oleh

Kubro Siswo, Tari Keprajuritan dan Latar Belakang Penyebaran Islam di Jawa

LENSAPENA | Kubro Siswo adalah salah satu seni koreografi yang dimainkan secara massal. Gerakan dan dandanan tarian Kubro Siswo bercirikan prajurit yang sedang berjuang melawan penjajah, sehingga tarian ini berirama energik dan penuh semangat.

Tarian ini sangat populer di Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta, terutama Sleman, Kulon Progo dan sekitarnya. Namun beberapa sumber menyebutkan bahwa Kubro Siswo merupakan tarian khas Kendal Bangunkerto Turi, Sleman, DI. Yogyakarta.

Tari Kubro Siswo biasanya dimainkan pada malam hari, dengan durasi waktu sekitar 5 jaman. Tarian ini tak lepas dari aroma mistis, sehingga tak jarang di tengah-tengah seni tradisional yang bernafaskan spiritual itu disisipi dengan ritual mengundang “roh” oleh pawang, yang kemudian masuk ke tubuh penari dan menyebabkan penari kesurupan. Pada saat itulah, atraksi-atraksi mendebarkan terkadang muncul di luar nalar pemikiran kita, seperti; mengupas kelapa dengan gigi, berjalan di atas pecahan kaca atau duri, dan bermain bola api.

Di puncak performance tarian Kubro Siswo ini biasanya sang pawang akan memaksa para pemain melepaskan “roh” dari tubuh penari. Ketika penari sudah sadarkan kembali maka acara selesai.

Nah, bicara soal tari Kubro Siswo, berbagai sumber menyebutkan bahwa tarian ini berlatar belakang penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa. Kubro Siswo berasal dari bahasa Jawa, yang artinya Kubro adalah besar dan Siswo sendiri adalah murid. Jadi, tarian ini memiliki arti murid-murid yang memiliki pengabdian besar terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Salah satu ciri khas tarian ini disebut-sebut sebagai tari penyebaran Agama Islam adalah, tesenian ini diiringi dengan lagu qasidah yang liriknya diganti dengan pesan-pesan dakwah dalam Bahasa Jawa. Sedangkan musik pengiringnya adalah kendang, bende, drum, bedhug, ketiplak, dan markis.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE