oleh

Cerita Pendek: Kurukhsetra dan Kampung Para Begal

Apa yang diungkapkan oleh warga kampung yang sudah setengah ludes itu, tetap saja akan menjadi cerita. Malah, hanya akan mewariskan peristiwa-peristiwa yang sama di kemudian hari. Buktinya, ketika hukum dianggap tidak mampu merambah, pengadilan masa dinilai mujarap untuk mencegah. Entah benar entah salah, yang pasti hanya butuh hidup aman, tanpa ada yang mengusik serta mengganggu. Lihat saja: tombak, parang, golok, badik, linggis, arit, bensin, korek api, dan segala rupa benda yang bisa untuk membunuh, dibawa. Seolah bisa membuat hidup mereka menjadi tenteram.

Suasana kampung pinggir perkebunan kelapa sawit itu pun bak Padang Kurukshetra dalam cerita pewayangan, perang Bharatayudha. Orang-orang yang menurut mereka sebagai biang keladi lah penyebabnya. Setiap kali sapi, kambing, atau motor itu raib entah ke mana, mereka itu yang dituding.

DAAL Bakal Wakili Lampung di Ajang Temu Teater se-Sumatera 2020

Bagi orang-orang tertuduh, mereka bukanlah patung. Tak mungkin hanya diam jika dimaki, dituduh maling, atau bahkan dibakar hidup-hidup. Semua ikut merasakan. Dari situlah mereka melawan. Menghimpun masa yang lebih besar lagi. Karena, mereka juga berpikir bahwa tanah itu adalah milik moyangnya, sebagai warisan.

“Ini adalah tanah moyang Kami! Kenapa Kami diusik? Kenapa Kami dituduh maling? Hutang nyawa dibayar nyawa!” Teriak mereka sepanjang jalan, sambil menghunus badik, golok, parang, dan tombak. Mereka adalah yang paling benar, katanya.

Begitu pun orang-orang yang kehilangan sapi, kambing, atau motor yang raib entah ke mana itu, juga mengaku apa yang mereka lakukan bukanlah sebuah kesalahan.

Nikita Mirzani Vs Habib Rizieq Shihab, Kedua Pendukung Saling Membela

“Warga Kami sudah terlalu lama bersabar! Selama ini, sapi, kambing, atau motor Kami raib, mereka lah yang menggasak. Mereka itu para bencoleng, maling, begal! Mereka juga tinggal dalam satu kampung, yang isinya orang-orang yang sama. Begal! Kami sering mendengar mereka ini ditangkap, dipenjara. Tapi, cepat pula mereka kembali, dan bikin ulah. Itu yang menjadikan warga Kami geram, dan mengambil langkah hukum rimba. Ini cara-cara Kami!” Ungkap salah seorang warga kampung yang terancam diserang oleh orang-orang kampung yang disangkakan sebagai begal itu.

Bibir kampung itu pun, sudah diblokade oleh aparat keamanan. Beberapa akses jalan sudah dipasang kawat berduri. Supaya, jika tiba-tiba kelompok orang-orang dari kampung yang disangkakan maling itu menyerang, tidak bisa menerobos masuk ke dalam kampung. Water Canon dan senjata gas air mata sudah siaga satu. Bahkan, laras panjang pun, sepertinya juga sudah siap memuntahkan proyektil-proyektil tajam.

Ke Rembang? Jangan Lewatkan 5 Kuliner Ini!

Sementara, di dalam sudah sepi, seperti kampung mati. Senyap, mencekam. Tak satu pun ada orang beraktivitas, seperti sebelum seorang yang dituduh maling itu tewas dengan luka memar, bacok, dan tubuh hangus terbakar. Kecuali, laki-laki dewasa yang berseliweran, siaga dengan tombak, parang, golok, badik, linggis, dan arit. Merka siap menyambut serangan orang-orang yang dianggap sebagai hama perusak kampung. Manula, anak kecil, dan para wanita sudah diungsikan di kampung-kampung sebelah. Ya, kampung yang tidak dihuni oleh orang-orang yang disangkakan sebagai maling dan begal. Sebagian diboyong ke masjid besar, dan pesantren. Maksudnya, agar mereka tetap aman. Jika tiba-tiba kampung itu diserang, tentu saja mungkin akan merangsek ke dalam masjid atau pesantren. Karena itu adalah rumah Tuhan.

Entah kenapa, tiba-tiba menjadi ruwet. Ribuan orang dari kampung yang disangkakan sebagai kampung para bencoleng ini bisa menerobos ke dalam kampung. Mereka membabi buta. Barang-barang yang berada di dalam rumah yang kosong ditinggal mengungsi, raib pula dijarah. Televisi, magic jar, baju, sarung, dan semua barang yang bisa ditenteng, digasak, sebelum rumah-rumah itu dirusak, dan dibakar. Sisa makanan yang tak sempat dibawa mengungsi, dilahap habis. Rakus.

Keistimewaan dan Manfaat Bunga Marigold (Kenikir)

Orang-orang yang tersisa di dalam kempung itu pun, menyingkir. Mereka tak mau konyol oleh orang-orang yang sudah nekat itu. Karena, kekuatan tidak seimbang. Hanya akan menjadi malapetaka yang lebih besar jika melawan.

“Memble, seperti macan ompong! Diam, tidak berkutik! Buktinya, blokade mereka diterobos, dan kampung Kami dibiarkan dijarah. Dibakar oleh orang-orang dari kampung para bencoleng!” Teriak salah seorang warga kampung dengan bibir setengah bergetar.

“Benar! Kami juga tidak habis pikir, kenapa bisa seperti itu. Padahal, aparat-aparat itu membawa bedil,” sahut warga lainnya, dengan raut muka redup, putus asa.

“Entah, Kami tak bias ngomong apa-apa. Kami kecewa. Kenapa bapak-bapak itu menjadi seperti penakut. Mana bedilnya! Manaaaa!” Seorang warga yang lain lagi, nyerocos.

Ular Belang Memiliki Mitos dan Mematikan, Bagaimana dengan Weling Albino?

Namun, apa yang diungkapkan oleh warga kampung yang sudah setengah ludes itu, tetap saja akan menjadi cerita, dan hanya akan mewariskan peristiwa-peristiwa yang sama di kemudian hari. Buktinya, ketika hukum dianggap tidak mampu merambah, pengadilan masa dinilai mujarap untuk mencegah. Entah benar entah salah, yang pasti hanya butuh hidup aman, tanpa ada yang mengusik serta mengganggu. Lihat saja: tombak, parang, golok, badik, linggis, arit, bensin, korek api, dan segala rupa benda yang bisa untuk membunuh, dibawa. Seolah bisa membuat hidup mereka menjadi tenteram. Tapi, apa nyatanya? Semua malah menjadi malapetaka.

*

Kampung itu benar-benar sudah setengah rata dengan tanah. Kebulan asap dari puing-puing sisa reruntuhan, membekas, dan membuat kampung itu menjadi nampak semakin angker. Lebih dari separuh penghuni kampung pun, sudah tungganglanggang sebelum kampung itu berubah seperti kampung sisa perang. Wajah-wajah yang sebelumnya garang; menghunus badik, golok, arit, tombak, linggis, serta segala rupa peralatan yang bisa dijadikan untuk membunuh, dalama sekejap meredup. Berubah seperti mendung, yang disusul dengan cucuran air hujan.

“Kami benar-benar sudah tidak nyaman hidup di tempat ini. Betapa tidak, hidup sedikit kaya, diusik, dimaling, digarong, dibegal. Tetapi, sebaliknya, hidup susah hanya menjadi bulan-bulanan, dan bahan olok-olokan. Tempat macam apa ini?” Seorang warga meratap, sambil meletakkan tombak di atas tanah, di depan puing-puing rumahnya yang sudah hampir rata dengan permukaan tanah.

