oleh

Terungkap, Pengakuan Camat di Kabupaten Tangerang yang Terpapar COVID-19

LENSAPENA | Penaganan penyebaran virus corona atau COVID-19 di Kabupaten Tangerang diklaim cukup berhasil. Pasalnya, yang sebelumnya berada pada zona merah, kini telah masuk zona orange, yaitu seiring dengan penyebaran COVID-19 di 8 kabupaten/ kota di Banten.

Memang, kasus penyebarannya virus asal Wuhan-Tiongkok ini tak pandang bulu dalam menjangkiti korbannya: tak peduli di instansi pemerintahan, perusahaan, industri kecil menegah, pondok pesantren bahkan rumah tanggal sekali pun.

Salah satu korban keganasan virus COVID-19 di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang adalah Camat Pasar Kemis, H. Chaidir.

Chaidir mengaku, dirinya sempat menjalani perawatan di RSUD Kabupaten Tangerang. Namun setelah dinyatakan sembuh, Chaidir diizinkan oleh dokter untuk pulang ke rumah, dan menjalani aktivitasnya seperti biasa.

Berikut ini hasil petikan wawancara eksklusif Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo Kabupaten Tangerang, Abdul Munir dengan Chaidir di Gedung Bupati Tangerang beberapa waktu lalu:

Bisa diceritakan bagaimana awal pertama kali terkonfirmasi positif COVID-19?

Kalau tahu pastinya saya kurang tahu kapan terkena virus, yang saya tahu sering menghadiri acara ke warga dan sosialisasi penanganan COVID-19 di wilayah Kecamatan Pasar Kemis, baik tingkat desa, kelurahan dan kegiatan yang dilakukan Ormas lainnya.

Bagaimana awalnya pengecekan suhu badan?

Pertama kali saya lakukan pengecekan rapid test, hasilnya reaktif. Lalu pengecekan kedua dengan swab, hasilnya negatif. Dan pengecekan ketiga dengan swab, hasilnya positif. Karena setiap ada kegiatan di Puskesmas saya seringkali hadir dalam kegiatan. Dan pada saat pengecekan swab yang ketiga, kurang enak makan, karena terasa pahit.

Bagaimana perasaan anda saat itu ketika mengetahui hal ini?

Saya tidak merasakan apapun secara psikologi, namun untuk indra perasa saya terasa pahit saja. Ternyata hasil bahwa terkonfirmasi positif COVID-19, disampaikan oleh pihak Puskesmas. Lalu saya dibawa dan diisolasi di RSUD Kabupaten Tangerang. Tidak ada perasaan apa-apa seperti panik dan sebagainya, karena tidak merasakan gejala apa pun. Hanya khawatir menularkan kepada orang terdekat terutama keluarga.

Gejala apa saja yang dirasakan?

Saya merasakan bahwa indra perasa terasa pahit.

Seperti apa proses penangannya?

Untuk penanganan di rumah sakit saya selama sembilan hari, dan selama sembilan hari saya selalu dicek rutin seperti pengecekan suhu, darah, jantung dan juga pernapasan. Dan, Alhamdulillah hasilnya normal, tetapi untuk darah ada kandungan virus COVID-19 di dalam darah.

Bisa diceritakan proses saat perawatan dan penyembuhan?

Saya di rumah sakit selama sembilan hari. Pagi hari saya dicek suhu, darah, pernapasan dan juga jantung. Lalu untuk rutinitas dilakukannya pengecekan, minum obat, istirahat. Lalu hari kedua, saya di-swab dan hasilnya tetap positif. Hari ketiga, masih tetap positif. Hari kedelapan, di-swab hasilnya negatif. Hari kesembilan hasilnya juga tetap negatif. Akhirnya saya diperbolehkan untuk pulang. Yang terpenting adalah tidur yang cukup delapan jam, makan yang banyak dan teratur, minum vitamin dan juga minum obat yang diberikan dokter. Hanya itu yang dilakukan secara rutin. Dan, mengendalikan perasaan dan pikiran yang netral dan juga positif.

Setelah dinyatakan sembuh dan diizinkan pulang, bagaimana tanggapan keluarga serta orang sekitar?

Merasa Alhamdulillah karena bisa pulang dan bisa sehat. Untuk keluarga dan tetangga tidak ada masalah, juga lingkungan kerja. Semua saling support dan saling memberi semangat. Semua juga saling mengingatkan untuk ke Puskesmas, yaitu Puskesmas Pasar Kemis dan juga Puskesmas Kotabumi.

Apa hikmah yang bisa dipetik dari kejadian ini?

Karena COVID-19 ini ada di lingkungan dan di sekitar kita, maka kita perlu waspada untuk menyikapi ini tapi jangan terlalu berlebihan. Kita harus tetap memperhatikan protokol kesehatan, dan disiplin pribadi dalam menjaga kesehatan dengan 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak.

Pesan atau imbauan kepada masyarakat?

Kedispilinan masyarakat perindividu yang diperlukan dan ditingkatkan, jangan sampai protokol kesehatan ini diabaikan, karena COVID-19 memang benar adanya di lingkungan kita, baik di rumah, di tempat kerja dan lain sebagainya, kita tetap harus waspada dan jangan panik.

Pentingnya perhatikan protokol kesehatan?

Kita harus mengedepankan protokol kesehatan yang disiplin masing-masing individu dengan tetap perhatikan 4M (menggunakan masker, mencuci Tanggan pake sabun, menjaga jarak dan menjaga dari kerumunan).

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE