oleh

Pernah Mengalami Ketindihan? Hal Ini Penting untuk Dibaca

LENSAPENA | Ketindihan atau sleep paralysis adalah kelumpuhan tidur, yaitu ketika perasaan seseorang sadar tetapi tidak bisa bergerak.

Dari berbagai penelitian menyebut bahwa empat dari setiap 10 orang pernah mengalami ketindihan. Umumnya ketindihan terjadi pertama kali pada masa remaja. Namun pria dan wanita dari segala golongan usia dapat mengalaminya.

BACA JUGA: Pernyataan Kapolda Banten Ketika Meninjau TPS di Kota Cilegon

Ketindihan sendiri terjadi ketika seseorang melewati antara tahap terjaga dan tidur.

Saat ketindihan biasanya seseorang merasakan seperti tekanan atau rasa tersedak. Pada saat inilah seseorang tidak dapat bergerak atau berbicara selama beberapa detik hingga beberapa menit.

Ketindihan dapat menyertai gangguan tidur lainnya seperti narkolepsi. Narkolepsi adalah kebutuhan tidur yang sangat kuat yang disebabkan oleh ketidakmampuan otak untuk mengatur tidur.

BACA JUGA: Sambel di Warung Pecel Lele Bang Aming Ini “Nonjok” di Lidah

Kapan waktu seseorang mengalami ketindihan?

Ketindihan dapat terjadi sewaktu-waktu . Jika itu terjadi ketika tertidur, disebut kelumpuhan tidur hipnagogis atau predormital. Jika itu terjadi ketika bangun, disebut kelumpuhan tidur hipnopompik atau postdormital.

Kelumpuhan Tidur Hipnagogis

Saat Anda tertidur, tubuh perlahan-lahan masuk ke tahap rileks. Biasanya seseorang menjadi kurang sadar, sehingga tidak menyadari adanya perubahan. Namun, jika tersadar saat tertidur, seseorang mungkin memperhatikan bahwa tidak dapat bergerak atau berbicara.

BACA JUGA: Pengasuh Sanggar “Jampi Kangen” Ngadino Bicara Soal Budaya

Kelumpuhan Tidur Hipnopompik

Selama tidur, tubuh seseorang mengalami pergantian antara tidur Rapid Eye Movement (REM) atau pergerakan mata cepat dan Non Rapid Eye Movement (NREM) atau gerakan mata tidak cepat. Satu siklus tidur REM dan NREM berlangsung sekitar 90 menit. Tidur NREM terjadi pertama dan memakan waktu hingga 75 persen dari keseluruhan waktu tidur. Selama tidur NREM, tubuh rileks dan memulihkan diri. Di akhir NREM, tidur berubah menjadi REM. Mata bergerak cepat dan mimpi terjadi, tetapi bagian tubuh lainnya tetap sangat rileks. Otot “dimatikan” selama tidur REM. Jika tersadar sebelum siklus REM selesai, dapat menyadari bahwa tidak dapat bergerak atau berbicara.

BACA JUGA: Tinjau Korban Banjir di Pandeglang, Ini yang Dilakukan Wakapolda Banten

Lalu, apakah ketindihan merupakan gejala dari masalah serius dalam hidup seseorang?

Dari berbagai sumber menyebut bahwa para peneliti menyimpulkan, dalam kebanyakan kasus, ketindihan hanyalah tanda bahwa tidak terjadi perpindahan yang mulus dalam melewati fase-fase tidur. Ketindihan jarang terkait dengan masalah kejiwaan.

Di berbagai daerah atau belahan dunia, ketindihan kerap dideskripsikan dan dikaitkan dengan kehadiran “roh jahat”.

BACA JUGA: Tambah Kapasitas, Ciputra Hospital CitraRaya Buka Layanan Luka Bakar

Mengutip dari ciputrahospital.com, ternyata faktor-faktor lain yang mungkin terkait dengan kelumpuhan tidur atau ketindihan diantaranya adalah karena kurang tidur, perubahan jadwal tidur, kondisi mental seperti stres atau gangguan bipolar, tidur telentang, masalah tidur lainnya seperti narkolepsi atau kram malam hari, penggunaan obat-obatan tertentu, seperti untuk ADHD, penyalahgunaan zat.

Nah, jika Anda sering memgalami ketindihan, ada baiknya periksakan diri ke dokter. Karena, secara medis dokter bisa membantu menyelesaikan persoalan ini.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE