oleh

Ikhtiar Memakmurkan Perpusnas RI Helat Lokakarya Pantun

LENSAPENA | Merayakan pantun yang sudah ditetapkan UNESCO menjadi Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World), Perpustakaan Nasional RI menghelat Lokakarya Koleksi Langka 2021, dengam mengusung tajuk: Pantun.

Lokakarya akan ditaja secara online dari Pukul 08:30 hingga 12:00.WIB, namun untuk penghimpunan pantun peserta ditunggu offline paling lambat sampai dengan Pukul 15:00 WIB.

BACA JUGA: AMP: Persoalan di Papua dan Papua Barat Perlu Perhatian Serius

Perpusnas RI dalam pers rilisnya menerangkan, lokakarya ini akan dibuka oleh Dra. Ofy Sofiana, M.Hum dengan menghadirkan pembicara Drs. Fitra Arda, M.Hum, Dr. Ardoni, Dimas Aditya Nugraha, M.Si dan F.X Domini B.B. Hera.

Pantun adalah tradisi budaya Indonesia ke-11 yang diakui oleh UNESCO melalui Warisan Dunia Tak Benda. UNESCO menilai pantun memiliki arti penting bagi masyarakat Melayu yang telah hidup lebih dari 500 tahun. Bukan hanya sebagai alat komunikasi sosial namun juga kaya akan nilai-nilai.

Dalam upaya tersebut, Layanan Koleksi Langka, Pusat Jasa Informasi Perpustakaan, Deputi Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, Perpustakaan Nasional RI mengimplementasikannya dalam kegiatan Lokakarya Koleksi Langka Perpustakaan Nasional RI tentang Rekam Jejak Perkembangan Pantun di Indonesia.

BACA JUGA: “Sambal Halipu” Kuliner Khas Orang Pesisir Barat Lampung

Sejarawan F.X Domini B.B. Hera salah satu pembicara dalam lokakarya ini mengatakan, pasca Pantun ditetapkan oleh UNESCO menjadi Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World), Indonesia dan segenap masyarakatnya memiliki tanggung jawab dalam pelestariannya.

Hal ini lanjut F.X Domini, membawa angin segar bagi segenap para pelaku kebudayaan pantun di seluruh Nusantara. Terlebih di Jawa Timur dan sebagian wilayah Jawa Tengah, yang memiliki akar tradisi Parikan sebagai pantun jenaka yang populer hadir dalam pertunjukkan Ludruk.

“Parikan yang sangat cair bersifat persoalan keseharian merupakan ekspresi sastra lisan kerakyatan. Parikan juga menjadi bagian dari sejarah dan memori politik pertanda zaman,” terang Sisco panggilan sejarawan yang juga pegiat heritage ini.

BACA JUGA: Enam Drakor Terbaru Ini Bakal Mewarnai Februarimu yang Romantis

Sisco mencontohkan pada saat masa pendudukan jepang ada parikan yang cukup populer, ‘Kenthang karo kubis, Jepang menang wong Jowo ngemis’ (Kentang dan kubis, Jepang menang perang orang Jawa jadi pengemis) maupun ketika revolusi jamak terdengar ‘Kursi goyang sikile papat, Nek berjuang ja golek pangkat (Kursi goyang berkaki empat, Bila berjuang jangan mencari pangkat).

Lokakarya ini terbuka untuk umum dan gratis dengan kuota 1000 peserta. Tersedia e-sertifikat bagi peserta. Untuk peserta yang berminat bisa langsung gabung pada hari –H melalui tautan: s.id/lokakaryapantun dengan ID: 845 9315 0884 dan Passcode: klasika.

“Buah salak, buah Kedondong, Ayuk ayuk, ikut dan ramaikan dong!”

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Suparman (085156250263).

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE