oleh

Tiga Pelaku Penggerak Pelajar Ricuh Demo Menolak Omnibus Law Ditangkap

LENSAPENA | Akun salah satu grup media sosial Facebook bernama “STM se-Jabotabek” menjadi petunjuk pihak kepolisian untuk mengungkap siapa penggerak pelajar dalam aksi unjuk rasa penolakan Omnibus Low UU Cipta Kerja yang berujung ricuh pada 8 dan 13 Oktober 2020 lalu. Selain akun Facebook tersebut, petunjuk lain muncul dari akun Instagram “@panjang.umur.perlawanan” yang memuat hasutan dan provokasi kepada para pelajar untuk membuat kerusuhan.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Yusri Yunus, menjelaskan, dari penelusuran dua akun media sosial tersebut, pihaknya Jaya telah mengamankan tiga orang pemuda yang diduga menjadi penggerak pelajar tersebut. Tiga pelaku ini masing-masing berinisial MLAI (16), WH (16), dan SN (17).

“Polda Metro Jaya dalam hal ini Direktorat Krimsus Polda Metro Jaya telah mengamankan tiga orang ya yang memang sebagai provokasi, penghasutan, serta ujaran kebencian dan berita bohong yang tersangkut masalah demo kemarin untuk undangan yang STM itu,” ujar Kombes Pol. Yusri Yunus.

Menurut Yusri, MLAI dan WH diamankan karena berperan sebagai admin grup Facebook “STM Se-Jabodetabek” yang memuat hasutan kepada para pelajar untuk membuat kerusuhan saat berlangsungnya unjuk rasa. Grup Facebook STM se-Jabodetabek tersebut, kata Yusri, diketahui mempunyai sekitar 20.000 anggota.

Sedangkan pemuda berinisial SN, lanjut Yusri, diamankan karena memiliki peran sebagai admin akun Instagram “@panjang.umur.perlawanan” yang juga memuat konten hasutan dan provokasi kepada para pelajar untuk membuat kerusuhan.

“Memang mereka ini sudah mengundang untuk membuat kerusuhan, dia provokasi, dia munculkan semua video-video, semua untuk turun ke jalan, semua untuk melakukan perusakan atau kerusuhan,” ungkap Yusri.

Yusri juga memastikan akun tersebut hanya ingin membuat kekacauan dan sama sekali tidak ada niat untuk melakukan unjuk rasa atau menyampaikan aspirasi secara damai.

“Bukan (untuk demo), ini semua untuk melakukan kerusuhan, bukan demo, ini dihasut untuk kumpul, untuk melakukan kerusuhan,” tambahnya.

Sebelumnya, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Nana Sudjana mengungkapkan pihaknya telah mengidentifikasi sejumlah pihak yang diduga menjadi penggerak pelajar untuk terlibat dalam ricuh unjuk rasa menolak Omnibus Law Undang Undang Cipta Kerja pada 8 dan 13 Oktober 2020 lalu.

“Kami sampaikan penggerak pelajar dari SMK, SMP, bahkan sampai SD ada beberapa yang sudah kami identifikasi,” katanya.

Dari situlah, tegas Nana, pihaknya bergerak cepat dengan langsung mengamankan tiga terduga dalang penggerak pelajar untuk membuat kericuhan untuk mencegah terulangnya pelajar yang menyusup ke tengah unjuk rasa damai dan membuat kekacauan.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE