oleh

Geliat Pengrajin Gula Merah Kelapa Sawit di Desa Mekar Jaya

LENSAPENA | Satu batang pohon kelapa sawit yang sudah usang dan tidak produktif, dihargai Rp10 ribu oleh petani. Biaya untuk merobohkan serta membersihkan pucuk batang pohon, serta perlengkapan lain agar bisa disadap untuk diambil niranya, mengeluarkan kisaran Rp40 ribu.

Jadi, butuh anggaran Rp50 ribu perbatang pohon kelapa sawit untuk bisa memproduksi nira sebagai bahan baku gula merah. Satu batang pohon kelapa sawit bisa diambil niranya hanya dalam kurun waktu kurang lebih dua bulan. Karena setelah proses pembusukan, batang pohon kelapa sawit tidak lagi menghasilkan nira.

BACA JUGA: Top Markotop! Kurang dari 12 Jam, Pelaku Penganiaya Dokter Dicokok

Begitulah yang diungkapkan oleh Edi Yuliono (39), salah seorang pengrajin gula berbahan dasar nira dari batang pohon kelapa sawit di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Bangun Rejo, Lampung Tengah. Pria yang saat ini mengelola sekitar 100 batang pohon kelapa sawit ini, mengaku, saat masih produktif dalam satu hari mampu memproduksi sekitar 210 liter nira, dan menghasilkan sekitar 60kg gula merah.

Namun karena saat ini musim penghujan, serta banyak hama jenis kumbang yang hinggap di batang pohon kelapa sawit tersebut, produktivitas menjadi menurun. Dalam satu hari, hanya bisa memproduksi kisaran 70 liter, atau sekitar 20kg gula merah.

“Kalau sekarang sudah menurun (produktivitasnya-red). Soalnya kan juga karena iklim, terus banyak hama kumbang. Kan, berpengaruh juga,” ujar Edi Yuliono, Sabtu 26 Desember 2020.

BACA JUGA: Wakapolri Tinjau Pelabuhan Merak, Ini Penjelasan Kapolda Banten

Gula merah yang dihasilkan sendiri, dijual dengan harga Rp10 ribu per-kg untuk kulitas super, sedangkan kualitas rendah alias lembek hanya diharga Rp8 ribu.

Saat ini, melihat kondisi iklim musim penghujan serta adanya serangan hama kumbang, ditambah semakin menyusutnya jumlah batang pohon yang bisa diambil niranya, gairah pengrajin gula merah kelapa sawit di Desa Mekar Jaya ini, mulai redup.

Mereka hanya berharap, ketika batang-batang pohon kelapa sawit milik perusahaan BUMN yang berada di wilayah tersebut, yaitu PT Perkebunan Nusantara VII Bekri diremajakan, batang pohon yang sudah usang dan tidak produktif bisa dikelola oleh warga. Agar, apa yang saat ini sudah menjadi lahan baru dalam mendulang perekonomian itu, bisa berkelanjutan.

Pemerhati Sosial dan Lingkungan, Widi Hatmoko menilai bahwa ini adalah bentuk inovasi masyarakat di desa tersebut dalam menggali potensi. Menurut Widi, perlu campur tangan dari pemerintah, terlebih jika melihat potensi yang bisa mendulang perekonomian masyarakat. Kata Widi, bisa saja pemerintah di tingkat desa membuat badan usaha milik desa (BUM-des), yaitu dengan menggunakan dana desa untuk pemberdayaan masyarakat.

BACA JUGA: Reses di Mekar Bakti Panongan, Ananta Resmikan Taman Cerdas

Ia mencontohkan, Desa Mekar Jaya bisa saja membuat BUM-Des yang dikerjasamakan dengan perusahaan BUMN perkebunan di wilayah tersebut dalam mengelola batang kelapa sawit yang sudah tidak produktif sebelum proses peremajaan.

“Dengan begini, perekonomian masyarakat juga bisa terangkat. Disamping perusahaan perkebunan PTP Nusantara VII juga kan diuntungkan secara finansial. Tinggal mekanisme kerjasama nanti kayak apa, kan bisa dibuat komitmen-komitmen,” kata Widi Hatmoko.

Jadi, lanjut Widi, anggaran dana desa tidak melulu digunakan untuk pembangunan fisik, tapi juga bisa untuk pemberdayaan ekonomi desa dan juga masyarakatnya.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE