oleh

Ratusan Santri Ponpes Daarul Falahiyyah Ikuti Sosialisasi 4 Pilar

LENSAPENA | Dengan menerapkan protokol kesehatan, ratusan Santriawan dan Santriwati Pondok Pesantren Daarul Falahiyyah Cisoka, Kabupaten Tangerang mengikuti kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di salah satu aula pondok pesantren tersebut, Rabu 14 April 2021.

Dalam kegiatan yang digelar di hari kedua bulan puasa ini, dihadiri oleh Anggota MPR/DPR RI, St. Ananta Wahana, serta KH. Ahmad Imron atau akrab pipanggil Gus Imron selaku pimpinan pondok pesantren, dan Abraham Garuda Laksono, salah seorang tokoh muda Tangerang sebagai naraaumber.

Gus Imron mengatakan, jika di Nahdlatul Ulama (NU), PBNU adalah akronim dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, tapi di empat pilar PBNU adalah Pancasila, Bhineka Tinggal Ika, NKRI dan Undang Undang Dasar 1945.

“Kalau saya pas-paskan, Empat Pilar ini pas dengan PBNU, yaitu Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945,” ujar Gus Imron.

Menyinggung soal Pancasila, Gus Imron menyebut, di dalam roh Pancasila itu terdapat nuansa Islam. Bahkan, menurut Gus Imron, yang ikut merumuskan Pancasila ini sendiri, salah satunya adalah Ulama besar, yaitu KH. Wahid Hasyim, yang juga sebagai Menteri Agama pertama di Indonesia. Jadi, jika ada yang mengatakan Pancasila itu tidak Islami, itu salah besar.

“Pancasila ini juga dirumuskan oleh para Ulama di dalamnya, bagaimana mencari format yang pas agar bangsa ini tidak masuk ke dalam lubang perpecahan,” katanya.

Di hadapan ratusan para santriawan dan santriwati tersebut, Gus Imron mengajak tentang pentingnya menjaga NKRI dan mengimplementasikan nilai-nilai kebhinekaan dalam kehidupan sehari-hari. Karena, Bhineka Tunggal Ika merupakan budaya bangsa yang menjadi cermin sebuah persatuan dalam keberagaman. Di mana di dalamnya mengajarkan tentang kegotong royongan, serta pentingnya menjaga toleransi demi tercapainya kehidupan berbangsa dan bernegara yang rukun dan damai.

Dalam kesempatan ini, Anggota MPR/DPR RI Ananta Wahana, mengungkapkan, di tengah kemajuan teknologi saat ini, ancaman terhadap keutuhan bangsa dan dekadensi moral lewat media sosial sangat rentàn.

“Di era globalisasi sekarang ini, pastinya tidak sedikit gangguan yang dihadapi Negara Indonesia, terutama lewat media sosial dengan masuknya paham dari luar yang dapat mengancam keutuhan NKRI dan keberagaman yang sudah ada sejak lama,” papar Ananta.

Untuk itu, kata politisi PDI Perjuangan tersebut, penerapan Empat Pilar Kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari dinilai sangat penting sebagai pedoman untuk membangun karakter bangsa. Ia juga mengajak para santri agar terus menjaga dan menguatkan nilai-nilai Empat Pilar MPR RI. Sebab ilai-nilai yang terkandung dalam Empat Pilar itu sangat penting dalam menjaga keutuhan Bangsa dan Negara Indonesia.

“Sosialisasi dan penerapan pilar-pilar kebangsaan harus terus dilakukan agar pengaruh-pengaruh buruk dari luar dapat dihalau. Terutama pengaruh-pengaruh yang menyebabkan timbulnya radikalisme dan terorisme,” tandasnya.

Ananta juga mengungkap tentang keislaman Bung Karno, di mana sejak muda Ia dekat dengan ulama, bahkan berguru dengan salah satu tokoh ulama terkemuka saat itu, yakni H.O.S Tjokroaminoto. Bahkan, ketika Bung Karno diundang oleh pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev, ke negara tersebut, dirinya akan mengabulkan permintaan tersebut dengan satu syarat, bisa menemukan makam ulama Imam Bukhar di Samarkand, Uzbekistan. Khrushchev enggan, tapi Bung Karno bersikeras.

Akhirnya, lokasi makam Imam Bukhari berhasil ditemukan lagi meski dalam keadaan terlantar. Untuk menyambut dan menyenangkan hati Bung Karno, makam perawi hadis terkemuka itu direnovasi. Dan, ketika akhirnya Bung Karno memenuhi undangan Khrushchev, ia menyempatkan diri berziarah ke makam tersebut.

Setelah dipugar, kompleks makam Imam Bukhari kini terlihat sangat megah. Sehingga, kompleks makam seluas 10 hektare ini menjadi wisata bagi umat Islam di dunia setelah makam Nabi Muhammad SAW di Madinah.

Menurut Ananta, apa yang dilakukan oleh Bung Karno itu adalah sebagai bentuk kecintaannya terhadap Islam dan para ulama.

Sebagai salah satu narasumber, Abraham Garuda Laksono mengaku sangat kagum kepada para pendiri bangsa yang telah mampu merumuskan nilai-nilai luhur Bangsa Indonesia, yang salah satunya melalui Pancasila. Menurutnya, meskipun telah dibuat puluhan tahun lalu, namun apa yang terkandung dalam Pancasila hingga saat ini tetap kontekstual di masa modern.

Remaja yang akrab dianggil Abe ini juga mengajak para santri untuk terus menggali nilai-nilai luhur yang ada dalam Pancasila, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Sebagai generasi muda kita harus terus memegang teguh nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi negara kita Indonesia yakni Pancasila,” pungkasnya.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE