oleh

Ketika Ketua RT Tampil Menjadi “Dirigen Paduan Suara” di Tengah “Pageblug”

CORONA Virus Disease 2019 (COVID-19) masih menjadi pandemi, dan kasus virus asal Wuhan-Tiongkok ini juga masih terus bertambah. Berbagai upaya pun dilakukan pemerintah dalam memutus rantai serta mencegah penyebaran virus yang sudah kadung melus itu.

Tidak dipungkiri, kerja keras pemerintah ini butuh kerjasama. Artinya, masyarakat dan seluruh komponen bangsa tidak boleh menganggap remeh terhadap pentingnya mencegah dan meminimalisir penyebaran virus yang sudah merenggut ratusan ribu nyawa di seluruh dunia tersebut.

Kepatuhan, kesadaran, serta kebersamaan dan saling mengingatkan menghadapi ‘pageblug’ ini, perlu terus ditanamkan: agar keresahan dan kegelisahan yang disebabkan oleh virus yang hingga saat ini belum ditemukan faksin dan obatnya tersebut segera reda.

Setengah tahun sudah rakyat menunggu, kapan benda yang tak nampak wujudnya itu tidak lagi menjadi momok yang menakutkan, dan segera berdamai dengan keadaan: ekonomi kembali pulih, anak-anak sekolah normal lagi, dan segala persoalan yang sempat tertunda oleh munculnya ‘pageblug’ bisa segera diselesaikan.

Di tengah situasi yang sudah setengah ‘morak-marik’, ada selarik cerita di salah satu RT di Kompleks Perumahan Mekar Asri II, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, yaitu RT 03 RW 06.

Ketua RW mengimbau warganya untuk tidak membuat perlombaan Agustusan atau di moment HUT ke-75 Kemerdekaan RI, bahkan yang sudah kadung berjalan di-stop. Karena berdasarkan surat edaran bupati warga tidak boleh membuat kerumunan, hal ini bisa berpotensi menjadi cluster baru penyebaran COVID-19.

Ini perlu diapresiasi, yang penting Ketua RW juga ikut mematuhi seperti apa yang telah ditekankan oleh warganya. Tidak membuat kerumunan, apalagi mengumpulkan warga bikin hiburan musik apa pun atau apa lah yang menimbulkan warga “uyek-uyekan”.

Tapi kalau Ketua RW mengajak warganya membuat perlombaan yang edukatif secara online atau dengan video digital, boleh lah. Karena ini kan tidak menimbulkan kerumunan, justru malah menjadi hal yang baru, dan mengenalkan dunia yang baru kepada warganya: apalagi yang dilombakan hal-hal positif dan bermanfaat, tentu akan menjadi sesuatu yang “top merkotop”.

Nah, di RT 03 RW 06 ini, Ketua RT yang begitu patuh dengan apa yang diimbaukan oleh Ketua RW-nya tersebut, nyarus “down” karena Agustusan sebagai momen tahunan yang selalu dinantikan oleh seluruh rakyat Indonesia dalam bersuka cita itu harus dibungkam oleh virus asal Wuhan-Tiongkok yang sudah terlanjur menjadi “pageblug” alias pandemi itu. Sementara jauh-jauh hari sudah dirapatkan dengan karang taruna bahwa Agustusan bakal dilaksanakan semeriah mungkin.

Akirnya, diputuskan bahwa perayaan HUT ke-75 Kemerdekaan RI di wilayah RT 03 RW 06 Kompleks Perumahan Mekar Asri II tetap digelar, tapi semua perlombaan dilaksanakan melalui video digital: jadi, tidak ada kerumunan, karena semua berkarya dari rumah, dan pembagian hadiahnya pun dilakukan secara “dor to dor”.

Yang paling menarik dari gagasan perpanjangan tangan presiden di tingkat RT ini adalah ketika menggelar lomba tumpeng pada puncak acara tersebut.

Sudah pasti, setiap gang saling berkompetisi ingin menjadi juara. Bukan saja pada bagaimana menyajikan ‘buceng’ dengan aneka menu yang bikin ‘ngiler’ dan penampilannya yang tematik. Tapi saling merlomba bahwa dari setiap gang, ada tujuh gang, menunjukkan bagaimana kepatuhannya terhadap protokol kesehatan. Bahkan, tim juri yang terdiri dari karang taruna itu tidak diperbolehkan masuk area gang sebelum mengikuti protokol kesehatan: wajib cuci tangan dengan sabun dan handsanitizer, bahkan hingga dicek suhu tubuhnya menggunakan thermometergun.

Sebagai penulis, saya menilai bahwa ini adalah bukti keberhasilan Ketua RT sebagai kepala pemerintahan di tingkat paling bawah itu dalam menjadi dirigen memadukan suara rakyatnya pada sebuah ajang yang positif dan menggembirakan.

Bisa dibilang, tak perlu “gembar-gembor” memberikan tekanan ini dan itu dalam melawan ‘pageblug’, tapi cukup dengan kreativitas yang positif, kesadaran masyarakat muncul dengan sendirinya.

Saya menyebut, ini adalah “paduan suara” yang sesungguhnya, karena “paduan suara” yang dimaksud di sini adalah penggambarkan sebuah kesadaran di mana setiap prilaku dan sikap adalah sebuah “pakem”, yang harus dipatuhi dan diikuti nadanya sama persis dengan not, dan syair lagu yang dibuat oleh penciptanya.

Dan, sepertinya, apa yang dilakukan oleh sang ketua RT ini juga bisa menjadi rujukan bahwa lewat ajang lomba yang tidak “ubyak-ubyuk” bergerombol, atau “bengak-bengok”, ternyata cukup jitu dalam menanamkan kesadaran tentang pentingnya protokol kesehatan di tengah pandemi COVID-19.

Widi Hatmoko
Jurnalis/Pemerhati Budaya

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE