oleh

Tinggal di Rumah Reot Seorang Nenek di Jayanti Butuh Bantuan

LENSAPENA | Sudah selayaknya usia senja merupakan waktu bagi seseorang untuk menikmati masa tuanya bersama keluarga. Namun, tidak bagi nenek Sukarmi (73), warga Kampung Cigereung RT 010/RW 003, Desa Pabuaran, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang.

Perempuan berusia lanjut ini diketahui tinggal seorang diri alias sebatang kara. Rumah tempat tinggalnya pun memprihatikan: jauh dari para tetangga, di tengah kebon, reot, dan nyaris roboh.

Masyarakat Jangan Terintervensi Kelompok yang Tak Setuju Kedatangan TNI-Polri

Untuk makan sehari-hari nenek Sukarmi hanya bergantung pada belas kasihan para tetangga sekitar.

Nenek Sukarmi pun mengungkapkan ketakutannya jika suatu saat rumah yang selama ini ia tinggali tersebut dapat roboh sewaktu-waktu lantaran termakan usia.

“Ya, saya takut roboh, kalau musim hujan pasti ada angin, dan kalau hujan angin saya langsung keluar rumah dan ke masjid, karena takut roboh,” ungkap Nenek Sukarmi sambil menangis, Minggu 29 November 2020.

JMSI NTB Dilantik, Pemprov Beri Apresiasi

Untuk diketahui, sejak 20 tahun Nenek Sukarmi ditinggal mati oleh suaminya, Kakek Asep. Anak Pertama Neneng (43) tidak pernah menjenguknya sudah sejak hampir 5 tahun lamanya. Sedangkan anak keduanya yaitu Dede (38) merantau ke daerah Jawa timur, dan sudah 18 tahun tidak ada kabarnya.

“Semoga saja kedua anak saya bisa peduli dan melihat kondisi saya saat ini, dan saya bisa bertemu kembali dengan kedua anak saya,” harap Nenek Sukarmi.

Wakapolda Banten Dirotasi, Ini Jabatan Barunya di Bareskrim Polri

Tetangganya, Juanda (37) membenarkan jika Nenek Sukarmi tinggal seorang diri dengan kondisi yang sangat memperihatinkan. Menurut Juanda, Nenek Sukarmi seharusnya mendapatkan bantuan dari pemerintah atau pun para dermawan.

“Betul, nenek Sukarmi tinggal seorang diri sejak ditinggal suaminya meninggal dunia 20 tahun yang lalu. Kemudian memiliki duq orang anak, namun anaknya pun kurang peduli dengan kondisi dan keadaan orang tuanya saat ini,” ungkapnya.

Gramedia Sumbangkan Buku untuk Taman Bacaan di Mekar Bakti

Perlu diketahui pula, Nenek Sukarmi kesehariannya keliling kampung mencari botol bekas minuman, dan dikumpulkannya untuk dijual. Hasil dari penjual botol bekas untuk membeli beras, serta lauk pauk untuk makan sehari-hari.

Namun, sayang, jika sedang tidak enak badan (sakit), Nenek Sukarmi hanya bisa mengandalkan belas kasihan para tetangganya.

Sementara itu, Kepala Desa Pabuaran Suhendi mengaku, pihak desa sudah sering mengusahakan untuk melakukan bedah rumah kepada pemerintah daerah. Namun hingga kini pengajuan tersebut belum juga terealisasi.

Bocah 12 Tahun Tenggelam dan Terbawa Arus Kali Banjir Kanal Barat

“Kami sudah mengajukan bantuan bedah rumah, namun hanya dikasih janji tahun depan. Karena anggaran tahun ini fokus dialokasikan ke penanganan COVID-19,” katanya.

Di tempat yang sama, Camat Jayanti Yandri Permana menjelaskan, intinya, masih banyak sekali kebutuhan untuk bedah rumah.

“Maka secara bertahap saya programkan bedah rumah melalui pagu kecamatan dan saya minta kepada kepala desa juga untuk mulai anggarankan di APB-Des mulai tahun 2021. Dan, saya juga meminta kepada beberapa perusahaan yang ada di wilayah Kecamatan Jayanti agar menghibahkan dana CSR-nya untuk membangun rumah tidak layak huni yang ada di sekitar Kecamatan Jayanti,” paparnya.

Ketua MPR RI Kukuhkan Pengurus Pusat Jaringan Media Siber Indonesia

Yandri berharap, tahun depan rumah yang tidak layak huni di wilayah Kecamatan Jayanti bisa dibangun secara bertahap.

“Dan semuanya ini harus diajukan dengan proses sistem,” pungkasnya.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE