oleh

Penari Ndolalak Bisa Kesurupan, Benarkah Ini Penyebabnya?

LENSAPENA | Ndolalak atau Dolalak adalah salah satu seni tradisi dari daerah Purworejo-Jawa Tengah. Ndolalak merupakan seni koreografi yang memiliki sejarah perjuangan rakyat Purworejo pada masa kompeni Belanda.

Saat ini, seni Ndolalak sudah berkembang luas, tidak hanya di daerah asalnya, tapi juga ke daerah lain seperti Tangerang, Jakarta dan sekitarnya.

Ciri khas dari tarian ini adalah pada kostum sang penari, yaitu mengenakan seragam ala prajurit kompeni. Konon, kostum ini diambil dari sejarah rakyat Purworejo yang menyamar dan menyusup sebagai prajurit kompeni.

Sama halnya dengan tari Jathilan, Jaranan atau Kuda Lumping, penari Ndolalak ternyata juga bisa kesuripan. Saat kesurupan, mereka bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan dalam keadaan biasa atau normal. Misalnya: memakan sesuatu yang tidak lazim dilakukan oleh manusia normal. Berlagak atau bertingkah aneh-aneh. Serta, bisa bicara dengan logat atau gaya orang lain.

Pada saat kesurupan, jika diganggu oleh orang lain dengan siulan atau kata-kata ejekan, melecehkan, serta merendahkan kekuatannya biasanya mereka akan marah, kalap atau dalam istilah Jawa disebut ‘ndadi’.

Benarkah mereka kerasukan mahluk halus?

Nah, dalam kelompok kesenian Ndolalak ini, biasanya selalu di bawah naungan seseorang yang dianggap mempunyai kemampuan dan kekuatan lebih secara magic. Bisa dikatakan pula sebagai sesepuh, atau sebagian orang ada yang menyebutnya sebagai pawang.

Biasanya, sesepuh atau pawang ini menguasai mantra tertentu serta dinilai cukup berwibawa dan bisa mengendalikan seluruh pemain. Selain itu, ada juga seseorang atau beberapa orang pemain yang cukup setara dengan gurunya. Mereka inilah yang biasanya berperan untuk membuat para pemain bisa kesurupan atau kerasukan serta menyadarkannya.

Sebelum permainan dimulai selalu diawali dengan persembahan sesaji atau dalam istilah Jawa “ubormpe”, lalu membacakan doa-doa tertentu oleh sesepuh atau pawang kelompok permainan tersebut. Selanjutnya, biasanya akan dibisikkan mantra-mantra tertentu kepada pemain yang bersedia kerasukan.

Karena pengaruh kewibawaan dan kepercayaan yang tinggi akan guru atau sesepuh, atau bahkan mungkin karena tekanan untuk dapat menampilkan diri sedemikian kuat, maka pemain tersebut bisa kehilangan kesadaran dan menjadi kesurupan.

Jika dalam waktu tertentu ternyata dia belum bisa kesurupan maka dia akan terus berusaha menari serta terus menekan kesadarannya sendiri hingga kehilangan kesadarannya atau setidaknya kesadarannya menjadi tipis. Pada saat inilah, orang lain atau penonton menganggapnya kerasukan mahluk halus.

Seorang pemain yang demikian menguasai atau menjiwai sebuah seni, jika melihat dan mendengar tetabuhan musik (bukan rekaman) yang mengiringi biasanya bisa langsung terpanggil untuk menari dengan penuh semangat.

Bahkan, pada saat letihan pun, para penari Ndolalak ini juga bisa kesurupan seperti saat sedang pentas yang sesungguhnya.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE