oleh

Sosialisasi 4 Pilar, Ananta Ungkap Sejarah “Geger Pecinan” dan Pentingnya Menjaga NKRI

LENSAPENA | Sosialisasi 4 Pilar dengan Komunitas Tionghoa di Vihara Butong Kota Tangerang, Rabu 18 November 2020, Anggota MPR RI Ananta Wahana mengungkap soal sejarah Geger Pecinan atau Perang Kuning pada tahun 1740.

Geger Pecinan atau Perang Kuning adalah peristiwa pembantaian orang-orang peranakan Tionghoa oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Batavia termasuk Tangerangbyang meluas sampai ke Semarang hingga Lasem (saat ini menjadi nama salah satu wilayah Kecamatan di Kabupaten Remang-red), Jawa Tengah.

Perang Kuning dan Perlawanan Rakyat Lasem Terhadap VOC

Menurut politisi PDI Perjuangan yang telah menelurkan buku “Melawan Korupsi di Banten” pada 2013 tersebut, Geger Pecinan atau Perang Kuning merupakan salah satu simbol perlawanan orang-orang peranakan Tionghoa yang saat itu menginginkan kemerdekaan Indonesia.

“Sejak penjajahan VOC kaum pernakan etnis Tionghoa bersatu padu dengan suku etnis lain, termasuk Jawa melawan penjajah. Begitupun naskah lengkap lagu Indonesia Raya, pertama kali dibacakan dan disebar luaskan lewat koran Sin Po, kantor berita peranakan kaum Tionghoa. Kantor berita ini didirikan oleh Liem Koen Hian, yang juga menjadi tokoh Nasional Partai Tionghoa Indonesia (PTI), dan menjadi anggota BPUPKI,” papar Ananta Wahana.

Eksodus Orang-orang Tionghoa Membawa Peradaban Baru di Lasem

Pentingnya menengok sejarah Geger Pecinan dan perjuangan peranakan Tionghoa di masa lalu ini, kata Ananta, agar orang-orang peranakan Tionghoa saat ini juga tahu sejarah perjuangan orang-orang peranakan Tionghoa tempo dulu dalam melawan penjajah. Sehingga tidak ada diskriminasi, dan memiliki kewajiban yang sama dalam menjaga NKRI.

Ketua DPRD Kota Tangerang Gatot Wibowo, yang hadir dalam kegiatan tersebut berharap, sosialisasi empat pilar ini bisa menambah wawasan, dan menambah keyakinan konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Unik, Ada Patung Bangsawan Jawa di Klenteng Gie Yong Bio Lasem

Terlebih, kata Gatot, tantangan zaman saat ini mulai menghangat oleh isu-isu intoleransi. Untuk itu, Gatot juga mengajak seluruh masyarakat Kota Tangerang untuk mempererat tali silaturahmu, berprasangka baik, dan tidak saling curiga-mencurigai. Agar persatuan dan kesatuan tetap terjaga sesuai cita-cita para pendiri bangsa.

“Mari kita pererat sesama anak bangsa, berprasangka baik. Alhamdullilah di Kota Tangerang cukup kondusif. Mudah-mudahan ini tetap terjaga, tidak ada yang menimublkan perpecahan,” kata Gatot Wibowo.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE