oleh

Cerita Usang Nasi Oyek yang Kini Jadi Makanan Favorit dan Banyak Dicari

OYEK adalah sebuah produk kuliner tradisional asal tanah Jawa. Oyek berbahan dasar singkong. Jika diperhatikan sekilas, raut pipilan oyek mirip dengan butir beras. Hanya saja cenderung lebih pucat dan sedikit cokelat.

Cara pembuatannya cukup mudah, yaitu singkong yang baru dicabut, dikupas, lalu dibersihkan, dan direndam dalam air selama kurang lebih dua hari. Setelah direndam, singkong ditumbuk hingga halus, lalu dijemur di sinar matahari hingga kering.

BACA JUGA: Lagi, Biddokkes Polda Banten Gelar Rapid Test Antigen di Pelabuhan Merak

Sebelum dijemur, tumbukan singkong tadi dibentuk dulu menjadi pipilan kecil-kecil mirip butiran beras.

Supaya bisa dikonsumsi, pipilan singkong ini harus dicuci bersih agar serat-serat singkongnya tak ikut dimasak. Kemudian dikukus sekitar 10 menit. Batulah, setelah matang oyek dengan rasanya yang khas bisa dikonsumsi.

Selain oyek, ada juga tiwul. Oyek dengan tiwul hampir sama, yaitu sama-sama terbuat dari singkong yang sudah dijadikan gaplek. Hanya saja bulirannya yang agak berbeda, karena oyak bulirannya lebih kasar. Oyek dan tiwul juga sama-sama makanan pengganti nasi.

BACA JUGA: Geliat Pengrajin Gula Merah Kelapa Sawit di Desa Mekar Jaya

Nah, bicara kuliner yang satu ini, di daerah Lampung, khususnya Lampung Tengah yang mayoritas penduduknya adalah kaum petani dan para transmigran dari Jawa, oyek memiliki cerita. Di era 80-an hingga awal 90-an, oyek kerap disebut sebagai singkatan dari O-rang Y-ang E-konominya K-urang.

Kenapa demikian? Begini ceritanya: saat itu, ketika musim paceklik tiba banyak masyarakat yang mengonsumsi oyek. Karena beras mahal, sehingga masyarakat yang mayoritas petani memanfaatkan hasil singkongnya sebagian dijadikan oyek. Sedangkan padi hasil panennya, cenderung banyak dijual untuk kebutuhan hidup lainnya.

Daru situlah, oyek sering disebut-sebut sebagai konsumsi orang-orang yang kesulitan ekonomi alias O-rang Y-ang E-konominya K-urang.

BACA JUGA: Ananta Cek Realisasi CSR Perusahaan BUMN di Pesantren Daarul Falahiyyah Assalafiyyah

Namun seiring perkembangan zaman, dan taraf perekonomin masyarakat di daerah tersebut mulai meningkat, oyek kini menjadi cerita usang tentang perjalanan hidup di masa sulit tempo dulu saat musim paceklik.

Pun demikian, oyek tidak hilang begitu saja. Tidak pula ditinggalkan oleh masyarakat. Justru, kini oyek menjadi kuliner favorit yang banyak diburu oleh generasi-generasi daerah tersebut yang kini hidup sebagai kaum urban di kota-kota besar seperti Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bogor, Depok dan sekitarnya.

BACA JUGA: Diskusi dengan JMSI, Dewan Kota Tangerang Sebut Perlu Perda Tentang Kebudayaan

Ketika orang-orang urban ini pulang kampung, nasi oyek menjadi salah satu kuliner yang paling dicari. Bahkan oyek menjadi oleh-oleh atau buah tangan.

Saat ini, harga oyek pun cukup mencengangkan, yang dulunya sangat murah dibandingkan dengan harga beras, kini justru malah sebaliknya. Oyek dengan kualitas bagus harganya bisa mencapai Rp25 ribu per-kilogram.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE