oleh

Anak Krakatau Jadi Kawasan Wisata Cagar Alam

LENSAPENA | Gunung Krakatau yang terletak di Selat Sunda, tepatnya antara Pulau Jawa dan Sumatera merupakan gunung berapi atau vulkanik aktif yang pada tahun 1883`meletus sangat dahsyat hingga menggemparkan dunia.

Sebelum meletus pada tahun 1883, Gunung Krakatau pernah meletus pada tahun 1680 dan menghasilkan lava andesitik asam. Lalu pada tahun 1880, aktif mengeluarkan lava namun tidak meletus. Barulah, setelah kurang lebih 200 tahun tertidur, pada tahun 1883 vulkanis Gunung Krakatau aktif dan meletus.

Berbagai sumber menyebutkan, letusan tersebut terjadi pada 26-27 Agustus 1883. Letusan Gunung Krakatau terdengar hingga Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, atau sekitar 4.653 kilometer. Saking dahsyatnya, ledakkan gunug tersebut diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II. Dalam peristiwa meletusnya gunung yang disusul dengan tsunai ini, diperkirakan sebanyak 36.000 jiwa lebih meninggal dunia.

Akibat letusan tersebut, menyebabkan perubahan iklim global, dan dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari pun bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York. Peristiwa ini pun tercatat sebagai bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut.

Dari peristiwa meletusnya Gunung Krakatau munculah Gunung Anak Krakatau, yaitu pada sekitar tahun 1927. Gunung Anak Krakatau yang merupakan sisa dari letusan gunung tersebut, terus tumbuh hingga puncaknya mencapai 230 meter dari permukaan laut.

Proses munculnya Anak Krakatau ini karena kegiatan vulkanik di bawah permukaan laut, sehingga muncul sebuah dinding kawah ke permukaan laut sebagai hasil proses erupsi. Pertumbuhan ini terus berlangsung membentuk pulau yang kemudian terus berkembang hingga membentuk gundukan gunung.

Saat ini kawasan tersebut menjadi salah satu kawasan wisata cagar alam, dan dilindungi. Namun demikian masyarakat umum tidak diperbolehkan mendaki pincak gunung tersebut. Kecuali telah mendapatkan Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi) yang dikeluarkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Wisatawan yang ingin melihat bekas gunung berapi yang pernah meletus dan menggemparkan dunia tersebut, hanya diperbolehkan ke beberapa tempat seperti Pulau Rakata, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE