oleh

“Lini Transisi” Tampilkan Karya Penting Milik Negara

LENSAPENA – Tema pameran “Lini Transisi” merujuk pada gagasan mengenai perubahan atau peralihan. Makna ‘peralihan’ di sini dipahami secara luas, terkait pada dua pokok persoalan penting dalam kajian seni rupa Indonesia selama ini, yaitu: dimensi paradigma estetik serta konteks sosio-kultural yang melatarbelakangi perkembangannya.

Secara umum, setiap karya seni rupa bisa dianggap mengandung konteks persoalan khas yang jadi latar belakang proses penciptaannya; atau dengan kata lain, karya-karya tersebut dianggap tengah merefleksikan situasi atau keadaan hidup (sosial-budaya) yang dialami atau dihadapi seorang seniman secara tertentu.

Dalam kerangka panafsiran yang lebih luas, Suwarno Wisetrotomo didampingi Rizki A. Zaelani, kurator Pameran Seni Rupa Koleksi Nasional #2 “Lini Transisi” menjelaskan, berbagai proses kreasi yang dilakukan oleh para seniman ini bisa dikenali sebagai sebuah gejala atau perspektif pemahaman yang bekerja di dalam suatu kerangka paradigma estetik tertentu —baik disadari mapun tidak disadari oleh seniman yang bersangkutan. Dengan demikian, para peneliti dan ahli seni bekerja tak hanya dengan maksud untuk mengkaji apa yang ditunjukkan gagasan para seniman melalui karya-karyanya (yang tersurat) tapi juga memahami makna-makna tersembunyi dari berbagai pokok persoalan yang ‘tidak’ ditunjukkannya (yang tersirat).

Sejarawan seni rupa Indonesia, M. Agus Burhan, menemukan lini-lini perkembangan paradigma estetik yang khas dalam pemahaman sejarah seni rupa Indonesia. Setiap paradigma ini ditemukan mewarnai kronologi kurun-kurun perkembangan seni rupa modern di Indonesia dari dulu hingga kini. Berlaku jadi semacam ‘prinsip pemahaman,’ setiap paradigma tersebut, pada praktiknya, berlangsung memberikan pengaruh kepada para seniman secara meluas, bahkan memengaruhi para seniman yang hidup di masa yang berbeda dari saat ketika paradigma esetetik tertentu diketemukan contoh-contoh hidupnya. Dalam hal ini, paradigma estetik bekerja berbeda dengan pamahaman paradigma sebagaimana dikenal dalam bidang sains dan teknologi —yang menganggap bahwa sebuah paradigma (prinsip pemahaman) yang ditemukan lebih ‘baru’ berfungsi menggantikan paradigma yang berlaku sebelumnya.

M. Agus Burhan menemukan paradigma Romantisisme-Eksotis pada masa awal perkembangan seni rupa modern di Indonesia sejak awal abad ke-20 hingga tahun 1930–an. Sejak tahun 1938 hingga tahun 1965, berlangsung paradigma estetik lain, yang berbeda, yang disebut sebagai Kontekstualisme-Kerakyatan yang berkembang semasa kekuasaan politik Orde Lama Indonesia. Selepas tahun 1966, atau semasa dimulainya kekuasaan politik era Orde Baru Indonesia, berkembang paradigma estetik yang disebut sebagai prinsip seni Humanisme-Universal yang berlangsung hingga penghujung tahun 1980–an. Berlakunya periode dari paradigma estetik tertentu menunjukkan sebuah kecenderungan umum ‘arus’ perkembangan seni rupa yang berlaku secara dominan. Namun dalam arus dominan tersebut terdapat juga tanda-tanda peristiwa penting lain yang berbeda, yang berlangsung ‘menyimpang‘ dibanding arus perkembangan yang terjadi dominan.

Prinsip Humanisme-Universal, misalnya, dalam praktiknya sebenarnya sudah mulai tumbuh sejak tahun 1950­–an, namun kecederungan itu terpaksa berkembang secara ‘terbatas’ akibat dominasi pengaruh prinsip Kontekstualisme-Kerakyatan yang berlaku sebagai paradigma. Sekitar tahun 1974 dan kemudian berlangung kembali sekitar tahun 1987, berkembang juga usaha ‘perlawanan’ estetik yang dilakukan para seniman muda terhadap prinsip Humanisme-Universal yang berlaku dominan. Perlawanan para seniman muda ini yang kini dipahami sebagai gejala pendahulu era seni rupa kontemporer atau proto-seni rupa kontemporer Indonesia.

“Pameran “Lini Transisi” ini membatasi penampilan karya-karya yang diciptakan para seniman Indonesia dari sejak tahun 1950–an hingga tahun 1980–an; dengan kata lain, materi pameran ini membatasi perkembangan karya-karya seni rupa sebelum dimulainya era seni rupa kontemporer Indonesia. Gagasan kuratorial “Lini Transisi” adalah cara untuk menemukan karya-karya yang menunjukkan tanda-tanda perubahan penting dalam perkembangan seni rupa Indonesia, khususnya di era peralihan rezim pemerintahan Indonesia yang berbeda selepas era kemerdekaan. Pun pameran ini tidak menampilkan karya-karya seni rupa kontemporer Indonesia yang dianggap para ahli sebagai perkembangan seni rupa yang lebih dekat pada kelangsungan era Reformasi Indonesia,” jelas Rizki A. Zaelani yang juga dosen di ITB.

Ia menambahkan, karya-karya yang ditampilkan pada pameran ini adalah hasil-hasil yang dikerjakan para seniman dengan cara atau intensi penciptaan yang tidak ‘biasa-biasa saja.’ Alur gagasan kuratorial ‘lini transisi’ mencoba mengembangkan semacam pembacaan terhadap wilayah tanda-tanda karya yang menunjukkan berbagai irisan, mengenai cara-cara: (a) untuk memahami alur sejarah seni rupa Indonesia melalui alur paradigma estetiknya; (b) untuk meraba konteks sosio-kultural yang melatarbelakangi proses penciptaan karya-karya tersebut; serta (c) untuk membayangkan konteks atau peristiwa sosio-kultural tertentu yang bisa dipahami melalui perspektif cara pandang para seniman yang unik serta imajinatif.

Para seniman adalah subjek para pencipta yang unik dan dengan cara mereka masing-masing mampu menemukan cara memandang dan memahami secara khas tentang dunia pengalaman dan realitas hidup manusia. Berbeda dengan cara pemahaman biasanya, yang umum, serta cenderung meyakini segala sesuatu secara buta, maka imajinasi para seniman justru adalah kemampuan unik yang memungkinkan dirinya mampu, sebagaimana dikatakan penyair Isak Dinesen, untuk ‘menemukan masa lalu dan mengingat masa depan.’

Suwarno Wisetrotomo pria berkacamata yang juga dosen ISI Yogyakarta dalam kuratorialnya menjelaskan, tak sama dengan asumsi kemampuan: ‘mengingat masa lalu untuk menemukan masa depan’, para seniman justru mampu ‘menemukan (kembali)’ pemahaman yang baru tentang masa lalu kita; lalu mengingatkan kita bersama tentang pentingnya sesuatu hal atau perkara yang kita idamkan terjadi di masa depan. Pameran “Lini Transisi” ini mencoba untuk mengumpulkan tanda-tanda penting —mulai dari karya-karya dengan kecenderungan kontekstual, abstrak, serta kecenderungan ‘dekoratif’— yang secara umum saling menunjukkan berbagai irisan pengaruh dan persoalan yang berkaitan. Pameran ini mencoba mengetengahkan berbagai kemungkinan dari tanda-tanda ekspresi seni yang dikerjakan para seniman Indonesia melalui cara-cara penciptaan yang khas dan tertentu. Secara keseluruhan presentasi materi pameran ini hendak menampilkan potensi besar dari karya-karya penting milik negara yang tersebar di berbagai tempat untuk kita temukan dan kenang secara bersamaan.

Gito Waluyo

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE