oleh

Spice Route Culture: Mengungkap Sejarah Perniagaan Rempah Nusantara

Banner IDwebhost

LENSAPENA – Kota Tangerang tidak hanya dikenal sebagai Kota Seribu Penjara, di mana setiap sudut tempat di sekitar jantung kota ini terdapat gedung-gedung yang dihuni para tahanan, mulai dari anak-anak, perempuan, pemuda hingga dewasa.

Dalam kegiatan yang dihelat oleh Kementrian Koordinator Kemaritiman di Kota Tangerang, terungkap fakta bahwa Tangerang ternyata pernah menjadi pos perniagaan rempah dunia. Kabid Penguatan Karakter Bangsa Bahari Kementrian Koordinator Kemaritiman, Ardiansyah, perniagan pertama di Nusantara terjadi di jalur perairan Padang menuju Bulukumba hingga bergerak ke Tangerang.

Baca juga: Ajak Pemudanya untuk Maju, Zaki Datangkan Motivator dari Australia

Berbagai sumber menyebutkan, ada dua rute perniagaan rempah-rempah, yaitu rute Nusantara dan rute internasional. Dalam Rute Nusantara, perniagaan rempah-rempah dilakukan hingga ke Malaka, yang merupakan pelabuhan terbesar dan terpenting di Asia Tenggara, pada abad pertengahan. Di situ bertemu para saudagar-saudagar dari Jawa, Gujarat, Arab, Cina, dan tentu saja orang Melayu yang saat ini menetap di Malaysia.

Perdagangan rempah-rempah di Malaka awalnya dilakukan oleh pedagang-pedagang Cina, karena merekalah yang pertama kali mengetahui bahwa cengkih tumbuh dan hanya terdapat di Maluku. Para pedagang Cina ketika itu merahasiakan keberadaan lokasi rempah-rempah agar mendapatkan keuntungan dalam perdagangan cengkih di Malaka, bahkan juga dibawa ke India. Di India, orang-orang menganggap bahwa cengkih itu dari Jawa.

Baca juga: 5 Kuliner dari Telur Puyuh Ini Bikin ‘Ngiler’

Pedagang Cina mendapatkan rempah-rempah dari para pedagang lokal (Ternate, Tidore, dan Bacan) yang membawa cengkih dan pala ke Hitu dan Banda di Ambon, untuk kemudian dibawa ke pelabuhan-pelabuhan niaga seperti Gresik, Tuban, Surabaya, Pekalongan, dan Banten, yang salah satu pos perniagaan rmpah ini ada di wilayah Tangerang.

“Makanya, perdagangan rempah sangat bersejarah, pelabuhan kita jadi bandar rempah. Itu konsep umumnya,” ucap Ardiansyah saat membuka kegiatan Spice Route Culture Indonesia 2019 di halaman Transmart, Cikokol, Kota Tangerang, Selasa 29 Oktober 2019.

Baca juga: Club Harley Davidson ‘Dakota’ Kampanyekan Produk Sepatu Lokal

Ia juga menyebutkan, fakta menarik soal Tangerang sebagai pos perniagaan rmpah ini hanya akan menjadi abu sejarah bila tak dibudayakan. Untuk itu, dengan digelarnya Spice Route Culture ini, menurut Ardiansyah, dapat melanjutkan semangat pengembangan potensi rempah di pos-pos kemaritiman di wilayah Nusantara.

“Sekarang jalur rempah banyak yang mau klaim. China mau klaim ke UNESCO, tapi dalam sejarah yang nyata itu Indonesia,” jelasnya.

Dalam event Spice Route Culture ini, sebanyak 31 stan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) asal Tangerang dan Jakarta trsebut memamerkan sejumlah produk unggulan olahan rempah Nusantara.

Untuk membumikan kembali rempah Nusantara, dalam Spice Route Culture ini tak hanya menyajikan bazar olahan rempah, namun juga digelar parade batik bertemakan rempah olh relawan Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Kota Tangerang.

Baca juga: Ananta: Banten Menduduki Indeks Toleransi Terburuk di Indonesia

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Update