oleh

AKBP Shinto Silitonga: Reserse dan Humas Sama-sama Mengumpulkan Fakta

LENSAPENA | Kehumasan dan reserse memiliki persamaan, yaitu sama-sama mengumpulkan fakta. Hanya saja, jika di reserse mengumpulkan data untuk penegakan hukum, di kehumasan lebih kepada bagaimana mengumpulkan data sebagai sumber informasi untuk menciptakan suasana yang aman dan kondusif.

Hal ini dikatakan AKBP Shinto Bina Gunawan Silitonga saat bertemu dengan pengurus Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Provinsi Banten beberapa waktu lalu.

Dari situlah, kata pria yang memiliki nama lengkap Shinto Bina Gunawan Silitonga dan saat ini menjabat sebagai Kabid Humas Polda Banten mengaku tertantang saat masuk ke bidang kehumasan. Shinto akan terus memperdalam jurnalisme kepolisian. Di samping itu juga akan mengajak anggota Polda Banten bermedsos ria.

“Saya akan mengajak anggota Polda Banten untuk bermedsos ria. Ada kata ria, yaitu punya kesenangan hati,” kata perwira menengah yang pernah menjabat sebagai Kasatreakrim di Polresta Tangerang dan Polrestabes Surabaya ini, seraya tersenyum.

Dengan begitu, kata Shinto, dengan jumlah personel Polda Banten yang mencapai ribuan, bisa menangkal hoaks yang tersebar di media sosial.

Pada pertemuan itu, Shinto pun membagikan pengalamannya saat bertugas sebagai reserse. Menurutnya, bertugas sebagai reserse merupakan tantangan tersendiri. Perlu ketelitian dan intensitas di lapangan untuk mengungkap kasus kejahatan.

Bahkan, selama bertugas bisa berhari-hari jauh dari keluarga, tidak mandi, dan hanya mengenakan pakaian seadanya secara berulang.

“Ada kepuasan tersendiri ketika bisa mengungkap peristiwa,” katanya.

Shinto mengaku, dirinya langsung bertugas sebagai reserse setelah lulus Akademi Kepolisian (Akpol) pada tahun 1999 silam.

Saat menjabat sebagai Kasatreskrim Polresta Tangerang dan berpangkat Komisaris Polisi (Kompol) pada 2013, pria berusia 43 tahun ini membongkar eksploitasi manusia di pabrik panci di Sepatan Timur.

Pelakunya akhirnya divonis 11 tahun penjara.

“Kasus itu langsung jadi sorotan publik karena sisi humanismenya tinggi. Jadi bahan diskusi di acara televisi nasional juga,” katanya.

Setelah itu, Shinto bertugas sebagai Kapolsek Sawah Besar, Jakarta, selama satu tahun.

Dia kemudian bertugas menjadi Wakasat Narkoba Polres Jakarta Barat sebelum menempuh pendidikan di Sespimmen Polri selama tujuh bulan.

Pada 2016, Shinto bertugas sebagai Kabagopsnal Ditreskrimsus Polda Jawa Timur dengan pangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP).

Enam bulan kemudian, pria asal Medan, Sumatera Utara, ini menjabat sebagai Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya.

Selama satu tahun dua bulan menjabat Kasat Reskrim, Shinto mengungkap pesta seks sesama jenis di sebuah hotel.

Selain itu, dia mengungkap kasus pencurian 88 unit Mitsubishi L300 yang hilang dalam setahun.

“Ini yang berkesan karena melihat pencurian mobil dalam satu tipe yang sama. Jumlahnya sampai 88 unit,” ucap Shinto.

Dia lalu mendapat kepercayaan menjadi Kapolres Gowa, Sulawesi Selatan.

Selama menjabat, Polres Gowa mendapat penghargaan Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dari Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi pada akhir 2018.

“Satu-satunya Polres di Sulawesi Selatan yang meraih predikat WBK. Itu hasil kerja keras,” katanya.

Shinto kemudian bertugas sebagai Kasubbagopinev Bagpenum Ropenmas Divisi Humas Polri pada akhir 2019 dan Kasubbagopsnal Dittipidum Bareskrim Polri pada 2020. Dan, pada 5 Agustus 2021, dia dilantik sebagai Kabid Humas Polda Banten.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE