oleh

Patroli di Masa PPKM Polda Banten Sita 24.000 Obat-obatan Daftar G

LENSAPENA | Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Banten berhasil menyita 24.000 obat-obatan daftar G. Hal ini dilakukan saat menggelar patroli di tengah Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Direktur Reserse Narkoba Polda Banten, Kombes Pol Martri Sonny, menjelaskan, pihaknya juga menangkap tiga orang pengedar obat tersebut di depan Stasiun Kereta Api Rangkasbitung.

“Ketiga tersangka tersebut yakni S R dan M diamankan dengan menyita puluhan ribu obat terlarang,” ujat Kombes Pol Martri Sonny, saat Konferensi pers, Jumat 23 Juli 2021.

Menurut Martri Sonny kejadian berawal saat kegiatan PPKM darurat di wilayah hukum Polda Banten Tim Opsnal Subdit III Ditresnarkoba Polda Banten melaksanakan pemantauan kegiatan masyarakat di wilayah Rangkas Bitung-Lebak yang berlokasi di Stasiun Kereta Api Rangkas Bitung-Lebak pada Senin 19Juli 2021 lalu.

“Saat melakukan pemantauan Tim Opsnal Subdit III Ditresnarkoba Polda Banten melihat dua orang yang mencurigakan di depan stasiun sambil menggendong tas besar. Saat digeledah, di dalam tas ransel ditemukan obat jenis Tramadol dan Hexymer dalam jumlah yang sangat banyak.

Dalam penangkapan tersebut diamankan barang bukti puluhan ribu obat yang terdiri dari 14.000 butir Tramadol, 10.000 butir Hexymer dan dua buah tas gendong yang digunakan pelaku untuk membawa obat-obatan terlarang itu.

“Dari hasil pemeriksaan, para pelaku mengaku mendapatkan obat-obatan dari bosnya yakni M yang merupakan pemilik toko obat di Jakarta. Selanjutnya tim melakukan penyelidikan dan diamankan M pemilik toko obat tersebut,” katanya.

Sementara itu Kabid Humas Polda Banten, Kombes Pol Edy Sumardi, menyampaikan bahwa barang tersebut dibawa dari Jakarta menggunakan ojek motor dan akan diserahkan kepada pemesan yang ada di daerah Rangkas Bitung

“Para pelaku juga mengaku melakukan hal tersebut yaitu untuk mendapatkan upah dari mengantarkan obat-obatan terlarang dari bosnya M dikarenakan sulitnya mendapatkan pekerjaan,” ungkap Edy Sumardi.

Edy sumardi menyebutkan para pelaku dikenakan Pasal 196 dan/atau Pasal 197 UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Sebagaimana Telah Diubah dengan UU RI nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja Bab III Paragraph 11 Pasal 59, 60 Jo angka 10 Jo 55 KUHPidana

“Para Pelaku Pidana penjara paling singkat 10 tahun, paling lama 15 tahun dan denda paling sedikit Rp 100 juta dan paling banyak Rp1,5 milyar,” tandasnya.

Edy Sumardi juga mengajak dan mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk menjauhi Narkoba dan obat-obatan terlarang, serta dapat melaporkan ke pihak berwajib apabila mengetahui ada penyalahgunaan Narkoba.

“Kami mengajak kepada masyarakat untuk berperang melawan Narkoba, hindari Narkoba dan mohon peran aktif masyarakat, agar bisa membantu Polisi dalam berantas Narkoba dengan cara melaporkan ke Polisi terdekat, mengawasi prilaku anak-anak kita dan awasi rumah-rumah kontrakan yang rawan digunakan sebagai tempat penyalahgunaan Narkoba,” pungkasnya.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE