oleh

Egrang Permainan Tradisional yang Sudah Mulai Dilupakan

LENSAPENA | Egrang atau disebut juga jangkungan dikenal sebagai salah satu permainan tradisional anak-anak Indonesia. Egrang sendiri bentuknya seperti tongkat dan terbuat dari sepasang buluh bambu atau kayu yang panjangnya bervariasi, sesuai selera dan kebutuhan. Pada satu sisi diberi tempat untuk pijakan kaki. Bila seseorang berdiri di atas pijakan itu dan mulai berjalan dengan egrang, dia akan lebih tinggi dari orang sekitarnya.

BACA JUGA: Kabareskrim Ungkap Fakta Penggunaan Senpi dan Sajam Laskar FPI


Tak sekadar mainan tradisional yang digemari anak-anak, ternyata egrang juga bisa menjadi jembatan untuk banyak hal; mengolah keseimbangan, kepercayaan diri, menggerakkan roda ekonomi dan pariwisata sampai menjadi alat perdamaian.


Permainan egrang tercatat dalam buku Javanesse Kinder Spellen yang disusun oleh seorang pemerhati anak-anak pada zaman kolonial Belanda, dan disebutkan sebagi salah satu tradisi yang dimiliki Indonesia.

BACA JUGA: Belum Setahun Menjabat Kapolda Banten Irjen Pol Fiandar Dimutasi

Buku yang kini ada di Leiden University, Belanda itu, juga bercerita tentang permainan anak-anak yang berkembang pada masa itu seperti gobak sodor (galah asin/galasin),  kelereng, benteng-bentengan, engklek (gejlik), congklak (dakon), lompat tali, balap karung termasuk egrang dan egrang batok.

Beberapa sumber menyebut bahwa egrang berasal dari bahasa Lampung yang berarti terompah pancung (karena terbuat dari bambu bulat panjang). Di Sumatera Barat dikenal sebagai tengkak (pincang), orang Bengkulu menyebutnya dengan ingkau (sepatu bambu), di Jawa Tengah disebut jangkungan dan di Kalimantan Barat disebut batungkau.

BACA JUGA: Human Rights Day, Ngadino, SH, M.Kn: Menanamkan Nilai-nilai Budaya

Memainkan egrang tidak semudah dilihat karena berhubungan dengan keseimbangan. Jika egrang terlalu tegak namun tubuh tak sempat menyesuaikan diri, maka akan limbung. Sebaliknya jika terlalu condong ke depan, egrang yang awalnya bisa kita kendalikan, dalam beberapa menit akan kehilangan keseimbangan dan jatuh.

Namun, sayang, permainan egrang saat ini mulai tergerus oleh permainan modern, dan mulai jauh dari dunia anak-anak. Beberapa penggiat sosial kini mulai mengenalkan serta melestarikan permainan tradisional tersebut.


BACA JUGA: Polri Cekal Rizieq Shihab dan Tersangka Lainnya ke Luar Negeri

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE