oleh

Hobi Main Layang-layang? Ketahui Fakta Tentang Permainan Ini!

LENSAPENA | Layang-layang atau layangan adalah salah satu permainan tradisional yang sampai saat ini masih disukai oleh masyarakat. Layang-layang biasanya terbuat dari kertas, berkerangka yang diterbangkan ke udara dengan memakai tali atau benang sebagai kendali. Layang-layang terbang memanfaatkan kekuatan hembusan angin sebagai alat pengangkatnya.

Pasca pandemi COVID-19 ini, layang-layang atau layangan banyak dimainkan oleh masyarakat dari berbagai kalangan: mulai anak-anak, remaja, hingga orang tua, bahkan kalangan selebritis.

Nah, bicara soal layangan, ternyata tak banyak yang tahu tentang bagaimana sejarah dan asal-muasalnya. Dari berbagai sumber menyebutkan bahwa mainan tradisional yang hingga saat ini masih bertahan dan digandrungi masyarakat ini, berasal dari Cina dan menyebar ke Barat hingga kemudian populer di Eropa.

Layang-layang mulai terkenal di Eropa pada abad ke-18, yaitu ketika dipakai oleh Benjamin Franklin untuk penelitian cuaca. Pada saat itu Benjamin Franklin menggunakan layang-layang yang terhubung dengan kunci untuk menunjukkan bahwa petir membawa muatan listrik.

Benjamin Franklin sendiri adalah seorang wartawan, penerbit, pengarang, filantrofis, abolisionis, pelayan masyarakat (pejabat), ilmuwan atau penemu, diplomat, pemimpin Revolusi Amerika, sekaligus orang yang menciptakan istileh “waktu adalah uang”.

Fakta lain soal permainan layang-layang, catatan pertama yang menyebutkan permainan layang-layang adalah dokumen dari Cina sekitar 2500 Sebelum Masehi. Sedangkan penggambaran layang-layang tertua adalah dari lukisan gua periode mesolitik di pulau Muna, Sulawesi Tenggara, yang telah ada sejak 9500-9000 tahun SM.

Lukisan tersebut menggambarkan layang-layang yang disebut kaghati, yang masih digunakan oleh orang-orang Muna modern. Layang-layang terbuat dari daun kolope (umbi hutan) untuk layar induk, kulit bambu sebagai bingkai, dan serat nanas hutan yang dililitkan sebagai tali (layang-layang modern menggunakan senar sebagai tali).

Diduga terjadi perkembangan yang saling bebas antara tradisi di Cina dan di Nusantara, karena di Nusantara banyak ditemukan bentuk-bentuk primitif layang-layang yang terbuat dari daun-daunan. Di kawasan Nusantara sendiri catatan pertama mengenai layang-layang adalah dari Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin) pada abad ke-17, yang menceritakan suatu festival layang-layang yang diikuti oleh seorang pembesar kerajaan.

Selain sebagai permainan, ternyata ayang-layang diketahui juga memiliki fungsi ritual, alat bantu memancing atau menjerat, menjadi alat bantu penelitian ilmiah, serta media energi alternatif.

Di berbagai daerah di Indonesia, model layang-layang atau layangan ini memiliki bentuk, istilah penamaan serta ukuran yang berbeda-beda. Seiring perkembangan zaman pula, bentuk layang-layang juga mengalami perubahan: ada yang dibuat berbentuk naga, burung, pesawat dan lain sebagainya. Bahkan yang baru-baru ini viral bentuk layangan dibuat seperti kuntil anak.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE