oleh

Abraham Garuda Laksono (Abe): Banyak Generasi Muda Anggap Pancasila Hanya Simbol

LENSAPENA | Masih banyak masyarakat Indonesia, terutama generasi muda, yang menganggap Pancasila hanya sebagai simbol, tidak mengimplementasikannya dalam kehidupan yang nyata, sehingga tak sedikit dari mereka yang lupa terhadap esensi utama dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila itu sendiri.

Hal ini disampaikan Abraham Garuda Laksono saat hadir menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI oleh Anggota DPR/MPR dari Dapil Banten III, St. Ananta Wahana, SH, di Aula Gedung Vihara Sobhita, Kecamatan Cisauk, Kabupaten Tangerang, Senin 1 Februari 2021.

BACA JUGA: Sinergitas dan Soliditas TNI-Polri, Kapolri: Dari Atas Hingga Level Paling Bawah

“Rata-rata masyarakat Indonesia masih lah simbolik mengenai implementasi Pancasila ini, sehingga ia lupa dengan esense utama dari nila-nilai, dari mimpi-mimpi tidak hanya founding fathers, tapi juga masyarakat Indonesia itu sendiri, baik yang terdahulu bahkan yang sekarang,” ujar mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri Australia di Singapura James Cook University, yang akrab dipanggil Abe, Senin sore.

Dalam kegiatan yang diikuti oleh komunitas Umat Budha, Gereja, serta perwakilan dari seniman dan budayawan di Tangerang itu, sosok milenial generasi Z ini juga menjelaskan, Pancasila tidak sebatas untuk kepentingan elektoral semata. Karena menurutnya, Pancasila merupakan pilar ideologis sekaligus pandangan hidup bangsa Indonesia. Untuk itu, kata Abe, mengimplementasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari menjadi hal yang sangat penting.

BACA JUGA: Pantau Prokes, Panglima TNI dan Kapolri Bagikan Masker di Pasar Tanah Abang

Terlebih di era globalisasi revolusi ke-empat saat ini, dimana hampir semua sektor didominasi oleh teknologi yang serba digital. Jika Pancasila hanya dinggap sebagai simbol dan tidak diamalkan dalam kehidupan yang nyata, ini adalah ancaman besar bagi bangsa Indonesia.

Sebagai generasi Abe juga mengaku salut dan bangga terhadap para founding fathers yang telah membuat Pancasila sebagai dasar negara. Karena tanpa adanya Pancasila sebagai dasar negara, tidak mungkin Indonesia bisa kokoh dan kuat sebagai bangsa. Terlebih, Indoneisa memiliki keberagaman yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain di dunia: Indonesia memiliki ribuan pulau, ribuan suku dan bahasa, serta memiliki beberapa agama yang bisa hidup berdampingan.

“Saya pribadi sangat kagum terhadap para founding father kita, terlebih jika mendengar pidato Bung Karno Bung Karno pada 1 Juni 1945 saat memperkenalkan 5 sila yang kemudian disusun sebagai Pancasila. Hati saya bergetar,”’ katanya.

BACA JUGA: Sastrawan Lampung Elly Dharmawanti Raih Penghargaan Sastra Rancage 2021

Sementara itu, Anggota DPR/MPR RI, Ananta Wahana, mengungkapkan, bicara soal empat pilar, secara konstitusional sebenarnya sudah final, namun secara praktik empat pilar sendiri belum selesai. Ia mencontohkan, masih ada ditemukan orang Indonesia membakar benderanya sendiri, bibit-bibit intolerasni dan fondamentalis masih ada, dan hak asasi manusia masih terus diperjuangkan.

Melihat kondisi ini, Ananta mengatakan bahwa Empat Pilar MPR RI harus terus disosialisasikan kepada masyarakat. Hal tersebut agar masyarakat semakin paham dan mengerti, sehingga mau mengamalkannya sebagai pedoman dalam berbangsa dan bernegara.

“Secara konstitusional bisa disebut Empat Pilar MPR ini sudah lengkap dan selesa, namun secara praktik dan pengamalannya di masyarakat masih perlu terus disosialisasikan. Terbukti dengan adanya kasus pembakaran bendera dan kasus politik identitas,” beber politisi PDI Perjuangan yang telah menerbitkan buku “Melawan Korupsi di Banten” pada tahun 2014 lalu.

BACA JUGA: Jasad Remaja yang Tenggelam di Ciliwung Ditemukan 45 Km dari TKP

Dengan kondisi tersebut menurut Ananta dirinya merasa perlu untuk meminta perwakilan dari tiga generasi untuk mengetahui persepsi dan pandangan mereka tentang Pancasila. Dan, ini ia implementasikan pada kegiatan sosialisasi Empat Pilar RI yang sedang ia laksanakan saat ini.

“Saya sengaja meminta para tokoh sebagai wakil dari 3 generasi untuk berbicara tentang empat pilar,” tandasnya.

Untuk diketahui, tiga generasi yang dimaksud adalah Generasi X yang lahir antara 1961-1980 yang dalam hal ini diwakili oleh Tri Roso, Generasi Y atau milenial yang lahir antara 1981-1994, dan mewakili generasi Z yang lahir antara tahun 1995-2010 yaitu Abraham Garuda Laksono alias Abe.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE