oleh

Fenomenal, Buku Puisi “Kidung Cisadane” Karya Rini Intama

LENSAPENA – Buku kumpulan puisi “Kidung Cisadane” karya penyair perempuan Rini Intami memang fenomenal. Tahun 2016 lalu misalnya, buku tersebut masuk 5 Buku Puisi Terbaik versi Yayasan Hari Puisi Indonesia. Satu tahun kemudian atau tahun 2017, buku yang ditulis warga Kabupaten Tangerang ini, lagi-lagi membuat fenomenal meraih Anugerah Acarya Sastra dari Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Selain itu, buku tersebut juga masuk masuk Karya Sastra Unggulan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP) bidang Puisi tahun 2019.

Baca juga: Geliat Seni Budaya di Kabupaten Tangerang Senyap, Kendalanya SDM dan Anggaran

Puisi-puisi dalam Kidung Cisadane mengisahkan tentang manusia dan sejarahnya. Entah itu perjalanan hidupnya, bangsa dan negaranya. Puisi-puisi itu semacam cermin agar manusia belajar dari berbagai peristiwa sejarah.

Dengan belajar sejarah, manusia bisa memetik pelajaran untuk kehidupan yang akan terus dilakoninya kelak. Tentu itu penting agar kehidupan manusia menjadi lebih baik, sehingga tidak mengulang sejarah yang buruk dan memilukan seperti yang pernah terjadi pada masa lalu.

Banyak cara belajar sejarah. Salah satunya melalui buku-buku teks sejarah yang ditulis para sejarawan, saksi-saksi sejarah, artefak-artefak sejarah yang ditinggalkan para leluhur dulu, atau belajar dari karya-karya sastra berbasis sejarah, seperti melalui buku puisi Kidung Cisadane.

Baca juga: Viral Warga Tinggal di Gubuk Reot, Pemkab Tangerang Berjanji Bangunkan Rumah

Sosok Mumpuni

Berbicara puisi yang ditulis dengan latar belakang sejarah, khususnya di wilayah Tangerang, memang Rini yang mumpuni. Penyair satu ini penuh semangat, lincah, produktif dan sangat consern menulis puisi dengan tema-tema sejarah plus dengan budaya Tangerang yang melingkupinya.

Rini tidak dilahirkan di Tangerang. Ia tergolong kaum urban yang hijrah dari Garut ke Jakarta dan kemudian tinggal di Tangerang sejak tahun 1991. Namun demikian kecintaan Rini pada sejarah dan budaya Tangerang luar biasa, cintanya melebih orang-orang Tangerang sendiri.

Menurut Rini, sejarah dan budaya Tangerang tidak bisa dipisahkan dari proses akulturasi dengan Betawi, Sunda, Jawa, dan China. Bahkan budaya China di Tangerang ini dirasakan Rini sangat menonjol. Tak heran, dengan proses akulturasi itu, kehidupan masyarakat Tangerang menjadi menarik.

Baca juga: Waduh, Pilkades Serentak Membara! Test Tertulis LPM ICD Disoal

“Sejarah dan budaya Tangerang itu sangat menarik. Saya betul-betul jatuh cinta pada sejarah dan budaya Tangerang, terlebih lagi pada budaya dan sejarah Tionghoa,” ungkap Rini, kepada Lingkarkata.com., baru-baru ini.

Ketika ditanya bagaimana ceritanya Rini tertarik pada sejarah dan budaya Tangerang, perempuan ramah pada siapa pun dan murah senyum ini, mengaku sudah cukup lama karena memang sudah puluhan tahun tinggal di Tangerang bersama suami dan anak-anaknya.

Baca juga: Viral Warga Tinggal di Gubuk Reot, Pemkab Tangerang Berjanji Bangunkan Rumah

Dua Peristiwa Besar

Namun demikian ada peristiwa di Tangerang yang betul-betul membuat hatinya teriris-iris dan matanya menangis, sehingga tidak akan pernah bisa lupa dalam hidupnya, yakni tentang runtuhnya rumah tua Oei Dji San yang ada di persimpangan Jalan Karawaci, Kota Tangerang.

Rumah peninggalan orang-orang Cina di dekat Sungai Cisadane itu semestinya saat ini sudah menjadi benda budaya yang sangat berharga bagi kehidupan generasi saat ini, karena selain usianya sudah lama, juga bentuknya mencerminkan kultur atau budaya China asli.

Namun sayangnya rumah itu diruntuhkan dan sudah hilang, sedangkan tanahnya pun dijual. Di tanah itu kini berdiri rumah makan modern siap saji dan tidak menyisakan sedikit pun petilasan-rumah tua Oei Dji San. Ironis sekali.

Baca juga: Sate Lilit, Kuliner Bali Simbol Pemersatu

“Saya sedih mendengar nasib rumah tua itu, saya sampai menangis. Padahal rumah tua itu bisa dijadikan museum, dan orang-orang Tangerang kalau ingin melihat sejarah dan budaya Tangerang tinggal ke sana,” ungkap Rini.

Rini betul-betul tersentuh dengan peristiwa itu. Rini kemudian merenungkan, menghayati, dan menuliskan peristiwa tersebut ke dalam puisi dengan begitu sedih dan penuh luka. Puisi itu bertajuk “Rumahmu Kini : Kapitan Oei Dji San”. Rini menuliskan catatan kaki dalam sajaknya itu.

Peristiwa lain yang juga membuat hatinya teriris-iris dan menangis pada saat penggusuran warga China Benteng di Kampung Sewan, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang. “Saya juga menangis melihat peristiwa itu,” ujarnya.

Baca juga: 5 Kuliner dari Telur Puyuh Ini Bikin ‘Ngiler’

Cerita Ratusan Tahun

Menurut Rini, warga China Benteng yang ada di Kampung Sewan itu tidak bisa dilepaskan dari sejarah Betawi. “Dulu, sekitar tahun 1740, orang China di Betawi dibantai oleh Belanda dan sebagian dibuang ke Kampung Sewan,” ujarnya.

Dari dua peristiwa besar itu, Rini seoalah-olah tersedot oleh sejarah dan budaya Tangerang yang penuh misteri. “Sejarah dan budaya Tangerang itu menarik. Semakin saya masuk semakin menarik,” ungkapnya.

Sejak saat itu Rini lebih dekat dengan sejarah dan budaya Tangerang, karena sejak saat itu Rini memang sudah mulai menyusuri sejarah dan budaya Tangerang, atau bahasa kerennya sudah melakukan obrservasi.

Baca juga: Bersama Dinkes, Aetra Tangerang Gencar Kampanyekan Cuci Tangan Pakai Sabun

Setelah menyusuri sejarah dan budaya Tangerang, seperti menyelami Tari Cokek, Rini kemudian menuliskannya dalam bait-bait puisi bertajuk “Ode Bagi Masnah”. Lagi-lagi dalam puisinya itu Rini membuat catatan kaki tentang Masnah atau Pang Tjin Nio, penari Cokek legendaris di Tangerang.

Rini juga menyusuri sejarah dan budaya Tangerang itu hingga ke Teluknaga, di mana saat itu ada tokoh China yang merantau ke Teluknaga pada tahun 1400, hingga akhirnya melahirkan nama Teluknaga.

Melalui oberservasi itu, Rini kemudian menguak banyak hal dan menuliskannya dalam puisi, seperti “Pecinan Pasar Lama”, “Klenteng Tjo Soe Kong”, “Cokek”, “Museum Benteng Heritage”, dan “Klenteng Boen Tek Bio”.

Dari pencariannya yang panjang, gigih, berliku-liku, dan tidak mengenal lelah, Rini mengabadikan sejarah dan budaya Tangerang ke dalam buku kumpulan puisi “Kidung Cisadane” yang berisi sekitar 71 judul puisi, yang terbagi dalam dua bagian, yakni Kidung Cisadane dan Abude.

Baca juga: Bukit Jomblo, Wisata Unik di Tulunganggung

Sendang Sejarah

Sejak dulu, Rini memang senang dengan sejarah. Tak heran, dari pejalanannya itu Rini menjadi tahu tentang pemberontakan para petani ratusan tahun lalu, dan dia menuliskannya dalam puisi “Kidung Tanah Partikelir”.

Puisi lain yang masih berkaitan dengan sejarah Tangerang, Rini menulis puisi tentang keberadaan masjid tertua di Tangerang, yang berada di kawasan kalipasir, Kota Tangerang, atau dekat pinggiran Sungai Cisadane. Puisi itu bertajuk “Masjid Jami Kalipasir”.

Aktivitias menulis, termasuk menulis puisi, cerpen, novel, dan tulisan ilmiah serta berkesenian, sudah dilakoni Rini bertahun-tahun. Namun demikian Rini sempat tidak produktif karena ingin lebih dekat dengan anak-anak dan suaminya.

Namun setelah anak-anaknya besar, semangat Rini hidup kembali. Sejak saat itu Rini mengaku lebih serius menulis. Namun Rini tidak pernah mencari keuntungan dari kesenian. Sebaliknya, Rini lebih banyak menghidupi keseniannya. Itulah yang membuat Rini eksis sebagai seorang penulis hingga saat ini.

Baca juga: Jamur Sawit Ternyata Bermanfaat untuk Kesehatan

Bercerita dan Nasionalisme

“Dengan menulis, saya bisa berbagai cerita. Namun berbicara seni, itu bicara rasa, rasa itulah yang mengajari kita bahagia. Demikian juga dengan doa, doa juga bisa membuat kita bahagia,” ungkap Rini, filosofis.

Soal puisi-puisi yang berlatar belakang sejarah itu, Rini sesungguhnya sedang menitipkan cerita tentang sejarah dan budaya Tangerang yang penuh warna, yang sudah hilang, dan yang masih ada, kepada generasi saat ini.

Rini juga ingin semua generasi muda memaknai sejarah dan budaya Tangerang yang unik dan menarik agar mereka tidak menjadi manusia-manusia yang kerdil. Namun bisa membangun peradaban yang lebih bemartabat dan cemerlang serta tidak kehilangan semangat pluralisme dan nasionalisme.

R. Budi Sabarudin

Banner IDwebhost

Komentar

News Update