Dibuai Harum Cengkeh, Pala, dan Kayu Manis di Lereng Jailolo

LENSAPENA – Adakah yang lebih rempah dari cengkeh, pala, dan kayu manis? Kami berada di bawah kerindangan pohon rempah itu di lereng gunung Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara, menjelang senja, akhir Juni lalu. Kami memetik pala, menggigit dan mengunyah dagingnya seperti menggigit apel. Rasanya pedas dan menyegarkan. Membuat rongga mulut terasa kesat semriwing. Kami memetik cengkeh dan membauinya. Kami mengupas batang kayu manis dan menghidu aromanya. Di sini tumbuh subur juga batang-batang pohon kelapa, pisang, dan pohon-pohon lain yang tak kami tahu namanya.

Kami melihat ibu-ibu memilih cengkeh yang dipetik suami dan anak laki-laki mereka. Memisahkan cengkeh dari tangkainya mereka sebut poga bulawa. Kami bergabung dan ikut membantu memilah cengkeh sambil ngobrol.

“Harga cengkeh sedang buruk. Perkilo hanya Rp80 ribu,” kata seorang bapak.

Kalau sedang bagus, harganya bisa mencapai Rp180 ribu perkilo,” ujar si bapak, menyahut pertanyaan kami penuh semangat

Rendahnya harga cengkeh disebabkan para petani cengkeh menanen pada waktu bersamaan sehingga persediaan rempah melimpah. Mereka menjual kepada pengepul untuk dikirim ke Surabaya. Selain untuk campuran rokok, cengkeh bisa jadi bumbu aneka masakan. Begitu juga pala dan tentu saja kayu manis. Kue-kue Lebaran maupun Natal dan kue hari besar lainnya tak pernah melewatkan cengkeh dan kayu manis untuk penyempurna aroma.

Kami merekam adegan percakapan itu. Kami juga meminta beberapa orang dari mereka memeragakan adegan bergelantungan di pohon memetik cengkeh. Utu’ bulawa, demikian orang Ternate menyebutnya. William Calvin, kepala desa Idamdehe Gamsungi, tampak senang kami sorot kamera menuturkan jenis-jenis cengkeh.

“Leluhur saya memang orang Portugis yang dulu datang ke Ternate,” terang lelaki pertengahan 30-an itu ketika kami tanya perihal nama dan tampangnya yang Portugis.

Jailolo Kitchen

Desa Idamdehe Gamsungi yang berada di lereng gunung Jailolo menjadi lokasi Kitchen Jailolo, salah satu mata acara dalam rangkaian program Festival Teluk Jailolo ke-11 tahun ini. Kitchen Jailolo menampilkan aneka karya kuliner Halmahera Barat. Mereka mendirikan tenda, panggung, serta meja kursi di lereng gunung. Semua memanfatkan batang-batang kayu pohon yang ada di sana, terutama enau dan batang kelapa. Ibu-ibu mengolah aneka kuliner di dapur untuk disuguhkan di kepada pengunjung yang datang. Sebagian mereka menari di panggung. Adakah yang lebih erotis dari perempuan-perempuan-dan laki-laki- yang memasak sambil menari?

Kami menghirup air jahe gula aren bertabur kacang tanah, mencemil popeda, dan pisang goreng yang dimasak dengan cara diiris tipis-tipis memanjang sehingga mirip keripik namun masih terjaga keempukan dagingnya. Sebelum disantap pisang dicocolkan dulu ke sambal. Sayangnya, kenapa mereka harus menamai acara ini ‘Jailolo Kitchen’, bukan Dapur Jailolo? Sayangnya lagi dan membuat saya sangat sedih, pengelolaan sampah dari acara ini kurang diperhatikan. Sampah-sampah plastik tampak berserakan. Orang dinas pariwisata yang saya tanya soal ini bahkan menggelengkan kepala.

Kami menikmati aneka hidangan itu sembari memandang perairan Halmahera yang mengelilingi pulau atawa gunung Jailolo. Mengutip deskripsi Seno Gumira Ajidarma dalam banyak cerpennya, permukaan laut tampak gemerlapan memantulkan cahaya matahari. Bila senja tiba cahaya berwarna tembaga menyepuh cakrawala dan nelayan yang mendayung perahu di bawah sana. Perlahan-lahan matahari tenggelam ke dasar laut menyisakan kepedihan. Hmm…

William menjelaskan aneka kuliner Halmahera Barat yang ditampilkan di Jailolo Kitchen. Saban hari selama sepekan Jailolo Kitchen menyajikan kuliner yang berbeda. Pada puncak perayaan mereka mendatangkan tujuh suku yang ada di Halmahera Barat untuk menyajikan kuliner khas suku masing-masing. Sayangnya lagi, kami tak sempat hadir saat perayaan puncak itu. Karena pada hari yang sama kami harus mengikuti Kirab Budaya, acara iring-iringan belasan suku yang ada di Halmahera Barat dengan pakaian adatnya masing-masing. Menyenangkan sekali melihat mereka-terutama kawanan bocah tertawa-tawa dalam balutan pakaian adat.

Setelah subuh mereka berkumpul di halaman Keraton Tagalaya, kediaman Sultan Jailolo. Tifa dan alat bebunyian adat lainnya mengalun. Di halaman keraton secara bergiliran setiap suku menampilkan tarian dan adat tradisi mereka. Kami menyelinap ke dalam keraton Tagalaya dan menemui Sultan Achmad Syam. Seorang lelaki menjelang 70 tahun berperawakan tinggi besar dan berpembawaan sangat santun namun terkesan rapuh. Gerak-geriknya bagi kami terlihat canggung dan kurang percaya diri. Suaranya terlalu lirih sehingga kami perlu meminta dia mengulang beberapa kata yang diucapkannya saat kami berbincang di dalam ruang utama keraton.

Sultan Achmad Sjam sangat bangga bahwa masyarakat Halmahera Barat menggenggam kuat adat dan tradisi mereka.

“Perbedaan ini bagi kami menjadi modal sosial untuk bersatu dan mempererat persaudaraan,” kata Sultan.

Dia turut sedih dengan perselisihan yang banyak terjadi di daerah lain di Indonesia, terutama Jakarta, yang dipantik perbedaan agama. Padahal agama manapun tak pernah mengajari umatnya berselisih. Kata Yuval Noah Harari, perseteruan antarsuku dan penganut agama yang mengakibatkan kerusuhan dan kelaparan di sejumlah belahan dunia memang diinginkan dan diupayakan para elit politik yang ingin mencari keuntungan dari situasi rusuh.

Iring-iringan Kirab Budaya dimulai dari Keraton Tagalaya menuju panggung utama Festival Teluk Jailolo, beberapa puluh meter dari Pelabuhan Jailolo. Sepanjang jalan yang naik turun suara tifa tak berhenti mengalun.  Di depan panggung di atas laut berlatar belakang pemandangan gugusan bukit, hamparan laut lengkap dengan hilir mudik pendayung, iring-iringan berkumpul dan satu persatu menampilkan atraksi. Tari Cakalele, Soya-soya, Sidangoli, Legu Lalai, bambu magis, dan tentu saja tarian Jailolo Cry, gubahan koregrafer cum maestro tari Eko Supriyanto.  

Aris Kurniawan

Penulis: 
    author