oleh

Srawung Sastra, Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah Menyapa

LENSAPENA | Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (BBPJT) menggandeng Sanggar Smara Muruhita , Lesbumi Jateng, dan Ambalart menggelar hajat “Srawung Sastra”. Kegiatan sastra yang mengusung tajuk “Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah Menyapa” ini menghadirkan penyair Budi Maryono dan Novelis Handry TM sebagai pemantik obrolan berlangsung di Teater Terbuka Taman Budaya Raden Saleh, Jalan Sriwijaya, Semarang, Jawa Tengah, Rabu 16 September 2020 lalu.

Helat silaturahmi dan unjuk kreativitas ini sekaligus juga jadi ajang pisah sambut mantan Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (BBPJT) Dr. Tirto Suwondo, M.Hum dan Kepala BBPJT yang baru Dr. Ganjar Harimansyah Wijaya, S.S, M.Hum dengan para penggiat komunitas sastra, dan sastrawan Jateng ini berlangsung dengan guyub dan gayeng. Kegiatan ini dihadiri puluhan sastrawan dan seniman Jawa Tengah yang tetap mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah di masa era tatanan normal baru.

Helat yang dipandu penyair Lukni Maulana ini dibuka dengan penampilan Komunitas KolaborArt yang mengusung seni pertunjukkan musikalisasi puisi yang punya makna tentang kehidupan. Pia Cipta berturut-turut menembangkan puisi bertajuk: Kutebak Bayang Sinarmu (Victor Roesdianto), Kapal Berlabuh di Senja jauh (Djawahir Muhammad), Selembar Daun (Djawahir Muhammad), dan Sunrise di Lovina (Pia Cipta) yang diaransemen sekaligus diiringi denting keyboard oleh Stefanus Agus Wahyono. Di jeda, tembang ditimpali pembacaan dan ekplorasi puisi bertajuk: Yang Kuminta Hanyalah oleh Wawan Kong.

Acara “Srawung Sastra” ini juga dimarakkan dengan penampilan penyair Agung Wig Patidusa,yang membacakan puisinya: “Bertanya Maka Bertanyalah”. Penyair Didit Jepee Sarutomo juga membacakan puisi karyanya “Dada” berduet dengan Munawir yang mendedahkan suluknya. Penyair Slamet Unggul juga ikut meramaikan pergelaran dengan membacakan puisi karya Handry TM, berjudul: ‘Ruang Tunggu yang Kedua”.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Ganjar Herimasyah,tak mau kalah dengan para sastrawan juga ikut unjuk kebolehan juga membacakan karya puisinya bertajuk: “Tentang Kita” yang maknanya penting berkaitan dengan gelaran “kesrawungan”.

Pada pamuncak perhelatan “Srawung Sastra”, ditutup dengan penampilan penyair NWU Gabriel Genesis yang berjudul: “Harapan yang Mengawang” dan “Selanjutnya” dalam nuansa rock yang membuat suasana malam yang sudah larut dan dingin menghangat kembali.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE