oleh

Festival Seni dan Budaya Kota Tangerang, Wali Kota Harus Belajar dari Ahlinya

LENSAPENA | Festival Budaya 2019 Kota Tangerang adalah kali ketiga digelar Pemkot Tangerang. Namun, konsep yang seharusnya menjadi pesta rayanya para pelaku seni dan budaya Kota Tangerang ini, dinilai hanya sebagai ajang seremonial sekadar menggugurkan kewajiban.

Mungkinkah, ini hanya agar apa yang telah diprogramkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dengan anggaran yang cukup fantastis itu tidak menjadi sisa lebih penggunaan anggaran (Silpa)? Atau, hanya akan menunjukkan bahwa Pemerintah Kota Tangerang bisa membuat event akbar dalam kemasan kebudayaan, pamer dengan mengundang para peserta dari luar wilayah Kota Tangerang?

Ketua Dewan Kesenian Tangerang (DKT), Madin Sumadiningrat, mengungkapkan bahwa seharusnya Walikota Tangerang atau dinas terkait melibatkan para ahli seni dan pakar budaya untuk bersama-sama menyusun kerangka acuan kegiatan yang tematik Festival Budaya, agar apa yang dilakukan tepat sasar dan tidak ngasal. Karena, menurut Madin, perhelatan budaya yang sudah memasuki tahun ke-3 ini sudah semestinya tidak sekadar mengajak masyarakat tahu seni budaya tetapi dapat memahami dan mencintai. Lalu mengimplemantasikan kecintaannya terhadap seni dan budaya itu menjadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari.

Kalau hanya berorientasi pada tataran mengajak masyarakat agar tahu, Madin menilai, perhelatan Festival Budaya yang pertama dan kedua telah gagal. Karena, panitia Festival Budaya masih mengulang apa yang pernah dilakukan terdahulu, tidak mengalami kemajuan.

“Apresiasi seni itu memiliki lima tingkatan. Pertama, mengetahui, kedua mengenal atau memahami, lalu mencintai, terus menerapkan (aplikasi), dan menganalisis,” ujar Madin Sumadiningrat, Kamis 5 Desember 2019.

Madin juga menuturkan, jika pernyataan Wali Kota Tangerang, Arief R. Wismansyah, “Melalui Festival Budaya, kami mengharapkan masyarakat Kota Tangerang dapat mengetahui kesenian dan kebudayaan yang ada di Kota Tangerang”, seperti dikutip salah satu media nasional, kata Madin, program Festival Budaya 2019 tersebut mengalami kemunduran.

Terlebih dengan banyaknya jumlah artis dan pelawak yang tampil dalam kegiatan tersebut, menurut Madin, hanya buang-buang anggaran saja.

“Pada tingkatan pertama, yaitu mengetahui, adalah upaya agar masyarakat mengetahui apa itu seni, yaitu dari yang sama sekali tidak mengetahui atau buta seni. Setelah mengetahui, yang kedua barulah punya kesadaran mengenal atau memahami lebih jauh apa itu seni. Baru dalam tahapan ketiga, ada upaya mempelajari di situ. Saat seseorang sudah memahami, umumnya ia akan meningkat menjadi mencintai. Ada upaya rasa memiliki di dalamnya. Pada tahap ini pula seseorang yang mencintai seni ia akan ikut berlatih dan menjadi pelaku seni. Ketika seseorang sudah mahir menjadi pelaku seni, ia mempunyai kemampuan menganalisis. Sebuah upaya mengevaluasi dan meneliti apa kelebihan dan kekurangan keseniannya, lalu apa manfaatnya buat peradaban kemanusiaan. Nah, dari tingkatan itu, pertanyaannya: apa benar sampai kepada pelaksanaan Festival Budaya yang ke-3 ini masyarakat kita apresiasinya masih berkutat di level mengetahui saja?” Beber Madin.

Banner IDwebhost

Komentar

News Update