oleh

Waduh! Gara-gara COVID-19, Kasus Perceraian di Jakarta Pusat Melonjak

LENSAPENA | Dampak mewabahnya virus COVID-19 ternyata bukan hanya berdampak pada satu sektor. Kehidupan rumah tangga pun ikut terguncang. Buktinya, banyak suami istri yang terpaksa cerai, karena kesulitan ekonomi akibat pandemi global yang sudah mewabah di lebih dari 200 negara di dunia tersebut.

Tercatat, selama lima bulan terakhir, sebanyak 600 pasang suami istri mengajukan perceraian di Pengadilan Agama Jakarta Pusat.

Ketua Pengadilan Agama Jakarta Pusat, Sirajuddin Sailellah mengatakan, angka perceraian di Jakarta Pusat mengalami kenaikan selama pandemi COVID-19.

“Selama Maret hingga 21 Juli 2020, tercatat ada 600 pasangan suami istri (pasutri) mengajukan perceraian. Angka perceraian ini meningkat dan cukup tinggi,” ucap Sirajuddin, Rabu 22 Juli 2020.

Dijelaskannya, perkara gugatan cerai yang masuk ke Pengadilan Agama Jakarta Pusat setiap bulannnya mencapai 250 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 150 perkara telah diputus atau diselesaikan.

Dirinya juga memaparkan faktor penyebab perceraian ada beberapa kasus, seperti perselisihan, pertengkaran, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), masalah ekonomi dan faktor lainnya.

“Jadi kalau dibandingkan tahun 2019, angka perceraian selama 2020, meningkat cukup tinggi,” ujar Sirajuddin.

Ia juga mengaku sangat prihatin. Menurutnya, terjadinya perceraian ini dikarenakan beberapa sebab mulai faktor ekonomi, KDRT dan lain-lain.

“Penyebab terjadinya perceraian ini dikarenakan masyarakat tingkat stresnya cukup tinggi. Karena di rumah saja sehingga menjadi tidak terkendali. Selain itu faktor ekonomi dan keimanan sehingga membuat mereka mengambil sikap yang tidak terkendali yang tidak seharusnya terjadi,” katanya.

Ditambahkan, saat ini masyarakat sudah akrab dengan hendphone atau gadget dan media sosial sehingga dengan mudah tercurahnya ke sana-kemari. Akibatnya, banyak yang manfaatkan kondisi seperti itu.

Faktor ekonomi saat ini juga menjadi penyebab tingginya kasus perceraian. Ia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan keimanan, rasa syukur dan selalu sabar dalam menghadapi kehidupan.

“Pesan saya kuatkan keimanan, banyak bersyukur dan sabar. Jika hal itu sudah terpatri dalam diri, tidak akan berdampak suami marah pada istri atau sebaliknya, sehingga tidak akan terjadi gugat cerai,” pungkasnya.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE