oleh

Top Markotop! Polisi Bongkar Klinik Aborsi Ilegal di Jakarta Pusat

LENSAPENA | Praktik klinik aborsi ilegal yang berlokasi di Jalan Percetakan Negara III, Jakarta Pusat dibongkar Polisi. Dalam kasus ini, sebanyak 10 orang tersangka ditangkap.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan, 10 orang tersangka tersebut merupakan pemilik klinik, dokter, tenaga medis, pekerja di klinik tersebut. Termasuk seorang ibu atau pasien dari aborsi itu sendiri.

“10 orang tersebut dengan peran masing-masing,” kata Yusri saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Rabu 23 September 2020.

Berdasarkan penyelidikan, lanjut Yusri, klinik tersebut telah beroperasi sejak 2017 atau telah tiga tahun. Berdasarkan data sejak Maret 2017 hingga Agustus 2020 lebih dari 32 ribu pasien yang melakukan aborsi.

“Untuk jumlah pasien sebanyak 780 pasien/bulan dikali 42 bulan sama dengan 32.760 pasien,” lanjut Yusri.

Adapun mekanisme untuk menjaring para pasiennya, pelaku mempromosikan secara terbuka melalui website klinik aborsi.com dan media sosial. Mereka yang membuka website klinik tersebut nantinya dihubungkan dengan salah satu kontak WhatsApp untuk dilakukan penjemputan.

Setibanya di klinik pasien diminta membayar biaya registrasi secara sebesar Rp250 ribu dengan rincian Rp200 ribu untuk biaya pendaftaran dan Rp50 ribu untuk biaya USG.

Sementara untuk biaya aborsi dilakukan dengan cara transfer e-banking ke rekening BCA atas nama LA pemilik klinik aborsi.

“Biaya yang dibebankan per pasien berkisar antara Rp2,5 -Rp5 juta tergantung usia kandungan,” ungkap Yusri.

Dalam satu hari, para tersangka mampu melakukan aborsi terhadap 5-10 dengan omzet Rp10-15 juta. Nantinya keuntungan yang didapat akan dibagi kepada semua pihak yang terlibat.

“Pembagian uang untuk dokter 40 persen, kemudian agen, dan ada untuk pegawainya itu dibayar 250 ribu sehari,” terangnya.

Yusri menambahkan, aborsi yang dilakukan oleh para tersangka dengan cara memasukkan selang untuk di sambungkan ke dalam vagina pasien melalui forsio atau mulut rahim.

“Kemudian, menginjak pedal sekitar 2 sampai 3 kali yang terhubung dengan pedal untuk menyedot janin yang masih berbentuk darah dengan proses sekitar 5 menit hingga darah sudah habis dan masuk ke dalam tabung,” tambahnya.

Atas perbuatannya, para tersangka dikenakan Pasal 346 KUHP dan atau Pasal 348 Ayat (1) KUHP dan atau Pasal 194 Jo Pasal 75 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman maksimal 10 tahun dan denda paling banyak Rp1 miliar.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE