membangun infrastruktur, dana desa dapat juga dimanfaatkan untuk memberdayakan institusi perdesaan dan yang lebih penting, program tersebut, jauh lebih mendidik dan baik bagi pembinaan karakter masyarakat, agar mereka tidak manja dan bergantung pada subsidi atau bantuan pemerintah maupun pihak ketiga.

Gito Waluyo

Penulis: 
    author