oleh

Minyak Jelantah Masuk dalam Limbah B3, Ini Bahaya dan Solusi Mengatasinya

LENSAPENA | Minyak jelantah atau dalam bahasa Inggris waste cooking oil adalah minyak bekas pemakaian kebutuhan rumah tangga, alias minyak limbah sisa penggorengan.

Minyak jelantah atau minyak limbah bisa berasal dari jenis-jenis minyak goreng seperti halnya minyak jagung, minyak sayur, minyak samin atau jenis minyak goreng lainnya.

BACA JUGA: Lagi, Biddokkes Polda Banten Gelar Rapid Test Antigen di Pelabuhan Merak

Minyak jelantah umumnya dapat digunakan kembali untuk keperluaran kuliner. Namun apa bila ditinjau dari komposisi kimianya, minyak jelantah mengandung senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik, yang terjadi selama proses penggorengan.

Nah, bicara soal minyak jelantah atau minyak sisa penggorengan ini, seorang Analis Kesehatan dari Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Kendari Satya Darmayani, menyebut bahwa penggunaan minyak jelantah secara berulang kali dapat membahayakan kesehatan. Karena senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik pada minyak jelantah adalah zat yang dapat menyebabkan pertumbuhan sel kanker.

BACA JUGA: JMSI Sulsel Siap Bangun Ekosistem Pers yang Sehat dan Profesional

“Penggunaan minyak jelantah berulang kali, lebih dari tiga kali, maka tidak baik bagi kesehatan. Selain itu minyak yang digunakan secara berulang sudah tidak lagi memiliki kandungan gizi,” kata Satya Darmayani.

Menurut Satya Damayanti, minyak jelantah jugq masuk dalam kategori limbah B3, sehingga pembuangannya harus dilakukan dengan benar. Minyak jelantah yang dibuang langsung ke lingkungan memiliki berbagai dampak negatif, di antaranya menjadi beban pencemar Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biochemical Oxygen Demand ( BOD) yang berbahaya bagi lingkungan. Minyak jelantah juga tidak hanya dapat mencemari air, tetapi dapat mencemari tanah serta udara karena baunya yang tidak sedap.

BACA JUGA: Geliat Pengrajin Gula Merah Kelapa Sawit di Desa Mekar Jaya

Salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk meminimalisir limbah B3 minyak jelantah agar tidak mencemari lingkungan adalah dengan cara mendaur ulang minyak jelantah menjadi lilin atau sabun.

“Sabun adalah bahan yang dibuat dengan bahan baku utamanya adalah minyak. Sabun dibuat dengan mencampurkan minyak atau lemak dengan alkali/basa (NaOH atau KOH) melalui proses yang disebut saponifikasi. Metode pembuatannya pun cukup mudah dengan metode Cold Press hanya membutuhkan hand blender atau pengocok telur manual,” paparnya.

BACA JUGA: Reses di Mekar Bakti Panongan, Ananta Resmikan Taman Cerdas

Untuk diketahui, sabun dari minyak jelantah dapat digunakan untuk membersihkan keset, lantai, kamar mandi, mencuci piring, perkakas rumah atau barang-barang lain yang tidak digunakan langsung untuk tubuh manusia.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE