oleh

Pedasnya Rujak Bebek Kang Dedi Ini ‘Nonjok di Lidah’

LENSAPENA – Rujak bebek, beubeuk atau bebeg adalah rujak yang terbuat dari tumbuhan aneka buah. Disebut rujak bebek karena membuatnya dengan cara dibebek.

Buah segar untuk rujak bebeg umumnya bertekstur keras: seperti mangga, jambu, mentimun, pepaya muda, bengkoang, kedondong, nanas muda, ubi muda dan buah cermai. Beberapa orang juga menambahkan pisang batu atau mengkudu muda (pace) dalam racikan.

Baca juga: Kapolda Banten: Sinergitas TNI/Polri Wujudkan Pemilu Aman dan Kondusif

Selain proses pembuatannya, keunikan rujak bebeg juga sebenarnya terletak pada wadah sajinya, yaitu berupa pincuk daun pisang berukuran mungil. Sendoknya juga dibuat dari lipatan daun pisang. Ini membuat aroma dan rasa rujak makin enak karena harum alami daun pisang. Namun seiring perjalanan waktu, banyak penjual kini memilih cara praktis dengan menggunakan wadah dan sendok plastik untuk rujak bebeg.

Dalam budaya Jawa, rujak bebek ini kerap menjadi salah satu suguhan yang paling favorit pada saat acara tujuh bulanan, atau selamat usia tujuh bulan kehamilan.

Baca juga: 17 Relawan Kabupaten Tangerang Diberangkatkan ke Riau

Rujak bebek juga banyak ditemukan di daerah perkotaan, yaitu dijajakan oleh penjual rujak bebek, yang biasanya berkeliling dengan cara dipikul. Karena rasanya yang unik: penas campur manis, asam dan sedikit pahit, rujak bebek banyak digemari masyarakat, dan menjadi sumber mata pencaharian pedagang urban yang menggantungkan hidupnya di daerah seperti Jakarta, Tangerang dan sekitarnya.

Baca juga: Arapaima Bisa Merusak Habitat Ikan Lokal

Salah satu pedagang rujak bebek asal Cianjur, Jawa Barat yang eksis di Kota Tangerang adalah Kang Dedi (39). Pria yang tinggal mengontrak di sekitar Kompleks Kehakiman Kota Tangerang ini, menjajakan rujak bebeknya di sekitar Lembaga Pemasyarakatan (LP) Perempuan dan Kompleks Kehakiman. Namun jika tanggal merah, atau Sabtu dan Minggu, ia mangkal di sekitar Kantor Pusat Informasi Dinas Pariwisata Kota Tangerang, tepatnya sekitar tempat jajanan laksa di Jalan Muhammad Yamin, Babakan, Tangerang, Kecamatan Tangerang, Babakan, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang.

“Kalau hari biasa di Kompleks Kehakiman sama di deket Lapas, pas tempat orang-orang jual baso. Tapi kalau Sabtu sama Minggu atau tanggal merah, di sini (sekitar pusat jajanan laksa Kota Tangerang,” ujar Kang Dedi.

Baca juga: Inilah Resep Cara Membuat Laksa Khas Tangerang

Kang Dedi juga mengungkapkan, dari hasil penjualan rujak bebeknya, setiap 10 hari sekali ia bisa mengirimkan uang untuk isterinya di Cianjur antara Rp800 ribu hingga Rp1 juta.

“Ya, lumayan aja bisa delapan ratus ribu sampai satu juta, kirim ke isteri sepuluh hari sekali,” katanya.

Kang Dedi mengaku, untuk membuat agar rujaknya banyak disukai dan dikangeni oleh pelanggan, ia menggunakan resep warisan orang-orang pendahulunya di kampung. Yaitu, selain menggunakan buah-buahan segar yang bagus, ia menggunakan terasi bakar sebagai campuran bumbu cabe, garam dan gula merah, yang dibawa dari daerahnya, Cianjur. Sehingga, sensasi rujak bebek Dedi ini, meskipun dijajakan dengan kemasan wadah dan sendok plastik, tidak mengurangi cita rasanya yang khas sebagai rujak bebek tradisional tempo dulu. Dan, pedasnya ‘nonjok di lidah’!

Baca juga: Inilah Obyek Wisata Menarik di Tangerang

Banner IDwebhost

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Update