oleh

Empat Pilar, Ananta: Membumikan Pancasila dan Ideologi Bangsa

LENSAPENA | Sosialisasi Empat Pilar MPR-RI merupakan media untuk membumikan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Hal ini disampaikan Anggota Komisi VI DPR RI Ananta Wahana dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR-RI di DPC PDI Perjuangan Kota Tangsel, Sabtu 20 Juni 2020.

Ananta juga mengatakan, sosialisasi Empat Pilar menjadi sangat penting, mengingat saat ini banyak kaum muda atau millenial Indonesia yang cenderung abai terhadap masalah-masalah kebangsaan. Efeknya, banyak kaum muda millenial yang buta ideologi alias tuna-ideologi. Akibat kekosongan ideologi ini pula, banyak ideologi-ideologi asing yang saling rebutan mau menguasai Indonesia. Misalnya: ekstremisme agama, liberalisme dan kapitalisme, individualisme, serta komunisme.

Belum lagi persoalan hidup berbangsa dalam level basis sosial. Kata Ananta, menurut Munawir Azis dari Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) PBNU di Kompas, 30 November 2018, berjudul Gempa Intoleransi atai Riset Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah pada Agustus – Oktober 2018 di tingkat guru sekolah Islam dan Negeri dari TK hingga SMA untuk semua pelajaran di Jakarta dan Banten, menyebutkan: 50 persen guru cenderung intoleran, 46,09 persen cenderung radikal, 40,36 persen guru setuju bahwa seluruh pengetahuan sudah terdapat dalam Kitab Suci, dan merata untuk 5 agama, 21 persen guru menentang jika tetangga yang berbeda keyakinan mengadakan ibadah di lingkungannya, 33 persen guru menganjurkan murid untuk berperang mendirikan Negara Islam, 29 persen guru aktif menganjurkan murid untuk ikut berperang di luar negeri membela Islam, seperti di Filipina, Suriah, Irak, Libya, dan lain-lain.

Untuk itu, menurut Ananta, Sosialisasi Empat Pilar ini juga sebagai sarana untuk mengaktualisasi nilai-nilai ideologi yang terkandung dalam Empat Pilar tersebut.

“Empat pilar yang dimaksud yakni Pancasila yang merupakan pondasi hidup kita sebagai ideologi bernegara, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 sebagai dasar konstitusi bernegara, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai negara berdaulat, dan Bhineka Tunggal Ika sebagai filosofi keberagaman,” ujar Ananta Wahana.

Penulis buku “Melawan Korupsi di Banten” yang terbit pada Januari 2014 silam ini juga menjelaskan, sosialisasi Empat Pilar dilakukan untuk menyelaraskan antara pengetahuan materi dan implementasi nilai yang terkandung di dalamnya.

“Peta di luar itu perlu jawaban, bahwa Pancasila itu sebagai dasar negara harus menjadi moral individu dan negara. Karena banyak yang hanya baru mengenal istilah Pancasila, tapi operasionalnya itu belum nyambung. Pengurus partai dan para kader ini kan nanti ada di lapangan. Sosialisasi ini menjadi bekal untuk menghadapi polemik di masyarakat,” papar Ananta.

Melalui kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR-RI ini, Ananta berharap, para kader dapat membumikan ajaran Bung Karno, yang salah satunya adalah Pancasila. Setiap silanya sudah jelas terkandung tentang Ketuhanan yang Maha Esa, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadialan dengan formulasi yang tepat sesuai dengan aline ke IV pembukaan UUD 1945. Ia juga menyinggung soal gotong royong dalam membangun kedaulatan pangan di tengah pandemi COVID-19.

“Misalnya saat menghadapi COVID-19 ini, banyak masyarakat yang mengalami mutasi ekonomi ke bawah. Tadinya orang mampu mungkin kini tidak mampu, yang tadinya miskin jadi sangat miskin. Maka itu, kita harus ambil bagian turut membantu bergotong royong meringankan beban saudara kita dengan kemampuan yang kita miliki,” katanya.

Di tempat yang sama, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Tangerang Selatan Wanto Sugito mengapresiasi adanya kegiatan tersebut. Menurutnya, sosialisasi 4 pilar sangat penting untuk me-refresh pengetahuan terutama tentang ideologi negara dan implementasinya. 

“Empat pilar ini sebagai pijakan dasar. Kalau kita tidak memahami ideologi sendiri, bagaimana kita akan mempraktekannya. Ini sebagai charge cara berpikir para kader, tidak boleh bosan mendengar sosialisasi ideologi Pancasila karena itu berkaitan dengan praktek kehidupan berbangsa dan bernegara. Saya sangat apresiasi. Ini sangat penting untuk dipahami semua kader di Tangerang Selatan,” kata Wanto.

Wanto berharap, para kadernya terus berkomitmen menjalankan ajaran Bung Karno dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila di kehidupan sehari-hari.

“Bahwa setelah menguasai materinya, implementasinya juga penting. Misalnya menghidupkan gotong royong atau ada yang punya kemampuan lebih saling membantu masyarakat yang membutuhkan, terlebih di tengah pandemi COVID-19 ini,” pungkasnya.

Untuk diketahui, Sosialisasi Empat Pilar MPR-RI yang digelar oleh Ananta ini, sangat ketat, dan setiap peserta wajib menerapkan protokol kesehatan. Peserta harus mencuci tangan menggunakan sabun, pakai masker, dan ditest suhu tubuhnya menggunakan thermometer gun. Peserta juga harus menjaga jarak, tidak berdempet-dempetan (physical distancing).

Mengingat banyaknya peserta, dan pentingnya menjaga jarak, kegiatan ini dibagi menjadi tiga lokasi: pertama di gedung lantai dua, lalu di lantai satu, dan di luar gedung. Seluruh peserta mengikuti kegiatan ini secara paralel, mendengar dan melihat melalui infokus.

Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan COVID-19, sekaligus sebagai percontohan, dimana sebelumnya menjalankan ‘stay at home”. Jadi, meski pun kegiatan ini dilaksanakan dalam satu gedung secara bersamaan, namun serasa seperti online.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE