oleh

Pasien Meninggal Suspek COVID-19 Versi Metro Hospitals Pro dan Kontra

LENSAPENA | Keluarga dan kerabat H. AK, warga Desa Sukanegara, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, yang merupakan pasien meninggal di Rumah Sakit (RS) Metro Hospitals Cikupa masih meyakini bahwa yang bersangkutan meninggal bukan karena suspek COVID-19. Melainkan meninggal karena penyakit yang diderita dan pernah didiagnosa oleh dokter sebelumnya.

H. AK, pasien meninggal yang disebut karena suspek COVID-19 tersebut, berada di Ruang IGD RS Metro Hospitals kurang lebih selama 18 jam, yaitu dari hari Sabtu 19 September 2020 sekitar pukul 10:00 WIB, dan meninggal pada Minggu 20 September 2020 subuh, pagi hari.

Menurut Zilly Ahmad, salah seorang kerabat dekat pasien meninggal, berdasarkan diagnosa beberapa dokter rumah sakit tempat dia pernah menjalani pemeriksaan sebelumnya, H.AK memiliki riwayat penyakit gagal ginjal, liper, dan jantung.

Nah, sesuai dengan pedoman COVID-19, seseorang dapat disebut sebagai suspek COVID-19 jika memiliki salah satu atau beberapa kriteria berikut ini:

  • Mengalami gejala infeksi saluran pernapasan (ISPA), seperti demam atau riwayat demam dengan suhu di atas 38 derajat celsius dan salah satu gejala penyakit pernapasan, seperti batuk, sesak napas, sakit tenggorokan, dan pilek.
  • Memiliki riwayat kontak dengan orang yang termasuk kategori probable atau justru sudah terkonfirmasi menderita COVID-19 dalam waktu 14 hari terakhir.
  • Menderita infeksi saluran pernapasan (ISPA) dengan gejala berat dan perlu menjalani perawatan di rumah sakit tanpa penyebab yang spesifik.

Namun sayang, ketika dikonfirmasi terkait hal ini, pihak RS Metro Hospitals Cikupa tidak menjelaskan H.AK masuk dalam kreteria suspek COVID-19 yang mana. Humas RS Metro Hospital, Yoyok Adjar, mengatakan bahwa ini menyangkut privasi pasien. Pihak rumah sakit hanya menyimpulkan bahwa pasien suspek COVID-19 berdasarkan hasil pemeriksaan tim medis rumah sakit tersebut.

“Itu berdasarkan hasil pemeriksaan menunjukkan, ada arah ke suspek COVID-19,” ujar Yoyo Adjar saat dihubungi lensapena.id, Senin 21 September 2020 sore.

“Dikatan suspek dasarnya dari hasil lab (laboratorium-red). Namun tanda tandanya apa dari hasil lab, RS tidak bisa menyebutkan karena itu menyangkut rahasia pasien. Karena RS bisa dituduh membocorkan rahasia medis pasien,” kata Yoyok melanjutkan.

Sementara itu, Juru Bicara Satuan Tugas COVID-19 Kabupaten Tangerang, dr Hendra Tarmidzi, mengungkapkan bahwa pihak keluarga pasien yang meninggal itu mestinya percaya dengan hasil pemeriksaan pihak RS Metro Hospitals tersebut.

“Intinya keluarga harus percaya ke RS. Kalau gak percaya, kepada siapa lagi percaya tentang kesehatan,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, meskipun pihak RS Metro Hospitals menyatakan H.AK meninggal karena suspek COVID-19, proses pemakaman dilakukan secara normal, tidak dengan protokol kesehatan. Pihak keluarga pasien juga telah mengisi dan menandatangani formulir dari pihak rumah sakit disaksikan kepala desa, camat, dan pihak aparat keamanan terkait permohonan pemulasaraan jenazah dengan cara biasa.

Hingga berita ini diturunkan, lensapena.id pun belum mendapatkan informasi apakah warga, kerabat dan keluarga H.AK yang ikut mengurus jenazah hingga ke pemakaman tersebut menjalani rapid test atau pun test swab untuk memastikan apakah ada cluster baru penyebaran virus asal Wuhan-Tiongkok dari peristiwa tersebut.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE