oleh

Pentingnya Strategi Melawan Penjajah Zaman Digital

Rakyat Indonesia kini telah merayakan kemerdekaan selama 74 tahun. Jika flashback 74 tahun yang lalu, sejarah perjuangan bangsa ini tidaklah mudah. Darah, keringat, jiwa dan raga para pejuang terdahulu menjadi taruhan untuk kemerdekaan yang dapat dirasakan generasi bangsa saat ini. Perjuangan terdahulu hingga membuahkan hasil yang diharapkan saat ini dikarenakan adanya persatuan rakyat Indonesia dalam melawan penjajah.

Kata persatuan berarti seluruh elemen rakyat bersatu dalam bertindak dan seakan sudah menjadi tulang rusuk yang melekat dalam raga ini. Namun, tulang rusuk tersebut kini seakan menghilang dari rakyat Indonesia saat ini. Hal tersebut dapat kita saksikan dalam banyak pemberitaan media sosial yang berusaha memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa yang dilakukan oleh oknum tertentu. Selain itu, respon dari masyarakat juga seolah menerima saja pemberitaan tersebut sehingga menimbulkan konflik di tengah-tengah masyarakat.

Perkembangan teknologi yang semakin pesat membuat segala sesuatu menjadi praktis dan instan untuk mempermudah aktivitas manusia namun disadari atau tidak, hal ini juga berpengaruh terhadap kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang cenderung untuk melakukan segala sesuatu secara praktis begitu pula dengan kebiasaan menerima informasi dengan mudahnya tanpa melihat dan memastikan terlebih dahulu kebenarannya. Dalam hal ini kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan akibat keberadaan teknologi, tetapi dengan adanya perkembangan teknologi yang semakin pesat menuntut para generasi untuk berpikir lebih kritis dalam menindaki segala bentuk pemberitaan yang masuk baik secara online maupun offline. Hoax dapat berupa segala bentuk pemberitaan baik secara tertulis dalam bentuk online atau offline maupun secara lisan dari oknum tertentu yang dapat disampaikan langsung.

Semakin pesatnya penyebaran hoax, generasi bangsa harus benar-benar cermat dalam menanggapi bentuk-bentuk pemberitaan. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai bentuk aksi melawan hoax atau berita bohong. Pertama yaitu jika menerima suatu bentuk informasi secara online maupun offline perhatikan judul berita, penulis, redaksi dan pencantuman referensi atau sumber tulisan atau gambar tersebut. Kedua, perhatikan isi informasi terkait yang disampaikan apakah terdapat kata-kata yang mengandung ujaran kebencian, radikalisme, atau segala bentuk penyampaian yang mengarahkan pada perpecahan. Ketiga, memastikan kembali berita atau informasi yang didapatkan dengan melakukan pengecekan kembali dengan sumber pemberitaan resmi dan sudah diakui. Kemudian selanjutnya, jika menemukan suatu pemberitaan yang jelas mengarah pada perpecahan dan radikalisme segera melaporkan bentuk tulisan tersebut kepada pihak resmi yang terkait dengan pemberitaan yakni Kementerian Komunikasi dan Informatika dapat melalui alamat email resmi yang dilakukan dengan screen capture disertai URL link, sedangkan untuk kerahasiaan pelapor dijamin dan aduan konten dapat dilihat di laman web Kementerian Komunikasi dan Informatika. Melaporkan konten hoax sangat penting dilakukan untuk mencegah lebih banyak lagi bentuk-bentuk hoax serupa. Olehnya itu, masyarakat dituntut harus untuk lebih aktif dan peduli untuk melaporkan segala bentuk pemberitaan yang mengandung berita bohong yang menuju perpecahan.

Dengan demikian, sebagai generasi yang bijak di era digital saat ini, sifat terbuka dan kritis diperlukan untuk menyaring dan memastikan segala bentuk informasi yang masuk adalah benar, sebab informasi yang mengandung konflik dan kebencian akan berdampak besar di masyarakat. Hoax atau berita bohong merupakan ancaman yang sangat serius terhadap persatuan dan kesatuan bangsa. Sehingga, dalam melawan hoax dibutuhkan kerja sama seluruh elemen dan pihak masyarakat sebagai bentuk rasa untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Mempertahankan keutuhan NKRI menjadi tantangan berat yang dihadapi generasi zaman now dan menjadi tanggungjawab seluruh masyarakat Indonesia.

Sekolah sosial media

Pilpres dan Pileg telah usai, berbagai fitnah HOAKS dan sejenisnya telah tenggelam oleh waktu karena bersifat kontemporer. Tapi justru yang lebih berbahaya adalah HOAKS pasca Pilpres / Pileg, mengapa demikian ? Tak lain pasca Pilpres dan Pileg inilah mempunyai rentang waktu 5 tahun ke depan.

Pada segelintir orang tentunya ada rasa tidak puas dengan hasil pesta demokrasi lima tahunan yang dikemas dalam Pilpres dan Pileg beberapa bulan lalu. Bibit-bibit inilah yang nantinya akan menjadi “penyerang” pemerintahan yang sah. Tidaklah mengapa jika menjadi oposoisis yang baik sebagai penyeimbang pemerintahan. Yang membahayakan jika rasa ketidakpuasan segelintir orang tersebut memanfaatkan kaum awam sebagai sasaran berita bohong atau yang lebih kita kenal sebagai hoaks.

Pada situasi dan kondisi seperti inilah hoaks bisa menjadi senjata ampuh bagi yang menginginkan ketidak harmonisan dalam berbangsa dan bernegara. Dunia maya dimana teknologi informasi berkembang merupakan dunia yang mempunyai kekuatan dahsyat walau keberadaannya tidak terlihat. Berbicara tentang hoaks di sosial medis sebagai corongnya dunia maya bagaikan tajamnya mata pisau yang siap menyayat. Jika pemegang pisau tersebut mempunyai jiwa yang luhur dan mempunyai wawasan luas tentulah akan mampu mengendalikan diri dengan keberadaan hoaks yang setiap saat menghampirinya. Tapi sebaliknya jika pemegang mata pisau yang siap menyayat tersebut mempunyai jiwa yang kerdil dan labil tentu akan dengan sangat mudah terpengaruh ataupun terprovokasi oleh berbagai hoaks yang menghampirinya.

Mengenal sekolah sosial media

Salah satu cara untuk mengendalikan dan meminimalisir hoaks adalah dengan adanya pendididkan terprogram bagi penghuni dunia maya (pemakai IPTEK), tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi informasi akan terus berkembang sejalan dengan penemuan-penemuan terbaru dibidang informasi. Sejauh ini masih minim sosialisasi tentang dunia informasi yang sedang berkembang dewasa ini terutama cara bijak dalam bersosial media.

Tidak saja didodminasi oleh orang dewasa sebagai pemakai teknologi informasi, tapi mulai dari balita sudah mengenal yang namanya smartphone sebagai sarana mengenal dunia maya ini. Jadi memang sangat rentan dengan pelanggaran-pelanggaran yang nantinya akan terjadi di sosial media.

Hoaks, ujaran kebencian, caci maki dan lain sebagainya kerap kali kita dengar di sosial media. Baik disengaja atau tidak disengaja tentu pelaku akan terkena pasal-pasal UU ITE dan setelah diproses berdalih khilaf. Ada beberapa kemungkinan yang terjadi bila sudah demikian yaitu memang sengaja dalam penyebaran hoaks, atau memang terbawa arus emosi sesaat hingga terjerumus ke dalam proses UU ITE yang mereka tidak pahami.

Dari kasus inilah perlu sosialisasi atau sekolah Sosial Media untuk pemahaman atau batasan layak tidaknya dalam bersiosial media sebagai corongnya dunia maya. Untuk mencapai sasaran sampai kalangan bawah bisa dimulai dari tingkat kabupaten dengan beberapa relawan dan sampai pada tingkat RT dengan relawan yang siap berjuang untuk memelekkan warga terhadap teknologi informasi.

Sudah disinggung di atas bahwa pengguna internet sudah bukan orang-orang dewasa saja yang memakai tapi realita di lapangan anak-anak balitapun sudah mengenal smartphone. Jadi bukan tidak mungkin kelabilan anak-anak ini bisa sebagai penyambung hoaks yang ditebarkan oleh oknum-oknum yang ingin membuat kekacauan.

Dengan diadakannya Sekolah Sosial Media ini diharapkan akan mampu menyaring berita-berita miring yang menjurus pada ketidakstabilan bermasyarakat yang nantinya akan merugikan diri sendiri. Akan lebih baiknya jika di setiap RT ada relawan yang paham teknologi informasi yang siap sedia sebagai tempat rujukan.

Bisakah sekolah sosial media diadakan?

Why not! Mengapa tidak. Di era milenial ini yang serba online dan banyaknya kemudahan-kemudahan yang ditimbulkan dengan seutas jaringan internet mungkin kelihatan lucu bila mendengar adanya Sekolah Sosmed. Tapi jika kita amati dari berkembangnya dunia informasi seperti sekarang ini adakalanya ada yang belum siap menerima kemajuan tersebut. Jadi untuk memberikan pendidikan dalam bersosial media yang memanfaatkan teknologi informasi tentulah sangat diperluakan baik bagi person pengguna sendiri maupun untuk menjaga stabilitas berbangsa dan bernegara.

Kita telah mengenal toko online, ojek online, sekolah online, seminar online kursus online dan sebagainya yang memudahkan dalam berkehidupan bermasyarakat. Untuk mempersiapkan itu semua diperlukan pendidikan yang memadai bagi setiap individu pemakai teknologi informasi pada umumnya dan pengguna Sosial Media pada khususnya.

Gito Waluyo
Seniman dan Pemerhati Budaya

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE