oleh

Sate Padang Takana Juo “Kembang-kempis” di Tengah Pandemi COVID-19

LENSAPENA | Pendapatan merosot, sementara kebutuhan hidup tidak bisa dibendung. Namun apa boleh buat, semua harus tetap dijalani. Hanya dengan bersyukur dan terus berusaha, agar hidup tetap berjalan, serta harus mengikuti aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Itulah yang dirasakan oleh Uda (67), pemilik gerobak Sate Padang Takana Juo yang mangkal di depan Ruko Blok C Citra Raya, Kecamatan Cikupa, Tangerang. Betapa tidak, semenjak Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) menjadi pandemi di Indonesia, ia harus kehilangan banyak pelanggan. Sate yang dijajakannya tak banyak disentuh pembeli, sehingga penghasilannya ‘kembang-kempis’.

“Semenjak corona, semua turun drastis. Hanya bisa buat bertahan hidup saja,” ujar pria gaek asal Priaman, Sumatera Barat saat ditemui tim lensapena.id.

Ia juga mengeluhkan, sebelum virus asal Wuhan-Tiongkok tersebut menjadi pandemi, begitu buka, pembeli sudah nganteri. Namun kini bukan lagi kuwalahan melayani pembeli, namun capek menunggu waktu pembeli datang.

Sebelum pandemi COVID-19, Ia bisa menjual 8 sampai 10 kilogram daging sate per-hari, tetapi akhir-akhir ini hanya bisa terjual di bawah 4 kilogram, itu pun terkadang tidak habis.

Diru situ pula, Ia terpaksa harus mengubur banyak keinginannya. Karena, jangankan untuk membeli sesuatu yang ia senangi atau pun pulang ke kampung halamannya di Sumatera, bisa dapat uang buat makan saja sudah bersyukur.

“Sebelum corona, buka jam delapan malam pembeli langsung ngantri, tapi sekarang capek duduk nunggu pembeli,” keluhnya.

Uda yang sudah sejak 12 tahun lalu meninggalkan profesinya sebagai tukang jahit dan beralih menjadi tukang sate padang ini, hanya bisa berharap bahwa COVID-19 segera selesai dan pemerintah mencabut PSBB.

 

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE