oleh

Puisi-puisi Karya Rika Salsabilla

Untukmu, NF

Siang kala itu
Asyik dengan tertawa tanpa malu
Angin datang melirih halu
Sampai pewarta menghampiriku
Di Sawah Besar meliku sebuah haru

Tangisan dan kecaman tanda merana
Menghampirimu gadis muda
Dengan rasa bangga
Kau datang menyerah
Puas katanya sampai pipi memerah

Apa yang kau rasakan, Nak?
Kau puas atas kesakitan
Seorang anak dengan tinggi impian
Sayangnya kau tenggelamkan dengan kepuasan
Kau patahkan harapan sekitar

Tidak sampai kau putuskan
Sudah kau lukai bagian harapan
Dengan maksud tanpa tujuan
Menghilangkan jiwa yang kesepian
Dasar keji tak tahu aturan

Cukup sudah, Nak
Cukuplah untuk hari ini
Menyampaikan berita kehilangan
Cukup dengan keheningan
Dan gaduhan menuntutmu hukuman

Tuhan lebih menyayangimu
Malaikat ayah dan bunda nanti
Walau di sini kehilangan
Doa mengiringi dengan kepastian
Agar tuhan mengabulkan

Dua Maret 2020


Awan bertajuk kelam tersipu
Berwalang hati bersatu
Satu-satu merasakan duka
Berkelit tanda merana
Bagi mereka di daratan sana
Panas tak cukup bukti sekarang
Sampai tubuh gamang
Menghindar dan menjauh
Entah sampai kapan berlalu

Berita ditayangkan
Seketika gemetar tak rela dikabarkan
Bukan hanya Yangtze di tepian
Sampai Iran di kejauhan
Tiba-tiba dua ditemukan
Terkejut habis tak karuan
Segera bertindak tanda siap
Sahut-sahutan kepanikan melahap
Sialnya, kita saling menyayat hebat

Disebarkan hipokrisi padat
Dengan intensi laten terikat
Bangsa ini gamam obsesif kekacauan
Tak peduli arahan yang berkera kecoklatan
Sekarang, tuhan mendengar semua
kesembuhan menjadi karunia
Mengharap manusia memuliakan sesama
Tidak ada divergensi asumsi
Tapi substansi mencapai fusi

Dua maret 2020
Menjadi kenangan
Ketika berita disebarkan
Di negeri kepulauan
Semoga tuhan berbaik hati
Bagi bangsa ini, semoga

Minggu Wanita

Bersama berjalan menghampiri
Dengan semangat datangnya pagi
Sampai matahari meninggi sendiri
Berlari mencoba peduli
Sampai terdengar dan membuat iri

Minggu hadir dengan meriah
Hari wanita katanya
Semangat dan tuangkan harapan
Tidak layu dan pupus karena hinaan
Teriakan dimuliakan

Bukan lagi diperjualbelikan
Apalagi direndahkan
Keadilan kunci jawaban
Kesetaraan adalah tuntutan
Suci lahir batin itu pilihan

Kartini dengan fajar
Sartika dengan pendidikan
Emansipasi perjuangan
Sampai hari wanita diingatkan
Menyatu karena harapan bukan paksaan

PENULIS:
Rika Salsabilla
Mahasiswi Jurnalistik di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Lahir di Jakarta 18 tahun silam. Anggota Forum Anak Jakarta. Menjadi Duta Literasi Sekolah MAN 4 Jakarta 2017. Puisinya dimuat dalam antologi bersama: Karya Santri Madrasah (MAN 4 Jakarta, 2017).

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE