oleh

Pameran “Trans Jakarta”, Cerita Megapolitan dalam Kanvas

LENSAPENA – Sebanyak 27 perupa tergabung dalam Himpunan Perupa Jakarta (HIPTA) merepresentasikan karya dua dimensi, instalasi dan tiga dimensi melalui pameran seni rupa bertemakan “Trans Jakarta” yang di selenggarakan di Gedung Kunstkring Palaeis Jakarta mulai tanggal 27 Agustus – 27 September 2019.

Megapolitan setidaknya mempunyai beberapa ciri yang menonjol diantaranya gedung pencakar langit, jalan layang, jalan satu arah, sistem transportasi modern, kemacetan, pusat bisnis dan hiburan, pusat pemerintahan, punya ruang publik, urbanisme, life style dan budaya pop. Syarat tersebut identik dan melekat pada kota Jakarta, terutama karena berstatus Ibukota. Struktur masyarakatnya terbagi dari beberapa kelas, ada kelas bawah, kelas menengah dan kelas atas. Strata kelas ini biasanya diukur oleh kekayaan atau materi disamping jabatan dan pendidikan.

Ukuran materi secara tidak langsung telah mendorong masyarakat dalam persaingan untuk hidup lebih layak sehingga membuat mereka bekerja lebih giat dengan menggunakan berbagai macam strategi. Pada kenyataannya pergulatan-pergulatan mereka adalah bagaimana bisa memenuhi standar kebutuhan hidup yang digerakkan oleh mobilitas bekerja, berbisnis atau berdagang. Dalam penetrasi inilah berbagai kepentingan bertemu, bernegosiasi, bersilangan, berkelompok bahkan bertolakan, lalu membentuk ragam kecenderungan.

Akibat dari itu, muncul bermacam dampak dari masyarakat yang campuraduk, hibrid, melahirkan subkultur dan akulturasi budaya, membengkak menjadi masyarakat heterogen. Kota dalam pengertiannya yang paling kontemporer adalah simbol transformasi peradaban dimana Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi, Estetika dan Seni, Hukum dan Politik, Adat Istiadat dan Etika, miskin dan kaya mengalami perubahan-perubahan, pergeseran, kesepakatan-kesepakatan merembes mengalir kedalam arus dinamika yang dinafasi oleh semangat jaman.

Maka sisi yang akan muncul dipermukaan sebagai tanda keadaban adalah perilaku yang dilindungi undang-undang, kemudian disusul materialisme yang melahirkan gaya hidup dengan diperkuat budaya populer untuk menjawab perkembangan mutakhir, bahkan silang sengkarut dan tumpang tindihnya kenyataan sosial sekedar dampak dari transformasi. Intinya, transformasi dalam konteks kota Jakarta merupakan evolusi yang dipandu oleh pengetahuan jaman, yakni sesuatu yang sedang berkembang, beranjak viral, berlalu, dipadukan dengan berbagai elemen keseharian dan kebutuhan publik, kemudian mempengaruhi perilaku dan aktifitas publik yang terlibat didalamnya secara partisipatif hingga terus berupaya dan perlahan membentuk masa depan kota yang layak bagi penghuninya.

Gito Waluyo

Banner IDwebhost

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Update