oleh

Mengenal 5 Tradisi Unik dari Kutai Kartanegara

Banner IDwebhost

LENSAPENA – Selain Kabupaten Penajam Paser Utara, Kutai Kertanegara , Kalimantan Timur juga menjadi salah satu titik lokasi Ibu Kota Baru Indonesia. Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan kelanjutan dari Kabupaten Kutai sebelum terjadi pemekaran wilayah pada tahun 1999.

Wilayah Kabupaten Kutai sendiri, termasuk Balikpapan, Bontang dan Samarinda, sebelumnya merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Pada tahun 1947, Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura dengan status Daerah Swapraja Kutai masuk dalam Federasi Kalimantan Timur bersama 4 Kesultanan lainnya seperti Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur dan Pasir.

Daerah Swapraja Kutai diubah menjadi Daerah Istimewa Kutai yang merupakan daerah otonom/daerah istimewa setingkat kabupaten berdasarkan UU Darurat No. 3 Tahun 1953. Pada tahun 1959, status Daerah Istimewa Kutai yang dipimpin Sultan A.M. Parikesit dihapus. Dan berdasarkan UU No. 27 Tahun 1959, daerah ini dibagi menjadi 3 Daerah Tingkat II, yaitu Kotamadya Balikpapan dengan ibu kota Balikpapan, Kotamadya Samarinda dengan ibu kota Samarinda, dan Kabupaten Kutai dengan ibu kota Tenggarong.

Nah, bicara soal Kutai Kertanegara ini, ternyata memiliki tradisi unik yang menambah kekayaan budaya Nusantara. Dikutip dari berbagai sumber, berikut tradisi unik dari Kutai Kertanegara:

Ritual Naek Ayun pada Bayi

Ritual Naek Ayun adalah serangkaian upacara adat yang dilakukan pada bayi usia satu bulan. Sebelum proses Naek Ayun, bayi diberi nama terlebih dahulu melalui upacara ritual Tasmiayah. Kemudian, prosesi Naek Ayun diiringi doa Berjanzi dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Diiringi dengan doa, rambut bayu dipotong seraya ditempung dengan bera kuning oleh wanita tetua keluarga. Setelah itu, bayi dimasukkan ke dalam ayunan yang dihiasi berbagai ornamen, serta diletakkannya kue apam. Setelah selesai proses Naek Ayun, dilakukan upacara tijak tanah. Pada upacara ini, telapak kaki bayi diinjakkan pada bongkahan tanah liat, batu, parang besi, dan lelehan lilin. Harapan dari upacara ini agar setelah dewasa, mandiri dalam menjalani kehidupan.

Upacara Belenggang untuk Ibu Hamil

Dilansir dari kukarkab.go.id, upacara adat Belenggang adalah upacara adat yang biasa dilakukan suku Kutai di lingkungan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura (Martapura). Ritual adat ini dilakukan seorang calon ibu muda yang usia kandungannya memasuki tujuh bulan. Melalui upacara adat ini, sang ibu dalam posisi terlentang di kasur dilenggang menggunakan kain sarung oleh lima orang secara bergantian.

Setelah dilenggang, sang ibu didampingi suaminya memilih salah satu kue wajib di antara 41 macam penganan tradisional yang disajikan. Kue yang yang dipilih dapat menggambarkan sifat dan watak anak yang akan lahir, kelak. Upacara ini bertujuan agar struktur pinggang si calon ibu menjadi longgar dengan cara dilenggang. Sehingga pada saat hari kelahiran tiba, akan memudahkan proses persalinan.

Upacara Kwangkey

Kwangkey atau Kwangkai merupakan acara puncak upacara kematian dengan suasana yang ramai bahagia. Sering kali tradisi ini digabungkan dengan Kenya–persiapan untuk arwah, sehingga disebut Kenyau Kwangkai. Acara ini terbilang relatif mahal, karena ada pemotongan sapi sebagai persembahan. Kwangkai dilaksanakan tiga tahun atau lebih, kemudian pihak keluarga menunggu tulang-tulang mayat menjadi kering, sehingga dapat dibongkar. Selain itu, agar keluarga dapat menitipkan segala keperluan untuk Kwangkai.

Dalam melaksanakan upacara Kwangkai, pihak keluarga mempersiapkan tengkorak kerabatnya yang sudah meninggal. Setelah upacara selesai, semua tulang itu disimpan dalam kotak ulin berukir yang disebut Tempelaq. Tujuan upacara ini, untuk menghormati orang yang sudah meninggal, dengan harapan dihormati dan bahagia di alam baka.

Festival Adat Erau

Dikutip dari indonesia.go.id, festival adat Erau adalah sebuah pesta rakyat yang digelar setiap pertengahan tahun di Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Sebelum menjadi pesta rakyat, festival ini merupakan serangkaian kegiatan adat Kerajaan Kutai sebagai bentuk pelaksanaan ritual sekaligus hiburan.

Kata “Erau'” berasal dari bahasa Kutai, yaitu eroh yang artinya ramai, riuh, ribut, suasana yang penuh sukacita. Suasana yang ramai bermakna kegiatan sekelompok orang, baik bersifat sakral, ritual, maupun hiburan.

Erau pertama kali dilaksanakan pada upacara tijak tanah dan mandi ke tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia lima tahun. Setelah dewasa dan diangkat menjadi Raja Kutai Kartanegara yang pertama (1300-1325), juga diadakan upacara Erau. Sejak itulah upacara Erau selalu diadakan pada penobatan raja-raja Kutai Kartanegara.

Belian Sentiu

Belian Sentiu merupakan upacara adat untuk mengobati orang yang sakit. Bila ada salah satu anggota keluarga yang sakit, maka keluarga tersebut mengadakan ritual ini. Pawing adalah orang yang memimpin upacara adat Belian Sentu. Biasanya, Belian Sentiu dilaksanakan oleh satu pawing maupun lebih. Tugas pawing meniup peluit–peluit dari taring macan atau beruang.

Setelah itu, para pawing membaca mantera guna memanggil roh para leluhur. Setelah itu, para pawing menari dan berputar-putar diiringi musik seperti gong, gamelan, dan gendang. Sambil menari-nari, para pawing menghampiri orang yang sedang sakit, dengan harapan orang yang sedang sakit tersebut akan sembuh.

Red/Berbagai sumber

Komentar

News Update