oleh

Ruhana Kuddus, Jurnalis Perempuan Pertama Indonesia

LENSAPENA | Berdirinya organisasi profesi wartawan, yaitu Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 9 Februari 1946 menjadi tonggak sejarah peringatan Hari Pers Nasional (HPN), yang setiap tahun dilaksanakan setiap tanggal 9 Februari. Berdirinya PWI ini juga menjadi awal perjuangan Indonesia dalam menentang kolonialisme di Indonesia melalui media dan tulisan.

Pada saat itu, terpilih Mr. Sumanang Surjowinoto sebagai Ketua PWI pertama dan Sudarjo Tjokrosisworo sebagai sekretaris.

BACA JUGA: Gudang Pabrik Indofood di Cikupa Tangerang Terbakar

Nah, selain Mr. Sumanang Surjowinoto dan Sudarjo Tjokrosisworo, ternyata ada satu tokoh perempuan yang disebut-sebut sebagai orang pertama Indonesia yang berprofesi sebagai jurnalis. Adalah Roehana Koeddoes atau dalam ejaan yang disempurnakan Ruhana Kuddus.

Dilansir dari berbagai sumber, perempuan Minang yang lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat 20 Desember 1884, ini diketahui sebagai kakak tiri Soetan Sjahrir Perdana Menteri Indonesia yang pertama, mak tuo atau bibi dari penyair terkenal Chairil Anwar, dan juga sepupu dari H. Agus Salim.

BACA JUGA: Ikhtiar Memakmurkan Perpusnas RI Helat Lokakarya Pantun

Pada tahun 1911, jauh sebelum berdirinya PWI, Ruhana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang. Sambil menggeluti bidang pendidikan yang disenanginya, Ruhana menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia. Ketika surat kabar ini dibredel oleh pemerintah Belanda, Ruhana berinisiatif mendirikan surat kabar, bernama Sunting Melayu, yang tercatat sebagai salah satu surat kabar perempuan pertama di Indonesia.

Putri pasangan Mohamad Rasjad Maharadja Soetan dan ibunya yang bernama Kiam ini, pada tanggal 8 November 2019, dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo dalam sebuah upacara di Istana Negara. Pemberian anugerah dan penghargaan gelar sebagai Pahlawan Nasionala ini, diwakili oleh keluarga ahli waris, yaitu Janeydy, yang merupakan cucu dari Ruhana Kuddus.

BACA JUGA: AMP: Persoalan di Papua dan Papua Barat Perlu Perhatian Serius

Sepak terjang Ruhana dalam memperjuangkan kaum pribumi, diantaranya adalah turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda. Ruhana pun mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Dia juga mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Koto Gadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api.

Hingga ajalnya menjemput, 17 Agustus 1972, Ruhana masih terus berjuang. Termasuk ketika merantau ke Lubuk Pakam dan Medan. Di sana Ruhana mengajar dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Kembali ke Padang, ia menjadi redaktur surat kabar Radio yang diterbitkan Tionghoa-Melayu di Padang dan surat kabar Cahaya Sumatra.

BACA JUGA: Oseng-oseng Kikil Sederhana, Rasanya “Njotos dan Bikin Gobyos”

Ruana Kuddus menghabiskan 88 tahun umurnya dengan beragam kegiatan yang berorientasi pada pendidikan, jurnalistik, bisnis dan bahkan politik. Selama hidupnya ia menerima penghargaan sebagai Wartawati Pertama Indonesia (1974), pada Hari Pers Nasional ke-3, 9 Februari 1987, Menteri Penerangan Harmoko menganugerahinya sebagai Perintis Pers Indonesia. Dan pada tanggal 6 November 2007 pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Jasa Utama.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE