Mencicip Horom Toma Sasadu Tradisi Suku Sahu Talai

LENSAPENA – Ketika kami tiba di sana, perayaan adat Horom Toma Sasadu telah dimulai. Suara tifa terdengar bertalu-talu hingga nun di kejauhan. Tiga buah tifa dari batang pohon nira—mirip batang pohon kelapa yang dilubangi tengahnya dan salah satu sisinya ditutup kulit hewan itu digantung di antara tiang-tiang kayu rumah adat. Orang-orang memukulinya secara bergiliran, sementara yang lain memukuli gong kecil untuk memberi semangat memukul tifa lebih keras. Meja-meja panjang berisi hidangan nasi cala, nasi yang dimasak dengan cara dicampur sejumlah rempah dan digulung dalam daun pisang lalu dimasukkan ke dalam bilah-bilah bambu sebelum dibakar. Rasanya gurih dengan aroma wangi yang menggoda. Aneka lauk dari ikan laut dan hewan darat mengelilingi nasi cala. Beberapa ibu-ibu menari seraya mengitari bapak-bapak yang menabuh tifa. Iramanya menggugah semangat untuk turut menari.

Begitu turun dari mobil kami langsung bergabung dengan mereka, melihat dari dekat bagaimana tifa ditabuh dan gong kecil dipukul serta keringat para penabuh tifa mengucur. Memotret kesana kemari. Lantas mengambil makan dan menyantapnya seraya menikmati suara tifa dan gong dan melihat bocah-bocah lelaki berbusana adat suku Sahu Talai—kepala mereka dibebat kain yang dibentuk semacam blangkon serta kain sarung setinggi lutut. Rambut ibu-ibu disanggul dengan ditambahi rumbai-rumbai yang ditancapkan di kanan kiri sanggul. Bapak-bapak sebagian mengenakan penutup kepala dari kain sebagian lainnay memakai peci.

Horom Toma Sasadu tradisi suku Sahu Talai, suku mayoritas dalam masyarakat Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara, yang lahir sebagai ungkapan syukur atas kemahamurahan Tuhan dan alam semesta yang memberikan panen melimpah. Secara harfiah Horom Toma Sasadu bermakna ‘makan di rumah adat’. Perayaan Horom Toma Sasadu diawali dengan pemasangan bumbungan rumah adat yang atapnya terbuat dari pelepah pohon nira yang dilakukan siang hari. Pemasangan bubungan dikerjakan beramai-ramai diiringi suara tifa dan lantunan doa. Sementara ibu-ibu memasak untuk hidangan malam harinya.

Mereka menawari semua yang datang makan nasi cala. Kawan saya yang kelaparan lantaran tak sempat makan waktu berangkat tadi langsung menyambut antusias tawaran makan nasi cala. Saya sebenarnya pengen mencicip, tapi perut saya sudah terlalu penuh oleh nasi goreng. Kawanan bocah lelaki berbusana adat berkeliling menawari orang-orang saguer, tuak khas Halmahera. Saya tak kuasa menolak. Seperti hampir semua orang di perayaan ini, saya meminumnya beberapa tegukan disaksikan bocah-bocah itu dengan tertawa-tawa dan mata berbinar gembira. Tenggorokan dan dada saya langsung terasa hangat.

Saguer terbuat dari hasil fermentasi air pohon nira ini populer disebut arak Cap Tikus, entah kenapa. Rasanya asam, agak sepat dan asam seperti mungkin arak umumnya—maklum saya bukan peminum yang taat. Di antara kami turut berkeliaran anjing dan babi. Mereka memakan sisa makanan orang-orang. Bagi orang biasa hidup di kota besar Jakarta seperti saya, berada di tengah mereka merayakan tradisi Horom Toma Sasadu memberi sensasi yang menyenangkan. Seperti oase yang menyegarkan. Bagai menemukan kembali sisi-sisi entah apa yang hilang dari saya.

Perayaan Orom Sasadu yang kami saksikan malam itu bagian dari rangkaian agenda rutin tahunan Festival Teluk Jailolo (FTJ) 2019 yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat. FTG 2019 berlangsung sepekan penuh dan tersebar di sejumlah titik dengan panggung utama di atas laut beberapa puluh meter dari tepi pelabuhan speed boat Jailolo. Kami datang pada hari kedua festival. Kami terbang dari Jakarta pukul 02.00 dan mendarat di Bandara Sultan Babullah Ternate sekitar pukul 08.00. Langsung menuju ke Pantai Dufa-Dufa untuk menyeberang ke Halmahera Barat menggunakan speed boat, dengan tarif anatara Rp100-Rp150 ribu per kepala. Hampir satu jam terayun-ayun untuk mencapai Pelabuhan Jailolo yang siang itu sangat terik.

Jailolo, kota terbesar di Kabupaten Halbar, tak memiliki hotel, mal, pub. Itu bukan masalah bagi kami. Tak punya gedung perpustakaan dan gedung pertunjukan drama itu yang jadi masalah bila kami menetap di sini. Kami hanya pewarta-pelancong yang menggemari gunung dan pantai berpasir putih yang landai. Ketiadaan gedung perpustakaan sama sekali bukan masalah. Kami menginap di sebuah penginapan sekitar setengah kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Halmahera Barat.

Aris Kurniawan

Budaya Indonesia Tradisional Wisata

Penulis: 
    author