oleh

Tanpa Manajemen Seni Yang Profesional Seniman Bisa Mandul

LENSAPENA – Pergerakan seniman dalam mengangkat derajat karya seninya sudah semestinya ditopang sebuah pola manajemen yang mampu berperan strategis dan dinamis.

Hal itu disampaikan Ketua Dewan Kesenian Kota Tangerang (DKKT) Madin Tyasawan, saat membuka Workshop Manajemen Organisasi Kesenian di Gedung Kesenian Kota Tangerang, Jalan Masjid Al Hidayah No 3, Moderland, Minggu 9 Februari 2020.

Dalam Workshop yang menghadirkan narasumber Sari Madjid, aktifis kesenian dan anggota senior Teater Koma tersebut, Madin menyebutkan bahwa pola manajemen itu untuk menjawab semua tantangan dan segala kemungkinan dalam upaya mempertahankan eksistensi diri dan berkesinambungan berkarya.

“Manajemen seni yang profesional dengan aplikasi yang tepat tentu akan berfungsi mengatur lalu lintas berkesenian dengan baik, terarah dan profesional. Dampak positifnya, posisi seni dan seniman dengan sendirinya akan terdongkrak ke tingkat terhormat, penting dan diapresiasi baik di tingkat wacana maupun sosiokultural,” ungkap Madin.

Madin menegaskan, tanpa manajemen seni yang profesional akan menyebabkan dinamika seni tersebut berjalan di tempat, stuck atau mandul dalam pergerakannya dan sulit mensejahterakan para seniman secara materi.

Dikatakannya, konsekuensi ini akan sangat mempengaruhi arus perubahan dinamika berkesenian dari waktu ke waktu. Karena seniman dalam berkeseniannya lebih banyak berkutat pada rasionalitas dirinya sendiri.

“Itu sangat membelenggu gerak langkah mereka, seperti bagaimana berkarya, mempromosikannya, bagaimana karya tersebut dapat menghidupi mereka dan lainya sebagainya. Untuk itu, seniman dan manajemen adalah keniscayaan zaman,” katanya.

Sementara itu, Sari Madjid yang juga adik kandung Ratna Riantiarno ini, mengatakan, sesungguhnya manajemen seni itu adalah sebuah kesepakatan-kesepakatan anatara para pelaku di dalam organisasi seni itu sendiri.

Namun kesepakatan itu lanjut dia, harus dibangun dengan keterbukan. Misalnya, mengenai honor sutradara, honor penulis naskah, dan pimpinan produksi. “Nah, hal-hal semacam itu harus disepakati, tapi harus terbuka,” katanya.

Ketika ditanya, bagaimana manajemen seniman agar produk-produknya bisa tetap eksis, diapresiasi banyak orang dan bahkan didanai perusahaan, menurut Sari Madjid kembali kepada pilihan seniman.

“Sekarang ini zamannya K-Pop begitu, apakah seniman mau memproduksi seperti itu atau mau idealis? Itu pilihan mereka. Namun ketika berkarya seniman itu mau ngomong apa kepada publik, itu kan harus bisa dipertnggungjawabkan,” pungkasnya.
 

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE