oleh

Letjen Anumerta S. Parman, Korban G 30 S Ini Adik Kandung Petinggi Politbiro CC PKI?

LETNAN Jenderal TNI Anumerta Siswondo Parman atau dikenal dengan S. Parman adalah salah satu Pahlawan Revolusi, sekaligus tokoh militer Indonesia. Ia meninggal dibunuh dalam perstiwa Gerakan 30 September 1965.

S. Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, 4 Agustus 1918. Ia adalah lulusan sekolah tinggi kedokteran Belanda. Namun nasib berkata lain. Ketika Jepang menduduki Indonesia, ia bekerja untuk Polisi Militer Kempeitai Jepang. Ia sempat ditangkap karena keraguan atas kesetiaannya terhadap Jepang, namun kemudian dibebaskan. Setelah dibebaskan, ia dikirim ke Jepang untuk pelatihan intelijen, dan bekerja lagi untuk Kempeitai.

Setelah kemerdekaan Indonesia, S. Parman bergabung Tentara Keamanan Rakyat (TKR), cikal bakal Tentara Nasional Indonesia. Pada akhir Desember 1945, ia diangkat kepala staf dari Polisi Militer di Yogyakarta. Empat tahun kemudian ia menjadi kepala staf untuk Gubernur Militer Jabodetabek dan dipromosikan menjadi Mayor. Dalam kapasitas ini, ia berhasil menggagalkan plot oleh “Hanya Raja Angkatan Bersenjata” (Angkatan Perang Ratu Adil atau APRA), kelompok militer pemberontak yang dipimpin oleh Raymond Westerling, untuk membunuh komandan menteri pertahanan dan angkatan bersenjata.

Pada tahun 1951, ia dikirim ke Sekolah Polisi Militer di Amerika Serikat untuk pelatihan lebih lanjut, dan pada tanggal 11 November tahun itu, diangkat menjadi komandan Polisi Militer Jakarta.

S. Parman kemudian menduduki sejumlah posisi di Polisi Militer Nasional, dan Departemen Pertahanan Indonesia sebelum dikirim ke London sebagai atase militer ke Kedutaan Indonesia di sana. Lalu, dengan pangkat Mayor Jenderal, ia diangkat menjadi asisten pertama dengan tanggung jawab untuk intelijen Kepala Staf Angkatan Darat Letnan Jenderal Ahmad Yani.

S. Parman adalah salah satu dari enam jenderal dan seorang perwira pertama yang dibunuh oleh anggota Gerakan 30 September pada malam 30 September – 1 Oktober 1965. Dia telah diperingatkan beberapa hari sebelum kemungkinan gerakan komunis. Pada malam 30 September – 1 Oktober, tidak ada penjaga yang mengawasi rumah S. Parman di Jalan Syamsurizal No.32

Seperti dilansir wikipedia; berdasarkan istri S. Parman, Sumirahayu, pasangan itu terbangun dari tidur mereka di sekitar 4:10 WIB pagi karena mendengar suara sejumlah orang di samping rumah. Lalu ia pergi untuk menyelidiki, dan dua puluh empat pria dalam seragam Tjakrabirawa (Istana Garda) menuju ke ruang tamu.

Orang-orang itu mengatakan bahwa dia dibawa hadapan Presiden sebagai “sesuatu yang menarik yang telah terjadi”. Sekitar 10 orang pergi ke kamar tidur ketika S. Parman berpakaian. Istrinya lebih curiga dari orang-orang, dan mempertanyakan apakah mereka memiliki surat otorisasi, yang salah satu pria jawabnya memiliki surat sementara menyadap saku dadanya.

S. Parman meminta istrinya untuk menelpon apa yang terjadi pada komandannya, Ahmad Yani, tetapi kabel telepon telah diputus. Parman dimasukkan ke dalam truk dan dibawa ke basis gerakan di Lubang Buaya. Malam itu, bersama dengan tentara lain yang telah ditangkap hidup-hidup, S. Parman ditembak mati dan tubuhnya dibuang di sebuah sumur bekas.

Jasad S. Parman bersama korban lainnya, yaitu Jenderal Ahmad Yani; Letjend Suprapto; Letjend DI. Panjaitan; Letjend MT. Haryono; Mayjend Sutoyo Siswomiharjo; dan Kapten Pierre Tendean ditemukan pada 4 Oktober 1965, dan mereka dimakamkan pada tanggal 5 Oktober dengan pemakaman kenegaraan bertepatan dengan Hari Angkatan Bersenjata.

Di balik sosok Letjend S. Parman seorang prajurit militer yang cerdas, ternyata ia adik kandung salah satu tokoh elit atau petinggi Politbiro CC PKI, Sakirman. Dalam beberapa hari terakhir, cerita tentang dua kakak-adik itu menjadi musuh; satu TNI, satu lagi PKI, beredar luas di media sosial (medos), maupun portal beberapa website, dan media ‘online’.

Sakirman lahir tahun 1911, terpaut 7 tahun lebih tua dari adiknya, S. Parman. Ia disebut tidak kalah mentereng dan jenius dari adiknya. Sakirman yang lulusan “Technische Hooge School” (THS) atau sekarang ITB ini, adalah seorang Insinyur, yang sejak sebelum masa kemerdekaan juga terlibat dalam banyak peristiwa penting. Meski sipil, seorang insinyur, Sakirman juga pernah menyandang pangkat Letnan Kolonel dalam pemerintahan awal-awal kemerdekaan. Tapi berpuluh tahun kemudian, dua bersaudara ini ternyata berbeda jalan. Sangat berbeda.

S Parman, yang jelas terlatih dalam bidang intelijen, tahun 1960-an, habis-habisan menolak ide pembentukan Angkatan Ke-5 yang digagas oleh PKI. Dia tidak mau jutaan rakyat, petani dan buruh tiba-tiba diberikan senjata. Menurut S Parman, itu sungguh strategi licik yang amat membahayakan.

Kakaknya, Sakirman, justru memiliki pendapat berbeda. Sebagai elit Politbiro CC PKI, ia habis-habisan menggelontorkan ide tersebut agar direstui penguasa. Elit PKI tahu persis, hanya TNI yang masih menjadi penghadang ide besar mereka mengambil-alih kekuasaan. Maka apa pun harus dilakukan untuk menyingkirkan TNI, termasuk fitnah keji sekalipun, seolah-olah TNI-lah yang hendak mengkudeta pemerintah. S Parman dan Sakirman menjadi seteru politik yang nyata. Dua kakak-adik itu menjadi musuh; satu TNI, satu lagi PKI.

Hari itu, entah kebencian sebesar apa yang membuat seorang kakak kandung tega melihat adiknya masuk dalam daftar Jenderal yang diculik. Hari itu juga, Letjend S Parman dibawa hidup-hidup ke sebuah sumur tua, di sana dia ditembak, kemudian dimasukkan ke dalam sumur tua. Jasadnya yang sudah menyedihkan, ditemukan beberapa hari kemudian.

Dari Berbagai sumber

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE