oleh

Jadi Tukang Peti Mati di Tengah COVID-19, Pria Ini Kebanjiran Order

LENSAPENA | Kasus Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di tanah air semakin hari angkanya kian melonjak, tak terkecuali di Kota Tangerang. Hal ini pula yang menginspirasi sosok Lie A Min, salah seorang warga Kota Tangerang ini untuk ambil bagian dalam membantu rumah sakit menyediakan peti mati untuk korban COVID-19 yang meningal.

Bisnis pembuatan peti mati yang digeluti oleh Lie A Min ini berawal ketika dua anggota keluarganya meninggal akibat terpapar virus asal Wuhan-Tiongkok tersebut, dan kesulitan mendapatkan peti mati khusus untuk korban COVID-19.

Dari situlah, Lie A Min yang merupakan pengusaha furnitur di Kecamatan Benda, Kota Tangerang itu, bekerjasama dengan Jimmy, sahabatnya yang seorang event organizer kematian, mengubah setengah pabrik miliknya menjadi produksi peti mati COVID-19.

“Dua anggota keluarga saya meninggal karena COVID-19, dan mendapat peti mati yang tidak bagus. Rekan bisnis saya Jimmy seorang event organizer kematian, yang juga kewalahan akan kebutuhan peti mati. Mulai di situlah kami berdua berkolaborasi,” ungkap owner pabrik furnitur Funisia Perkasa tersebut.

Ia juga mengungkapkan, peti mati COVID-19 mulai ia produksi sejak Maret. Sejak itu, pula dirinya bersama Jimmy berkomintmen hadir untuk membantu Indonesia dalam penanganan pandemi COVID-19.

Dua sekawan ini memproduksi peti mati dengan harga murah, yaitu mulai dari harga Rp1 jutaan. Pun demikian, kata Lie, meski pun ia mematok dengan harga cukup murah, namun dalam membuat peti-peti mati itu, ia menggunakan kualitas kayu terbaik.

“Kami membantu banyak rumah sakit di Indonesia, tak terkecuali RSUD Kota Tangerang dalam memenuhi ketersediaan peti mati,” katanya.

Sementara itu, Jimmy mengungkapkan, hingga saat ini ia sudah memproduksi lebih dari 4.000 peti mati yang ia sebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Mulai dari Jabodetabek hingga Merauke. Dalam sehari ia mampu memproduksi 50 hingga 100 peti mati.

“Kami sehari mampu produksi sekitar 50 hingga 100 peti. Permintaan dan pengiriman tidak pernah ada henti setiap harinya. Kami hampir kewalahan,” ungkap Jimmy.

Jimmy mengku, ia bersama sahabatnya itu melayani peti mati untuk berbagai rumah sakit, baik swasta maupun pemerintah, termasuk juga yayasan. Tak hanya itu saja, pabrik furnitur Funisia Perkasa milik Lie A Min ini juga membuka donasi peti mati untuk mereka yang membutuhkan.

“Banyak donatur yang datang ke sini, memberikan sumbangannya untuk bantuan peti mati. Petugas kami yang akan kirim ke berbagai rumah sakit. Baik itu rumah sakit sesuai permintaan donatur atau sesuai mana rumah sakit yang lagi butuh saja,” paparnya.

Namun demikian, dengan derasnya pesanan peti mati yang saat ini digeluti, dua sahabat itu mengaku tidak menginginkan pesanan peti mati terus meningkat. Ia berharap kasus COVID-19 cepat berlalu, dan kehidupan masyarakat kembali normal.

“Kami tidak mau produksi peti mati ini tak kunjung berakhir. Karena tempat kami cari duit adalah furnitur. Kami ingin pandemi berakhir dan Indonesia cepat pulih,” pungkasnya.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE