oleh

Korupsi Bantuan RTLH Anak Mantan Anggota Dewan Diciduk Polisi

LENSAPENA | Unit III Tipidkor Satuan Reserse Polres Lebak menjebloskan lima terduga pelaku korupsi bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) ke penjara.

Mereka adalah NTS salah satu anak dari mantan anggota DPR RI Anda, kemudian A, S, UH dan CM.

5 Hektare Ladang Ganja di Sumut Dimusnahkan

Dalam siaran pers yang diterima redaksi, Selasa 08 Desember 2020, kelimanya diduga telah menyalahgunakan bantuan RTLH tahun 2015 dengan anggaran Rp1 miliar.

“Jadi dalam pembangunannya ada pengurangan spesifikasi alias spek, sehingga menimbulkan kerugian negara Rp.551.260.750,” kata Kapolres Lebak, AKBP Ade Mulyana.

Ananta Wahana: Daerah Perbatasan NKRI Jangan Ditelantarkan

“Ini perkara tahun 2016, sekarang sudah tahap dua, jadi kelimanya sudah mendekam di Lapas Rangkasbitung,” tambahnya.

Ade menjelaskan, setiap pelaku memiliki peranan masing-masing. Di mana CM bersama S berperan mengajukan proposal ke Kementerian Sosial, mengelola sebagian dana bantuan yg diterima oleh kelompok penerima.

“CM mengelola sebagaian dana kelompok Mawar 1 dan 2 Desa Sukanegara, Kecamatan Muncang,” terangnya.

Dirpamobvit Polda Banten Monitoring Pengamanan Pilkada di Polsek Pagelaran

Sedangkan NTS berperan mengelola dana bantuan yang diterima kelompok Pasir Kupa 1 dan 2, Kelompok Sangiang Tanjung 1 dan 2 Kecamatan Kalanganyar.

Kemudian, lanjut Ade, A berperan mengelola dana bantuan yang diterima Kelompom Sukamersari 1 dan 2 Kecamatan Kalanganyar.

“Kalau UH berperan mengelola dana bantuan yang diterima Kelompok Cicengal dan Cilubang, Desa Keboncau, Kecamatan Bojong Manik,” terangnya.

Komitmen Beautifikasi Jalan Tol ASTRA Infra Hiasi Hari Bakti ke-75 PUPR

Atas perbuatannya mereka terancam melanggar sebagaimana Pasal 2 ayat (1) Jo. Pasal 3 UU RI No. 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana telah di ubah dalam UU RI No. 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU RI No.31 tahun 1999 tentang pembarantasan tindak pidana korupsi.

Sementara Kasatreskrim Polres Lebak, AKP David Adhi Kusuma didampingi Kanit Tipidkor Ipda Putu Ari Sanjaya membenarkan telah berhasil mengungkap kasus korupsi yang menimbulkan kerugian negara Rp.551.260.750.

OTT Kemensos, PDI Perjuangan: Hormati Proses Hukum KPK

“Sudah tahap 2. Kita sudah serahkan tersangka dan barang buktinya juga. Yang jelas kita akan tindak sesuai dengan aturan yang berlaku,” tandasnya.

Penyerahan tahap 2 tersangka dan barang bukti dugaan kasus korupsi penyalahgunaan dana bantuan rehabilitasi sosial rumah tidak layak huni tahun 2015 ke Kejari Lebak pada Senin 07 Desember 2020 kemarin.

“Pada tanggal 27 November 2020 telah dilakukan penahanan kemudian dilanjutkan dengan tahap 2 penyerahan 5 tersangka beserta barang bukti,” kata Kasat Reskrim Polres Lebak AKP David Adhi Kusuma didampingi Kanit Tipikor Iptu Putu Ari Sanjaya Putra.

Tawes, Ikan Tawar Berwarna Perak Ini Ternyata Kaya ManfaatTawes, Ikan Tawar Berwarna Perak Ini Ternyata Kaya Manfaat

David menerangkan, kelima tersangka itu adalah NT, A, S, UH, dan CM. Total kerugian negara dari dugaan kasus korupsi pada bantuan sosial yang diketahui pada Januari 2016 itu sekitar Rp.500 juta lebih.

“Ada 100 penerima yang dibagi menjadi 10 kelompok dengan total anggaran Rp1 miliar,” katanya.

David menyebut, kelima tersangka yang diserahkan memiliki peran berbeda dalam kasus tersebut.

Ini Pernyataan Jokowi Terhadap Menterinya yang Terlibat Korupsi

“CM berperan mengajukan proposal ke Kementerian Sosial dan mengelola sebagian dana bantuan yang diterima penerima. Sementara NT, A, UH dan S perannya sama mengelola dana bantuan yang diterima penerima,” ungkap David.

Kajari Lebak Nur Handayani melalui Kasi Pidsus Bayu Wibianto menjelaskan, kelima tersangka akan dilakukan penahanan untuk 20 hari ke depan.

Serius “Nguri-uri” Budaya, Ananta Barikan Akte Pendirian untuk Kelompok Seni

“Waktu kelompok mau mengambil uang di bank yang masuk ke rekening mereka, tersangka UH, A dan S disuruh tersangka NT. Setelah uang cair dan ada di tangan mereka, baru uang diserahkan kepada NT selaku koordinatornya,” tandasnya.

Kelima tersangka disebut melanggar Pasal 2 ayat (1) Pasal 3 jo Pasal 18 UU No 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU No 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHP dengan ancaman maksimal 20 tahun penjara.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE