oleh

Ketika Generasi Z “Abraham Garuda Laksono (Abe)” Bicara Soal Pancasila

LENSAPENA | Abraham Garuda Laksono, mahasiswa James Cook University di Singapura ini, usianya masih sangat muda.

Menurut teori ilmu sosiologi, dimana para sosiolog membagi generasi manusia modern dalam beberapa era generasi, remaja yang akrab dipanggil Abe ini, adalah generasi Z, yaitu generasi yang lahir dalam rentang tahun 1995 sampai dengan tahun 2010, yang merupakan generasi peralihan generasi Y, generasi era globalisasi revolusi 4.0.

BACA JUGA: Abraham Garuda Laksono (Abe): Banyak Generasi Muda Anggap Pancasila Hanya Simbol

Jadi tak heran ketika ia masuk sekolah dasar dan melanjutkan ke sekolah menengah pertama, sudah tidak lagi menemukan pelajaran pendidikan moral pancasila, apalagi Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Begitu pun saat meneruskan sekolah menengah atas dan perguruan tinggi, dalam beberapa tahun harus hidup di luar negeri.

Namun ketika bicara soal Pancasila, Abe menyebut bahwa Pancasila merupakan pilar ideologis sekaligus pandangan hidup bangsa Indonesia, yang tidak saja harus diketahui sebagai bagian dari ilmu pengetahuan saja bagi masyarakat Indonesia, tapi juga harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, Pancasila juga tidak sebatas untuk kepentingan elektoral semata, terlebih di era globalisasi revolusi 4.0 saat ini, dimana hampir semua sektor didominasi oleh teknologi yang serba digital. Jika Pancasila hanya dinggap sebagai simbol dan tidak diamalkan dalam kehidupan yang nyata, ini adalah ancaman besar bagi bangsa Indonesia.

BACA JUGA: Sastrawan Lampung Elly Dharmawanti Raih Penghargaan Sastra Rancage 2021

Sebagai generasi Z yang tidak banyak mendapatkan pendidikan Pancasila, Abe mengakui, masih banyak masyarakat Indonesia, terutama generasi muda, yang menganggap Pancasila hanya sebagai simbol, sehingga tak sedikit pula dari mereka yang lupa terhadap esensi utama dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila itu sendiri.

“Rata-rata masyarakat Indonesia masih lah simbolik mengenai implementasi Pancasila ini, sehingga ia lupa dengan esense utama dari nila-nilai, dari mimpi-mimpi tidak hanya founding fathers, tapi juga masyarakat Indonesia itu sendiri, baik yang terdahulu bahkan yang sekarang,” ujar Abe saat ditemui dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Senin 1 Februari 2021 sore, di Tangerang.

Abe mengaku sehari-hari dihadapkan dan bergelut dengan dunia information technology (IT), namun ketika bicara soal keberlangsungan hidup bangsa Indonesia, menurutnya Pancasila sudah teruji: artinya, sebagai negara yang memiliki ribuan kepulauan, suku dan ratusan bahasa daerah, serta keberagaman agama, bisa hidup berdampingan dengan Pancasila sebagai dasar dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

BACA JUGA: Sinergitas dan Soliditas TNI-Polri, Kapolri: Dari Atas Hingga Level Paling Bawah

Dari situlah, kata Abe, sebagai generasi era globalisasi revolusi 4.0, dirinya sangat bangga dan mengagumi para founding fathers yang telah menjadikan Pancasila sebagai dasar negara. Tanpa adanya Pancasila sebagai dasar negara, kata Abe tidak mungkin Indonesia bisa kokoh dan kuat sebagai bangsa.

“Saya pribadi sangat kagum terhadap para founding fathers kita, terlebih jika mendengar pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 saat memperkenalkan 5 sila yang kemudian disusun sebagai Pancasila. Hati saya bergetar,” pungkasnya.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE