oleh

Empat Pilar MPR RI, Ananta: Ini Tanggung Jawab Moral dalam Ideologi

LENSAPENA | Puluhan masyarakat dari berbagai lintas kelompok dan golongan mengikuti kegiatan sosialisasi Empat Pilar yang digelar oleh Anggota MPR RI dari Dapil Banten III, St. Ananta Wahana, di Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis, Kampung Babakan, Kelurahan Bonang, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Sabtu 26 September 2020.

Empat Pilar MPR RI yaitu Pancasila sebagai dasar dan ideologi Negara; UUD tahun 1945 sebagai konstitusi Negara serta ketetapan MPR; NKRI sebagai bentuk Negara; dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara itu, dibahas secara jelas dalam sosialisasi yang menghadirkan narasumber Ito Prajna Nugraha.

Anggota MPR RI dari Dapil Banten III, St. Ananta Wahana menjelaskan bahwa ia sengaja mengundang masyarakat dari berbagai lintas dan golongan dalam kegiatan tersebut. Bukan tanpa alasan, kata Ananta, karena mereka adalah konstituen yang kerap menggunakan fasilitas dan program pemerintah yang dia perjuangkan, sehingga, sebagai anggota MPR RI dia berkewajiban untuk memberikan sosialisai tentang Pancasila sebagai idelogi bangsa.

“Makanya, ketika merek menikmati program pemerintah yang kita perjuangkan, saya juga punya tanggung jawab moral memberikan sosialisasi Pancasila supaya secara idelogi hati dan pikiran mereka ini paham tentang artinya Pancasila, pentingnya dasar negara, kerukunan, kemudian toleransi dan lain sebagainya,” ujar St. Ananta Wahana.

Ia juga mengungkapkan, peserta yang hadir adalah dari kelompok UMKM, kelompok pondok pesantren, pura, vihara, gereja, seniman dan budayawan, serta kelompok karang taruna.

Penulis buku “Melawan Korupsi di Banten” yang terbit pada Januari 2014 lalu ini juga mengungkapkan, sosialisasi Empat Pilar ini juga sebagai sarana untuk mengaktualisasi nilai-nilai ideologi yang terkandung dalam Empat Pilar tersebut.

Sementara itu, Ito Prajna Nugraha, yang juga hadir sebagai narasumber memaparkan bahwa kehidupan berbangsa dalam level basis sosial saat ini sudah mengalami pergeseran yang mengarah pada persoalan intoleransi. Hal ini, kata Ito, dibuktikan dari survei yang dilakukan oleh berbagai lembaga survei.

Menurut Munawir Azis dari Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) PBNU di Kompas, 30 November 2018, berjudul Gempa Intoleransi atai Riset Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah pada Agustus – Oktober 2018, kata Ito, di tingkat guru sekolah Islam dan Negeri dari TK hingga SMA untuk semua pelajaran di Jakarta dan Banten, menyebutkan: 50 persen guru cenderung intoleran, 46,09 persen cenderung radikal, 40,36 persen guru setuju bahwa seluruh pengetahuan sudah terdapat dalam Kitab Suci, dan merata untuk 5 agama, 21 persen guru menentang jika tetangga yang berbeda keyakinan mengadakan ibadah di lingkungannya, 33 persen guru menganjurkan murid untuk berperang mendirikan Negara Islam, 29 persen guru aktif menganjurkan murid untuk ikut berperang di luar negeri membela Islam, seperti di Filipina, Suriah, Irak, Libya, dan lain-lain.

Untuk itu, kata Ito, kegiatan sosialisasi Empat Pilar MPR RI menjadi sangat penting dalam membangun idelogi bangsa.

“Empat pilar yang dimaksud yakni Pancasila yang merupakan pondasi hidup kita sebagai ideologi bernegara, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 sebagai dasar konstitusi bernegara, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai negara berdaulat, dan Bhineka Tunggal Ika sebagai filosofi keberagaman,” tandasnya.

Untuk diketahui, kegiatan ini digelar dengan menerapkan protokol kesehatan 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak atau physical distancing. Sebelum memasuki ruang kegiatan, peserta terlebih dahulu diperiksa suhu tubuhnya menggunakan thermometer gun. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran COVID-19.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE