oleh

Pengasuh Sanggar “Jampi Kangen” Ngadino Bicara Soal Budaya

LENSAPENA | Budaya atau kebudayaan tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Karena budaya sendiri merupakan suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi.

5 Hektare Ladang Ganja di Sumut Dimusnahkan

Nah, bicara soal pentingnya budaya, salah seorang pemerhati budaya di Tangerang, Ngadino, SH, M.Kn, menyebut bahwa budaya yang dimiliki oleh bangsa ini sudah mengalami dekadensi, alias nilai kearifan lokal yang seharusnya menjadi kebanggaan bangsa ini, kadarnya sudah mulai menurun. Tentu saja, kata pria yang juga pengasuh sanggar kesenian Jampi Kangen ini, akan berdampak pada moral generasi.

Sambel di Warung Pecel Lele Bang Aming Ini “Nonjok” di Lidah

Bisa dibayangkan, kata Ngadino, secara geografis wilayah Indonesia terdiri dari ribuan pulau dengan 1.340 etnis, serta 718 bahasa daerah yang berbeda. Menurut Ngadino, secara kebudayaan Indonesia sangat beragam. Bahkan menjadi 10 besar negara paling kaya secara alam, karena kekayaan alamnya berlimpah.

Melihat potensi ini, Ngadino menilai bahwa jika generasi muda atau yang lebih beken dengan sebutan generasi milenial tersebut tidak bisa menggali dan melestarikannya, bangsa ini perlahan-lahan akan kehilangan identitas.

Korupsi Bantuan RTLH Anak Mantan Anggota Dewan Diciduk Polisi

“Budaya itu identitas suatu bangsa, kalau kita tidak bisa menggali dan melestarikannya, kita bisa kehilangan identitas itu,” ujar pria yang juga berprofesi sebagai notaris tersebut.

Sebagai upaya untuk tetap melestarikan kebudayaan sebagai identitas bangsa, Ngadino juga getol menggelar berbagai kegiatan seni, terutama seni tradisional. Seperti wayang kulit, seni kontemporer campursari, serta seni tradisional lainnya. Bahkan, Ngadino juga menjadi salah satu penggagas paguyuban Seniman Satu Jiwa atau Sesaji.

Ananta Wahana: Daerah Perbatasan NKRI Jangan Ditelantarkan

Menurutnya, seni musik kontemporer campursari juga menjadi bagian penting dalam pelestarian budaya, terlebih kesenian ini berakar pada seni musik tradisional Jawa, yang di dalamnya terdapat beberapa pesan moral dan filosofi falsafat bangsa Indonesia, yaitu keselarasan dan gotong royong melalui cipta rasa dan karsa.

“Nilai-nilai keselarasan dan kegotong royongan itu ada pada seni musik campursari,” katanya.

Dari situ pula, Ngadino juga mengaku ingin memajukan kreativitas anak-anak muda milenial dan seni budaya di Tangerang. Karena menurut Ngadino, anak-anak muda adalah aset masa depan dalam membangun peradaban.

Sosialisasi 4 Pilar, Ananta Bagikan Pengalaman Saat Jadi Aktivis Hingga Politikus

Belajar hakekat kebenaran dari cerita wayang “Kidung Sudamala”, pria yang saat ini juga sebagai penasehat Persatuan Pedalang Indonesia (Pepadi) Jakarta Barat, serta penasehat antar paguyuban se-Jabodetabek, segala aspek kehidupan itu perlu sentuhan seni dan budaya, termasuk dalam menyelamatkan generasi muda di tengah ancaman dekadensi moral.

Serius “Nguri-uri” Budaya, Ananta Barikan Akte Pendirian untuk Kelompok Seni

Untuk diketahui, sudamala merupakan sebuah kidung yang cukup istimewa karena menampilkan sifat kerakyatan dan memuat berbagai pesan moral bagi manusia di Jagat ini. Kidung ini merupakan sebuah puisi yang popular pada masa Majapahit yang di dalamnya tidak hanya mengambil tokoh-tokoh cerita Mahabarata namun juga memunculkan tokoh-tokoh lokal Jawa. Setting cerita pun dibuat seolah menceritakan Tanah Jawa masa lampau, di mana di dalamnya juga banyak terdapat tauladan dan nasehat.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE