Esai: Kesataraan, Konservatisme, dan Soto Banjar

LENSAPENA – Saya menemukan dua fenomena yang bertolakan ketika ke Kalimantan Selatan, awal Juli lalu. Pertama adalah tingginya kesadaran remaja di daerah ini terhadap kesetaraan dan hak-hak perempuan. Fenomena kedua, maraknya pemakaian gamis (baju panjang khas Arab) yang dipakai para jemaah di masjid-masjid. Mengapa saya melihat dua fenomena ini sebagai dua hal yang bertolakan?

Begini, fenomena pertama merupakan cerminan progresifitas kaum perempuan. Bahwa kehadiran perempuan bukan sekadar pelengkap bagi laki-laki. Perempuan adalah individu yang harus dipandang sebagai dirinya sendiri. Perempuan memiliki hak dan tanggung jawab yang sama atas diri dan kehidupan sosial di sekitarnya. Kesadaran yang menuntut arena yang sama untuk bersaing secara sehat di ruang publik. Pemahaman ini tabu di mata kaum beragama konservatif.

Kaum konservatif tak pernah menganggap perempuan setara dengan laki-laki. Mereka senantiasa menempatkan perempuan dalam subordinasi laki-laki. Kondisi fisik perempuan yang secara umum lebih lemah dari laki-laki jadi salah satu alasan anggapan tersebut dengan dalih melindungi. Kisah penciptaan perempuan yang berasal dari tulang rusuk laki-laki makin menguatkan keyakinan semacam itu. Perempuan seakan terlahir untuk menemani laki-laki, semacam obat bagi kesepian manusia jenis lainnya.

Bagi kaum konservatif, perempuan berpendidikan tinggi dan bekerja di sektor publik adalah persoalan serius. Keluarnya perempuan dari ruang domestik dianggap menyalahi kodrat dan tujuan penciptaan yang mereka tafsirkan dari teks-teks agama. Karena itu kaum konservatif merasa bertanggung jawab untuk mengembalikan kaum perempuan ke dalam rumah.Sedangkan fenomena maraknya pemakaian gamis, lebih kurang merefleksikan kemacetan cara berpikir.

Gamis sebagai bagian dari budaya Arab dipandang sebagai ciri kesalehan menjadi seorang muslim, bahkan menjadi jalan menuju tingkat ketakawaan yang lebih tinggi. Apa saja yang datang dari Arab dianggap sebagai representasi Islam. Pemikiran ini berangkat dari pengagungan atau pemujaan berlebihan terhadap bangsa Arab. Cara berpikir yang memosisikan satu suku bangsa lebih tinggi dari bangsa lain. Islam sebagai agama yang mengusung semangat kesetaraan jelas menolak pandangan ini. Tanpa kesetaraan semangat keadilan yang diusung Islam sukar diwujudkan.

Bagaimana sesuatu yang bertolakan tumbuh di dalam pusaran ruang dan waktu yang sama, saya kira ini fenomena yang menarik diteliti lebih jauh. Tetapi secara sederhana bisa kita kemukakan bahwa fenomena maraknya pemakaian gamis lebih karena euphoria. Gejala psikologis anak-anak yang ingin menunjukkan dirinya bagian dari sebuah komunitas untuk memenuhi rasa aman tanpa betul-betul memahami esensi. Kasus sekawanan pelajar SMA di Jawa Barat yang pawai dengan mengusung bendera HTI, bisa disodorkan sebagia contoh lain.

Simpulan saya perihal tingginya kesadaran remaja di Kalimantan Selatan terhadap kesetaraan dan hak-hak perempuan berasal dari hasil kuisioner yang digelar di sebuah seminar di Banjarbaru. Dalam seminar yang pesertanya 300-an pelajar SMA itu, pemateri meminta peserta bersikap atas pernyataan, bahwa laki-laki dan perempuan setara; bahwa perempuan boleh menunda pernikahan demi pendidikan lebih tinggi; bahwa perempuan pun boleh bekerja di sektor publik. Hasilnya mencengangkan: hanya delapan dari 300 peserta yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut.

Angka riil ini lebih kurang dapat menjadi acuan untuk merepresentasikan kemajuan berpikir di kalangan anak-anak muda. Ini menjadi antithesis dari gerakan nikah muda, membentuk keluarga dan beranak-pinak. Seakan menikah muda satu-satunya cara menghindari perzinahan dan menyelamatkan ras manusia dari kepunahan.

Sedangkan meningkatnya popularitas baju gamis saya lihat dari maraknya jemaah memakai baju gamis saat beribah di masjid-masjid, terutama saat jumatan. Kain sarung sebagai kearifan lokal yang bersahaja dan serba guna, seperti kehilangan pamor. Sebangun dengan kasus terpinggirkannya kebaya oleh jilbab atau sekarang entah kenapa disebut hijab. Di Kalimantan Selatan ada yang dikenal Guru Sekumpul, tokoh ulama yang sangat dihormati. Guru sekumpul dan pengikutnya ini memang terlihat mengenakan gamis dalam setiap keesempatan. Di luar dua hal itu, tentu saja Banjarmasin menawarkan hal lain yang lebih menyenangkan, yaitu soto banjar. Saya mencecap rasa gurih dan segarnya soto banjar yang kaya rempah. Meskipun sebenarnya, hemat saya, tak ada yang terlalu istimewa dari soto banjar. Tak jauh beda dengan soto madura. Berbahan utama ayam dengan campuran rempah kayu manis, pala, dan cengkeh. Hanya saja kuahnya agak lebih keruh karena, bagi yang suka, kadang dicampur susu. Bila soto madura lazim untuk makan nasi, soto banjar dimakan bersama ketupat. Saya menyukai kuahnya yang tak kental lantaran tak menggunakan santan seperti halnya soto betawi.

Bumbu lainnya sama belaka dengan soto madura dan soto-soto dari daerah di Indonesia, seperti sambal, kecap, dan jeruk nipis. Perihal lontong, di Banjarmasin ini, mungkin karena pengaruh lahan gambut yang panas, nasi yang dihasilkan dari beras mereka tak pulen seperti nasi dari beras di Jawa. Nasi di Banjarmasin cenderung pera dan terasa hambar bila dimakan tanpa kuah. Jenis nasi yang cocok untuk diolah jadi nasi goreng. Saya tak tahu ada hubungannya atau tidak dengan isu kesetaraan, peracik dan pelayan soto banjar nyaris semuanya laki-laki.

Aris Kurniawan

Artikel Daerah Esai Wisata

Penulis: 
    author