oleh

‘Bleketepe’ dan Makna Pernikahan dalam Adat Jawa

Banner IDwebhost

LENSAPENA – Di tengah hiruk pikuk Kota Seribu Pabrik, ternyata tak membuat budaya kearifan lokal hilang begitu saja. Tradisi siraman dalam pengantin adat Jawa masih menjadi bagian kearifan lokal yang masih tetap dipertahankan.

Itulah yang dilakukan dalam prosesi pernikahan pasangan Ahmad Sofiyan dengan Tiya Puji Mahesti, warga Kompleks Mekarasri 2, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang. Satu hari menjelang akad nikah, Sabtu 3 Agustus 2019, pasangan ini mengikuti prosesi siraman.

“Kita memang masih menggunakan adat dan tradisi Jawa. Karena, selain melestarikan budaya kearifan lokal, khususnya adat dan budaya Jawa, ada nilai-nilai filosofi yang terkandung di dalamnya,” ujar Heri Sisyanto, orang tua pria mempelai perempuan, Tiya Puji Mahesti.

Ritual adat Jawa ini dimulai dengan pemasangan ‘bleketepe’ olah kedua orang tua mempelai perempuan. Bleketepe sendiri adalah anyaman dari daun pohon kelapa. Tradisi membuat blaketepe atau anyaman daun kelapa untuk dijadikan atap atau peneduh saat resepsi pernikahan. Bleketepe merupakan tradisi peninggalan dari Ki Ageng Tarub, salah satu leluhur raja-raja Mataram.

Saat mempunyai hajat menikahkan anaknya Dewi Nawangsih dengan Raden Bondan Kejawan, Ki Ageng membuat peneduh dari anyaman daun kelapa. Hal itu dilakukan karena rumah Ki Ageng yang kecil tidak dapat memuat semua tamu, sehingga tamu yang di luar Bleketepe biasa terbuat dari daun kelapa yang masih hijau dengan ukuran 50×200 cm.

Bleketepe yang dipasang mengelilingi area pernikahan merupakan perwujudan dari penyucian di kahyangan para dewa yang dinamakan Bale Katapi. Bale artinya tempat, sedangkan Katapi berasal dari kata tapi yang artinya memisahkan kotoran kemudian dibuang. Dengan demikian bleketepe artinya adalah orang tua pengantin yang mengajak pasangan pengantin untuk menyucikan diri.

Pemasangan bleketepe ini juga diiringi dengan acara pemasangan tuwuhan. Jika bleketepe artinya kerjasama antar orang tua dan calon pengantin, berbeda dengan tuwuhan. Makna tuwuhan adalah harapan orang tua kepada pengantin untuk segera dapat memperoleh keturunan.

Dalam tuwuhan terdiri dati pohon pisang raja yang buahnya sudah masak. Pilihan pisang raja memiliki filosofi bahwa pasangan pengantin ini kelak memiliki kemakmuran dan kemualiaan seperti para raja.

Kedua Tebu Wulung memiliki filosofi, diharapkan setelah memasuki jenjang pernikahan kedua mempelai memiliki jiwa bijaksana. Cengkir gadhing sebagai simbol kandungan, daun randu melambangkan sandang dan pangan dengan harapan mempelai dapat tercukupi kebutuhan sandang dan papannya. Dan terakhir adalah aneka dedaunan yang memiliki filosofi pasangan dalam menjalani pernikahan terbebad dari segala halangan.

Red/Widi

Komentar

News Update