Sambung Nyawa, Tanaman Berwarna Hijau Ini Ternyata Kaya Manfaat

Seorang yang lain lagi, tidak kalah sedihnya, menanggalkan golok dari tangannya. Matanya yang semula garang, menjadi sayup, disusul dengan genangan air mata yang merembas ke pipi, dan jatuh ke tanah, yang memang sudah basah oleh tangis anak, isteri, dan sanak saudaranya yang sedang sembunyi di kampung-kampung sebelah.

“Kalau manusia-manusia bencoleng itu tidak liar, dan membuat kehidupan Kami menjadi resah, semua tidak akan begini jadinya. Bayangkan saja, begitu mudah mereka bisa menenteng senjata api, menakut-nakuti. Menjarah barang-barang Kami. Negeri macam apa ini? Lebih baik ditembaki saja mereka, ketimbang hidup merepotkan, dan meresahkan manusia lainnya! Atau, dikerangkeng saja di penjara, dan jangan biarkan mereka keluar!” Terus, dan terus ia mengeluhkan, apa yang sedang terjadi.

*

Kampung yang ludes bagai Padang Kurukhsetra itu, menjadi semakin mencekam. Orang-orang dari kampung yang disangkakan sebagai kampung para bencoleng, sudah bergerak pulang, dengan kemenangan.

UMKM Pengen Dapat Bantuan BPUM? Baca dan Klik di Sini!

Dua, tiga, hingga empat hari, kampung itu menjadi semakin bisu. Namun, memasuki hari ke lima; satu, dua, tiga, puluhan, bahkan ratusan penghuni kampung mulai berdatangan. Tak ada cerita lain, selain bagaimana ia menahan rasa takut saat orang-orang yang disangkakan dari kampung para bencoleng itu merangsek dan memporakporandakan kampungnya. Atau, cerita menahan rasa lapar lantaran sampai berhari-hari tidak ada yang berani keluar kampung, karena bersembunyi ke dalam alas, sebab tidak memiliki sanak-saudara sebagai tumpangan untuk berlindung.

“Kepala kampung kemana, kok belum nampak?” Salah seorang warga kampung menanyakan kepada warga lainnya.
“Sampai detik ini, saya juga belum melihat,” jawab warga yang lain.
“Rumahnya juga masih nampak sepi,” tandas warga yang lain lagi.

Terang saja, tidak munculnya kepala kampung pasca kerusuhan di tanah konflik tersebut menjadi pertanyaan besar bagi warga. Terlebih, sebelum puncak penyerangan itu terjadi, tepatnya ketika salah seorang warga yang disangkakan sebagai pencuri sapi itu digeladak, keroyok masa, kepala kampung itu pula yang memberikan aba-aba. Lalu, kemana sang kepala kampung?

Di Desa Ini, Warga Rame-rame Bikin Gula Merah dari Nira Pucuk Batang Sawit

*

Laki-laki ini adalah Saniman. Namun, sayang, semua sudah terlanjur menjadi bubur. Orang yang disangkakan sebagai pencuri sapi sudah kadung ‘lewat’ nyawanya. Begitu pun dengan kampung itu sendiri, sudah mirip dengan perkampungan di Jalur Gaza. Ludes bak dibombardir tentara Israel.

Dalam pengakuannya Saniman, orang yang tewas digebuki, lalu disiram bensin dan dibakar, ada hubungan utang-piutang dengan kepala desa. “Dia tidak mencuri, tapi menagih hutang. Dia menagih hutang tengah malam. Saking jengkelnya, kepala kampung teriak maling. Terus digebuki rame-rame,” pungkasnya.

Oleh: Widi Hatmoko

Ini adalah cerita fiksi. Jika ada kesamaan nama dan tempat yang ada dalam cerita ini, hanyalah faktor kebetulan saja.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE